Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Universitas Syiah Kuala Bangun 15 Unit Sumur,Sumber Air Bersih di Lokasi Banjir Pidie Jaya

Amiruddin Abdullah Reubee
16/12/2025 19:29
Universitas Syiah Kuala Bangun 15 Unit Sumur,Sumber Air Bersih di Lokasi Banjir Pidie Jaya
Tim dari Universitas Syiah Kuala membangun sumur baru untuk korban banjir di Desa Rhing Mancang, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.(MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)

KRISIS air bersih akibat banjir bandang di kawasan Provinsi sangat mengkhawatirkan. Selain berpengaruh terhadap kelangkaan air minum juga berdampak buruk bagi keperluan sanitasi warga di lokasi setempat. 

Menyikapi persoalan tersebut, kini Universitas Syiah Kuala (USK) mulai membangun sumur-sumur baru sebagai sumber air bersih untuk menutupi kebutuhan para korban bencana dahsyat itu. 

Sesuai penelusuran Media Indonesia, Selasa (16/12) universitas negeri terbesar di Aceh itu, dalam pekan ini sedang membangun 15 unit sumur baru di Desa Rhing Mancang, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Aksi cepat tanggap di sektor sanitasi dan air bersih ini dilakukan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Dikti Saintek USK, pada dua hari lalu yaitu Minggu, (14/12). 

Itu merupakan upaya mendesak untuk memulihkan akses air layak bagi masyarakat pascabencana. Karena air bersih dan sanitasi menjadi kebutuhan krusial.

Apalagi terbatasnya sumber air layak bisa berberdampak langsung pada kesehatan masyarakat, meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan, serta menghambat aktivitas harian warga. Intervensi di sektor air bersih bukan hanya bersifat darurat, tapi juga menjadi pondasi penting untuk pemulihan sosial dan kesehatan masyarakat di lokasi terdampak banjir.

Ketua PKM Bidang Air Bersih dan Sanitasi Prof Akhyar mengatakan, pendekatan teknis dan partisipatif adalah kunci keberhasilan kegiatan di lapangan. 

“Pembangunan 15 sumur ini dirancang sesuai kondisi hidrogeologi setempat dan kebutuhan warga. Pengoperasian tiga mesin pengeboran secara bersamaan memungkinkan percepatan pekerjaan sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan oleh masyarakat Desa Rhing Mancang" tutur Akhyar.

Adapun Ketua Satgas Respons Senyar USK, Prof Syamsidik mengatakan program PKM ini menjadi bagian penting dari respons kemanusiaan berbasis keilmuan yang dijalankan USK.

“Pemulihan akses air bersih dan sanitasi merupakan kebutuhan mendasar pascabencana. Melalui PKM Dikti Saintek ini, USK hadir tidak hanya dalam fase tanggap darurat, tetapi juga mendorong pemulihan yang berkelanjutan dan berdampak langsung bagi masyarakat" ujarnya.

Melalui program PKM Diktisaintek USK, pihaknya berkomitmen mengintegrasikan tridarma perguruan tinggi. Diantaranya berupaya pemulihan pascabencana banjir. Khususnya dalam memastikan ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak sebagai fondasi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik