Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Kesaksian dari Balik Loteng Meureudu: Bertahan di Antara Kayu Gelondongan dan Lumpur Pekat

Fajri Fatmawati
18/12/2025 17:54
Kesaksian dari Balik Loteng Meureudu: Bertahan di Antara Kayu Gelondongan dan Lumpur Pekat
.(Fajri Fatmawati)

Di bawah langit Meureudu yang gelap, Asyraf (14) melihat maut datang dalam bentuk kayu-kayu gelondongan besar yang bergulung. Dari atas loteng rumahnya yang nyaris remuk, ia menyaksikan bagaimana alam berubah menjadi pasukan perusak, mengubah ruang hidupnya menjadi tumpukan lumpur dan kenangan yang terkubur dalam sekejap.

Bencana banjir bandang yang menerjang Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, pada Kamis (18/12) dini hari pukul 03.00 WIB, menyisakan trauma mendalam. Bagi Asyraf, dentuman kayu hutan yang menghantam dinding rumahnya adalah suara penghabisan.

“Saya pikir saya sudah tidak ada lagi,” kenang siswa kelas 1 SMA itu lirih saat ditemui di puing rumahnya.

Penderitaan keluarga Asyraf adalah potret ketangguhan manusia di titik nadir. Saat Asyraf dan adiknya berlindung di loteng, sang ibu berjuang di bawah dalam kondisi terjepit. Selama dua hari dua malam, sang ibu bertahan dengan cara bergelantungan pada jeruji besi, menahan hantaman kayu-kayu besar tanpa asupan makanan di tengah air yang terus meninggi.

Ketegangan mencapai puncaknya ketika kelelahan ekstrem membuat adik Asyraf jatuh dari loteng. “Saya sudah bilang, jangan tidur. Tapi dia tidak tahan,” ujar Asyraf. Beruntung, sang adik mampu merayap naik kembali, lolos dari kubangan air yang bisa saja merenggut nyawanya.

Kini, jejak malapetaka itu membeku menjadi pemandangan yang memilukan. Desa Meunasah Lhok kini dipenuhi tumpukan lumpur yang mulai mengeras, bercampur dengan kayu gelondongan yang membentuk "benteng sunyi". Rumah Asyraf tak ubahnya makam massal bagi harta benda mereka—semuanya tertimbun dan tertutup material banjir.

Meski tak ada lagi dinding yang utuh, Asyraf dan kakaknya, Fahmi, tetap pulang. Mereka sering terlihat duduk di bawah sisa atap yang nyaris runtuh, menyalakan api kecil dari serpihan kayu sisa banjir. Asap tipis yang mengepul dari sana bukan sekadar penghangat, melainkan simbol perlawanan terhadap keputusasaan.

“Tidak ada lagi yang kami punya. Semua hilang, kecuali nyawa,” tutur Fahmi sambil menatap nanar puing-puing yang dulu ia sebut rumah.

Fahmi, yang saat kejadian berada di Meulaboh, bergegas pulang hanya untuk mendapati dunianya telah porak-poranda. Baginya, meski harta telah lumat oleh bumi, tekad untuk menjaga nyawa yang tersisa menjadi satu-satunya harta yang kini mereka miliki. (P-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Aries
Berita Lainnya