Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

West Java Traincation, Masa Depan Inovasi Pariwisata Berbasis Design Thinking

Despian Nurhidayat
31/12/2025 17:54
West Java Traincation, Masa Depan Inovasi Pariwisata Berbasis Design  Thinking
Ilustrasi(Dok Istimewa)

TANTANGAN sektor pariwisata dan kebudayaan hari ini tidak lagi sederhana. Perubahan perilaku wisatawan, tuntutan pengalaman yang semakin personal, percepatan digitalisasi, serta kebutuhan akan dampak ekonomi lokal yang nyata menuntut pendekatan kebijakan yang lebih adaptif dan relevan. Di tengah kompleksitas tersebut, inovasi tidak lagi cukup dimaknai sebagai program baru, tetapi sebagai cara berpikir baru dalam merespons kebutuhan masyarakat. 

Dalam konteks ini, berbagai inisiatif yang dikembangkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai capaian program, tetapi sebagai praktik inovasi yang berangkat dari pemahaman terhadap manusia. Salah satunya adalah inovasi West Java Traincation, yang menghadirkan perspektif baru dalam memaknai perjalanan wisata. 

Kepala Disparbud Jawa Barat Lendra Sofyan menjelaskan, gagasan West Java Traincation tidak hanya memanfaatkan kereta sebagai akses transportasi, tetapi juga sebagai objek wisata. Disparbud Jabar juga berencana menghadirkan pengalaman unik selama perjalanan, termasuk kemungkinan menghadirkan gerbong tematik yang ramah keluarga. 

Jika selama ini, perjalanan sering diposisikan sekadar sebagai sarana menuju destinasi, West Java Traincation membalik cara pandang tersebut dengan menjadikan perjalanan kereta api sebagai bagian integral dari pengalaman wisata itu sendiri. Kereta tidak lagi hanya alat transportasi, tetapi medium cerita, promosi, dan pengalaman. 

Menelisik Inovasi Wisata West Java Traincation dari Kacamata Wisatawan 

Fiter Bagus Cahyono, konsultan inovasi sekaligus Founder PT Investasi Inovasi Indonesia (Innovesia) menjelaskan, West Java Traincation menunjukkan keberanian untuk memulai inovasi dari empati terhadap pengalaman wisatawan, hal ini selaras dengan pendekatan Design Thinking. 

“Wisatawan urban hari ini tidak hanya mencari tujuan, tetapi juga proses yang menyenangkan, praktis, dan berkesan. Kejenuhan terhadap promosi pariwisata yang normatif mendorong kebutuhan akan pendekatan yang lebih imersif dan human-centered,” ujar Fiter Bagus. 

Menurut Fiter Bagus, inovasi seperti West Java Traincation tidak lahir dari pertanyaan “program apa yang bisa dibuat”, melainkan dari pertanyaan yang lebih mendasar, bagaimana wisatawan merasakan perjalanan mereka? Pendefinisian masalah semacam ini menjadi fondasi penting dalam Design Thinking—karena inovasi yang berdampak hampir selalu berangkat dari cara mendefinisikan masalah yang tepat. 

West Java Traincation juga mencerminkan pola pikir kolaboratif lintas sektor. Dengan melibatkan transportasi publik sebagai medium pariwisata, inovasi ini menunjukkan bahwa solusi tidak selalu harus lahir dari pembangunan infrastruktur baru, melainkan dari optimalisasi aset yang sudah ada. Pendekatan ini tidak hanya efisien, tetapi juga membuka ruang replikasi dan pengembangan ke rute, momen, atau konteks lain. 

Membaca West Java Traincation dari perspektif Design Thinking, menurut Fiter Bagus, memperlihatkan satu benang merah penting: inovasi yang efektif lahir ketika kebijakan dibangun dengan empati dan diuji secara nyata, baik di level pengalaman publik maupun di level sistem internal. 

“Dalam konteks sektor publik, Design Thinking bukanlah metodologi eksklusif milik sektor swasta atau dunia kreatif. Ia adalah bahasa bersama untuk menyatukan kompleksitas—antara kebutuhan masyarakat, keterbatasan anggaran, dinamika birokrasi, dan tuntutan dampak kebijakan. Ketika inovasi dipandang sebagai proses belajar yang berkelanjutan, maka kegagalan bukan ancaman, melainkan sumber pembelajaran,” ujar Fiter Bagus. 

West Java Traincation menunjukkan bagaimana empati dapat diterjemahkan menjadi pengalaman yang bermakna bagi wisatawan.  

Menuju Pariwisata dan Kebudayaan yang Lebih Human-Centered 

Membaca inovasi Disparbud Jabar melalui perspektif Design Thinking membuka ruang dialog yang lebih luas tentang masa depan pariwisata dan kebudayaan. Ketika empati menjadi titik awal, kolaborasi menjadi pendekatan, dan pembelajaran menjadi budaya, inovasi tidak lagi berhenti sebagai program, melainkan tumbuh sebagai sistem yang hidup. West Java Traincation memberi gambaran bahwa arah tersebut bukan wacana, tetapi sudah mulai dipraktikkan.  

Meski begitu, menurut Fiter Bagus, empati ini masih sangat bergantung pada asumsi dan observasi umum. Tantangan ke depan adalah bagaimana pengalaman wisatawan tersebut dapat dipahami secara lebih sistematis: apa yang paling berkesan, bagian mana yang benar-benar memberi nilai tambah, dan bagaimana pengalaman tersebut memengaruhi keputusan berwisata selanjutnya.  

“Melalui pendekatan Design Thinking, proses immersion dapat diperdalam, sehingga West Java Traincation tidak hanya menjadi program yang menarik, tetapi juga menjadi sumber insight berkelanjutan bagi pengembangan pengalaman wisata lainnya,” ujarnya. 

Refleksi ini menjadi pengingat bahwa di tengah kompleksitas tantangan, inovasi yang paling relevan adalah inovasi yang mendekatkan kebijakan pada manusia, serta menjadikan pengalaman sebagai dasar pengambilan keputusan. Dari sanalah pariwisata dan kebudayaan Jawa Barat dapat terus berkembang—adaptif, inklusif, dan berkelanjutan. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya