Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Pendidikan Inklusi bagi Warga Agar makin Berdaya

Lilik Darmawan
05/2/2026 18:40
Pendidikan Inklusi bagi Warga Agar makin Berdaya
Peserta didik PKBM Argowilis mendapat pelajaran keterampilan memproses kopi.(Dok OKBM Argowillis)

KISAH tragis terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada saat Y, 10, mengakhiri hidupnya. Ia meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya yang intinya adalah meminta maaf dengan bahasa lokal. Sebelum peristiwa itu, Y sempat meminta buku dan pena, namun ibunya tak dapat membelikan lantaran tidak punya uang.

Apa yang terjadi di Ngada tersebut membuat dada sesak, karena ternyata kemiskinan itu nyata, bahkan untuk membeli buku dan pena saja tidak sanggup. Kemiskinan memang masih menjadi persoalan serius, terutama di desa-desa pinggiran. Kenyataan itulah yang membuat para pemuda di Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah tergerak untuk melakukan pemberdayaan. Desa Sokawera adalah salah satu desa terakhir di lereng Gunung Slamet juga bergelut dengan berbagai keterbatasan.

Para pemuda dan warga yang merupakan Kelompok Tani Hutan (KTH) Argowilis mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Argowilis.

“Kami memulai dari KTH yang berdiri tahun 1999. Setelah berjalan delapan tahun, KTH mendirikan PKBM. Waktu awal pendirian, memang fokus bagaimana mengentaskan buta aksara. Jadi, para anggota KTH bersama-sama belajar melalui Kelompok Belajar (Kejar). Siswanya tidak hanya anak muda, tetapi juga para penderes dan petani hutan yang sudah sepuh,” jelas Direktur Yayasan PKBM Argowilis Abidin pada Selasa (3/2) lalu.

Pendidikan Inklusif

Kehadiran PKBM Argowilis menjadi pelita bagi masyarakat pinggiran hutan yang rentan. Kebanyakan masyarakat sekitar hutan dari kalangan tidak mampu secara ekonomi dengan tingkat pendidikan yang rendah.

“Karena itulah, kami betul-betul menghadirkan pendidikan yang inklusif dengan menjangkau seluruh generasi. Jadi, dari pendidikan inilah, kami berharap akan ada upaya-upaya pemberdayaan dengan memanfaatkan sumber daya hutan. Konsepnya pendidikan berbasis agroforestri. Di dalamnya diselipkan pendidikan konservasi, menjaga dan melestarikan hutan namun warga tetap dapat mengambil manfaatnya,” jelasnya.

Sejak awal berdiri, PKBM Argowilis menerapkan pendidikan gratis. Hanya, pada saat awal pendaftarannya membawa hasil bumi. Menurut Abidin, ada makna lebih mendalam dari PKBM Argowilis yang mengusung konsep, sekolahku adalah rumahku, alam dan lingkungan adalah guruku, pengabdian kepada Tuhan adalah ibuku.

“Hasil bumi yang dibawa nantinya juga akan kembali ke peserta didik lagi,” kata Abidin.

Adaptasi Zaman

Dalam kurikulumnya, PKBM tetap mengacu pada kurikulum nasional wajib yang diajarkan mulai Kamis, Jumat, dan Sabtu. Yang tidak kalah penting dan sebagai penjawab kebutuhan pendidikan masyarakat lokal ada soft skill serta keterampilan. 

Misalnya mulai dari pertanian, peternakan, hadroh, dan bahkan sekarang ada keterampilan di dunia digital. Semua keterampilan itu sudah ada laboratoriumnya. Misalnya saja peternakan, telah ada laboratorium lapangan ternak yang dapat dipelajari secara langsung. Mulai dari pemeliharaan, pembuatan pakan, dan lainnya.

“Kami beradaptasi dengan perkembangan zaman, agar PKBM juga menjangkau kebutuhan Generasi Z. Mulai tahun 2025, kami membuka Argowilis Creative Lab yang berisi mengenai peningkatan kemampuan di dunia digital. Inilah yang menjadi salah satu daya tarik bagi Generasi Z,” tambah Abidin.

Salah seorang siswa yang sempat putus sekolah dari MTs dan masuk ke PKBM Argowilis, Iqbal, 15, mengatakan bahwa dirinya lebih cocok bersekolah melalui Kejar Paket B. 

“Saya awalnya putus sekolah di kelas 9 dari MTs. Tetapi kemudian saya merasa membutuhkan ijazah dan pendidikan, sehingga akhirnya masuk ke PKBM Argowilis. Dan ternyata di sini saya merasa cocok. Ada pendidikan keterampilan konten kreatif digital,” katanya.

Salah seorang alumni dari PKBM Argowilis, Parsini, kini aktif dalam gerakan pengentasan stunting di desa setempat. Ia aktif di Rumah Anak Sigap (Siapkan Generasi Anak Berprestasi) yang bertransformasi menjadi Bina Keluarga Balita (BKB) Kartini yang memberikan edukasi kepada para ibu agar anaknya tidak stunting. “Nah, karena saya memberikan pengajaran, waktu itu masih lulus SMP. Kemudian, saya meneruskan melalui PKBM Argowilis. Bahkan, setelah itu kuliah satu tahun dan 

mendapatkan sertifikat guru pendamping. Meski saya tidak meneruskan sampai D3 atau S1, tetapi ternyata ijazah dari PKBM bisa dipakai untuk kuliah,” ujar dia.

Kepala Sekolah PKBM Argowilis Isrodin menambahkan PKBM sesungguhnya merupakan kehadiran negara untuk melayani masyarakatnya utamanya di bidang pendidikan. 

“Pendidikan itu harus inklusif yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk di dalamnya adalah warga pinggiran hutan. Mereka juga perlu mendapat pendidikan yang layak dan berkualitas. Nah, yang perlu menjadi fokus adalah tidak hanya pendidikan formalnya berisi pengetahuan saja, tetapi juga bagaimana memberdayakan warga melalui hulu sampai hilir berbasis sumber daya lokal. Misalnya saja bagaimana memberikan keterampilan mengenai kopi,” katanya.

Menurut Isrodin, PKBM tidak hanya berusaha menjawab soal pendidikan, tetapi juga harus hadir memberikan peluang kerja bagi warga berbasis sumber daya lokal.

“Saat ini, kami tengah mengembangkan budi daya kopi yang merupakan implementasi dari agroforestri. Untuk peserta didik Kejar Paket C atau setara SMA, mereka belajar mengurus pengembangan wisata dan kopi. Sehingga harapannya, mereka dapat menjadi sociopreneur mulai mengurus kopi dari hulu sampai hilir. Peserta didik diajari budi daya kopi, pemrosesan, pengepakan, penjualan, sampai bagaimana meramu kopi atau barista. Ini sesuai dengan sumber daya lokal di kawasan lereng selatan Gunung Slamet yang potensial untuk kopi robusta,” katanya.

Sinergitas 

Keberadaan PKBM Argowilis merupakan bagian penting untuk menyukseskan program-program Pemkab Banyumas yang telah dicanangkan oleh Bupati Sadewo Tri Lastiono. Kegiatan yang masuk dalam program Trilas yakni visi-misi pembangunan Kabupaten Banyumas periode 2025-2029, salah satunya adalah Program Pasti Sekolah.

“Program ini bertujuan memastikan anak-anak putus sekolah harus kembali ke sekolah. Salah satu penopangnya adalah PKBM dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Dinas Pendidikan mempunyai program SIPATAS atau Semangat Penanganan Anak Putus Sekolah di Banyumas. Data tahun 2025 menyebutkan, ada sekitar 13 ribu anak putus sekolah. Ini yang bakal dituntaskan,” tegasnya.

Program Trilas lainnya adalah pengentasan kemiskinan dan terciptanya sentra pengusaha di setiap kecamatan. 

“Kami mengharapkan ada sentra-sentra pengusaha berbasis sumber daya lokal di antaranya adalah regenerasi petani. Ini tentu saja juga akan dapat mengangkat potensi ekonomi sehingga mampu mengentaskan kemiskinan di Banyumas. Saya kira pendidikan keterampilan yang mendorong pengembangan potensi lokal seperti budi daya kopi akan dapat meningkatkan perekonomian yang muaranya adalah pengentasan kemiskinan,” jelas Bupati.

Di sisi lain, program-program Pemkab Banyumas juga selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang merupakan kesepakatan global dan nasional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

“Tentu saja, program yang kami laksanakan seluruhnya agar masyarakat Banyumas produktif, adil, dan sejahtera,” tandasnya. (LD/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik