Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Museum Konferensi Asia Afrika Rekam Peran Indonesia Kobarkan Semangat Antipenjajahan

Ardi Teristi Hardi
13/12/2025 10:28
Museum Konferensi Asia Afrika Rekam Peran Indonesia Kobarkan Semangat Antipenjajahan
Ilustrasi(MI/ARDI TERISTI)

KOMISI A DPRD DIY berkomitmen mengembangkan Sinau Pancasila dan Sejarah. Salah satunya dengan melakukan kunjungan bersama wartawan ke Museum Asia Afrika di Bandung. Kegiatan ini menindaklanjuti agenda mengunjungi berbagai museum, mulai dari Bali, Jawa Timur dan berbagai daerah lainnya, untuk menggali sejarah dan nilai-nilai Pancasila 

Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto menjelaskan, Konferensi Asia Afrika sangat lekat dengan visi Presiden Soekarno. Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung atas inisiatif Indonesia yang mendapatkan dukungan dari beberapa negara. 

"Presiden Soekarno jauh sebelum 1955, tepatnya 1933, sudah menulis dan memimpikan pertemuan bangsa bangsa terjajah dari berbagai belahan dunia, untuk berjuang bersama melawan penjajahan," terang dia, Jumat (12/12). 

Visi itu kemudian bisa terwujud pada 1955 dengan peran Mohammad Hatta dan Perdana Menteri saat itu, Ali Sastroamidjojo yang ulet berdialog dan berdiplomasi dengan berbagai negara. Alhasil, Konferensi Asia Afrika sukses digelar, tepatnya 18–24 April 1955.

Dalam pidatonya di saat Pembukaan, Bung Karno 18 April 1955 melalui judul pidato "Let A New Asia and A New Africa Be Born". Bung Karno memberikan gambaran betapa Indonesia yang memiliki suku bangsa yang berbeda, dengan dasar Pancasila dapat bersatu melawan penjajah.

Bung Karno mengajak seluruh bangsa bangsa untuk membangun solidaritas perjuangan menghormati hak asasi manusia dan merebut kemerdekaan dengan terus mengobarkan semangat antipenjajahan. Melalui sidang delegasi 29 negara, Konferensi Asia Afrika melahirkan Dasa Sila Bandung. 

"Arsip-arsip termasuk naskah pidato Bung Karno, risalah sidang dan dokumen bersejarah, serta film masih bisa kita nikmati di Museum Asia Afrika di Bandung. Termasuk ruangan tempat sidang juga kursi yang ditempati para delegasi masih terawat dengan baik," ujar Politisi PDIP Eko Suwanto.

Eko Suwanto menambahkan, keberadaan museum KAA punya tiga hal penting bagi Bandung. Pertama, memberikan tiga nilai sejarah untuk dipelajari bagi kaum muda, kedua museum bisa jadi tempat lakukan riset penelitian sejarah, bisa hasilkan sarjana, master, doktor. Sekaligus yang ketiga, bisa jadi destinasi wisata sejarah yang memberikan manfaat keekonomian bagi masyarakat.

"Harapan saya, Pemda DIY terinspirasi Museum Asia Afrika ini. Pentingnya segera cepat membangun monumen perjuangan hadirkan museum kejuangan, Yogyakarta punya peran sejarah, ada peristiwa pindah ibukota dari Jakarta ke Jogja. Banyak peristiwa kejuangan yang hebat di Jogja. Kita harap Pemda lekas susun naskah akademik dan membangun museum. Ini akan terus kita suarakan untuk anak cucu kita di masa yang akan datang," kata Eko Suwanto, politisi PDI Perjuangan. 

Museum perjuangan bangsa, sangat dibutuhkan untuk mengingat Proklamator RI, Bung Karno tinggal di Yogyakarta, difasilitasi oleh rakyat juga Kadipaten dan Kraton Ngayogyakarta. "Kita punya sejarah lahirnya kemerdekaan pada saat RI merdeka pada 17/8/1945 tidak lama ada pawai pemuda dan tanggal 5 September 1945 ada Maklumat bergabung dengan RI," kata Eko Suwanto, politisi muda PDI Perjuangan. 

Kepala Seksi Publikasi Promosi Nilai-nilai KAA (PPNKAA) Kementerian Luar Negeri, Christoforus H Katon Bhaskoro menyebut, diselenggarakan KAA di Bandung kala itu tidak lepas dari visi Soekarno.

"Suatu saat Soekarno mempunyai visi untuk bekerja sama bangsa-bangsw Asia dan Afrika, tahun 1933 (setelah bebas dari penjara Sukamiskin pada 1931)," kata dia saat memandu Wartawan DPRD DIY bersama Komisi A DPRD DIY di Museum Asia Afrika, Kota Bandung, Jumat (12/12).

Pidato pembukaan Presiden Indonesia, Soekarno kala itu mampu melecut semangat para peserta konferensi dan menggema hingga hingga seluruh dunia, termasuk negara-negara Blok Barat dan Blok Timur.

Dalam pidato berjudul "Let a New Asia And a New Africa be Born" (Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru), Presiden Soekarno dengan berapi-api mengatakan,  kita, peserta konferensi, berasal dari kebangsaan yang berlainan, begitu pula latar belakang sosial dan budaya, agama, sistem politik, bahkan warna kulit pun berbeda-beda. "Namun kita dapat bersatu, dipersatukan oleh pengalaman pahit yang sama akibat kolonialisme, oleh keinginan yang sama dalam usaha mempertahankan dan memperkokoh perdamaian dunia," kata Soekarno. 

Dalam konferensi yang dihadiri 36 negara itu, Soekarno mengatakan, kita, pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, mengerti bahwa Asia dan Afrika hanya dapat menjadi sejahtera, apabila mereka bersatu, dan bahkan keamanan seluruh dunia tanpa persatuan Asia Afrika tidak akan terjamin. Konferensi ini akan memberikan pedoman untuk mencapai keselamatan dan perdamaian. Saya berharap, bahwa akan menjadi kenyataan, bahwa Asia dan Afrika telah lahir kembali. 

"Ya, lebih dari itu, bahwa Asia Baru dan Afrika Baru telah lahir!," kata Soekarno mengobarkan semangat peserta yang hadir.

Katon menyebut, konferensi ini kemudian menjadi pedoman dan menginspirasi bangsa-bangsa terjajah di dunia dalam perjuangan memperoleh kemerdekaannya. Dari situ, prinsip dasar dalam upaya memajukan perdamaian dan kerja sama dunia.

"Selama di sini, saya sering menerima dan memandu orang-orang tidak diduga," terang dia.

Pada beberapa bulan lalu, misalnya, Museum KAA didatangi oleh seorang pimpinan Bank Dunia yang berasal dari Senegal. Setelah memandu berkeliling Museum KAA, tamu tersebut duduk termenung di ruang konferensi.

Dia berkaca-kaca dan meneteskan air mata. "Ayah saya pejuang Senegal. Dia berpesan kepada saya aga suatu saat mengunjungi Bandung. Dari konferensi di Bandung, Senegal berjuang untuk merdeka," terang Katon menenirukan tamunya tersebut.

"Walau dihadiri 36 negara, KAA disiarkan ke seluruh penjuru dunia karena diliput oleh 360an jurnalis. Pemberitaan KAA tayang di halaman utama," tutup dia. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya