Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Bencana hidrometeorologi berupa banjir dan angin kencang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dalam beberapa hari terakhir.
Akibat curah hujan tinggi yang memicu luapan sungai-sungai besar, ribuan rumah di dua kabupaten, yakni Kabupaten Banjar dan Hulu Sungai Utara (HSU), terendam banjir dan melumpuhkan aktivitas keseharian warga.
Berdasarkan data Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Kamis (25/12), Kabupaten Banjar menjadi salah satu wilayah terdampak cukup parah.
Plt Kepala BPBD Kabupaten Banjar, Yayan Daryanto, melaporkan banjir melanda 26 desa di lima kecamatan, yakni Martapura, Martapura Barat, Martapura Timur, Astambul, dan Sungai Tabuk. Sebanyak 2.363 rumah yang dihuni oleh 6.464 jiwa terendam dengan ketinggian air yang bervariasi.
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Banjir dilaporkan merendam 33 desa di enam kecamatan, meliputi Amuntai Selatan, Amuntai Tengah, Haur Gading, Sungai Pandan, Bajang, dan Babirik. Selain merendam 1.281 rumah warga, luapan air juga menggenangi berbagai fasilitas umum, perkantoran, tempat ibadah, sekolah, hingga akses jalan sepanjang lima kilometer.
Selain banjir, cuaca ekstrem juga memicu angin kencang di wilayah Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut, yang mengakibatkan 11 rumah warga mengalami kerusakan ringan hingga berat. Fenomena angin kencang ini sebelumnya juga telah merusak 17 rumah di Kabupaten Banjar, menambah daftar kerugian materiel akibat cuaca ekstrem di pengujung tahun.
Menanggapi situasi tersebut, Pemprov Kalsel melalui BPBD terus menggenjot langkah-langkah strategis untuk meningkatkan mitigasi bencana. Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalsel, Bambang Dedi Mulyadi, mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah sedang fokus memperkuat keberadaan Desa Tangguh Bencana (Destana).
Hingga kini, tercatat telah terbentuk 168 Destana di 7 kabupaten/kota, yang terdiri dari 33 Desa Tangguh Utama, 59 Desa Tangguh Madya, dan 80 Desa Tangguh Pratama.
“Periode akhir tahun ini bertepatan dengan puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung hingga Januari 2026. Hal ini menempatkan Kalsel pada risiko tinggi bencana hidrometeorologi, baik itu banjir, angin puting beliung, maupun rob,” jelas Bambang.
Selain penguatan Destana, Pemprov Kalsel juga berkolaborasi dengan BNPB untuk memperkuat Sistem Peringatan Dini (EWS) serta menyusun Dokumen Rencana Kontingensi (Renkon) menghadapi potensi ancaman gelombang pasang atau rob di tahun 2025. (DS/P-5)
Filosofi siaga sebelum bencana harus menjadi budaya kerja sekaligus budaya hidup
Di area permukiman, tim Brimob bergotong royong bersama TNI dan BNPB membersihkan tiga rumah warga terdampak.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam mengatasi medan yang terisolasi.
Gakkum juga menyiagakan kanal pengaduan 24 jam
BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved