Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

12 Negara Pemilik Pantai Samudera Hindia Bertemu di Bali Bahas Keberlanjutan Ikan Tuna

Arnoldus Dhae
30/1/2026 20:17
12 Negara Pemilik Pantai Samudera Hindia Bertemu di Bali Bahas Keberlanjutan Ikan Tuna
30th Session of the Coastal States Alliance (CSA 030).(Dok. CSA 030)

SEBANYAK 12 negara pemilik pantai yang ada di Samudera Hindia menggelar pertemuan 30th Session of the Coastal States Alliance (CSA 030) 30-31 Januari 2026 di Kuta Bali. Coastal States Alliance (CSA) merupakan wadah negara-negara pantai di Samudra Hindia untuk mendorong tata kelola sumber daya ikan beruaya atau ikan yang bermigrasi seperti ikan tuna jadi jauh yang adil, berkelanjutan, dan berbasis aturan, khususnya dalam kerangka kerja Indian Ocean Tuna Commission (IOTC). 

Pertemuan dibuka langsung oleh Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan. Hadir dalam pertemuan tersebut selain perwakilan dari 12 negara pantai di Samudera Hindia, juga dihadiri oleh Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan Lotharia Latief, Forkompinda Bali dan undangan lainnya. 

Saat dikonfirmasi usai seremonial pembukaan, Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan Lotharia Latief mengatakan, 12 negara yang ada di Samudera Hindia harus memiliki visi yang sama dalam melestarikan dan meningkatkan sumber daya ikan tuna di masing-masing negara. Ke-12 negara tersebut antara lain Banglades, India, Indonesia, Iran, Malaysia, Maladewa, Madagaskar, Mozambik, Pakistan, Somalia, Afrika Selatan dan Sri Lanka. 

"Kita tahu kalau tuna itu selalu bergerak bebas kemana saja di laut lepas. Untuk itu semua negara harus bertemu untuk menyatukan persepsi yang sama agar sumber daya tuna agar tetap terjaga baik dari sisi volume dan pelestarian," ujarnya. 

Ia menjelaskan, kali ini pertemuan yang ke-30 dari anggota CSA. Melalui forum ini, negara-negara pantai berupaya memperkuat saling pengertian, mengidentifikasi area konvergensi, serta berkontribusi secara konstruktif dalam pembahasan alokasi. Selain itu pertemuan ini juga dihadiri oleh perwakilan organisasi internasional pendukung, yaitu Sustainable Fisheries and Communities Trust (SFACT), International Pole and Line Foundation (IPNLF), Sekretariat CSA, Gubernur Bali, Kementerian Luar Negeri dan pejabat terkait lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jumlah peserta mencapai 50 orang. 

Sidang ini diselenggarakan untuk menguatkan koordinasi negara-negara anggota khususnya dalam menghadapi pertemuan yang akan diselenggarakan oleh IOTC dalam rangka mengamankan kepentingan nasional negara pantai dan bernegosiasi dengan Distant Water Fishing Nations (DWFN) sehingga memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Salah satu keluaran utama pertemuan ini adalah deklarasi Joint Statement mengenai pembentukan CSA. Pertemuan ini juga menjadi kesempatan untuk menjaga momentum, memperkuat solidaritas di antara negara-negara pantai, serta meningkatkan koordinasi menjelang pertemuan IOTC. 

Sidang ini juga mendukung kemajuan berkelanjutan menuju penguatan kelembagaan CSA, termasuk pengaturan tata kelola yang praktis, mekanisme operasional, serta peta jalan menuju penandatanganan MoU pada Ocean Impact Summit 2026 yang juga akan  diselenggarakan di Bali, pada Juni 2026. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya