Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 13.333 siswa dan guru dari 332 sekolah di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, berpartisipasi pada Festival Literasi Kutai Timur #1 yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur berkolaborasi dengan Nyalanesia, di Gedung Serba Guna Bukit Pelangi.
Mereka mengikuti serangkaian kegiatan seperti pelatihan/workshop, penulisan karya, penerbitan buku, pengembangan dan pembuatan website literasi sekolah, perlombaan dan apresiasi, hingga puncak acara Festival Literasi Kutai Timur #1.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur Mulyono mengatakan festival kali ini merupakan tahun pertama kali digelar. "Kami sadar masih ada kekurangan, tetapi dampaknya besar dan positif. Ini membuka ruang karya bagi siswa untuk melaju ke tingkat nasional pada 2026,” ujarnya, di Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Imam Subchan, selaku Advisor Nyalanesia, menyampaikan melalui festival ini, Kutai Timur memberikan pesan dan harapan atas program tersebut. “Mulai dari Kutai Timur, mari kita kirimkan pesan ke Indonesia bahwa setiap anak berhak bersinar melalui literasi, dan kita semua adalah penggerak yang memastikan cahaya itu tidak padam,” ujarnya.
MOMENTUM PUNCAK
Momentum puncak juga menjadi ajang penganugerahan bagi para penggerak di daerah. Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman dianugerahi sebagai Tokoh Penggerak Literasi Nasional, Kepala Disdikbud Kutai Timur Mulyono dianugerahi sebagai Mitra Penyelenggara Program Literasi, dan Bunda Literasi Kutai Timur Robiah Ardiansyah sebagai Tokoh Penggerak Literasi Daerah.
"Penghargaan ini menandai komitmen lintas unsur, pemerintah daerah, satuan pendidikan, mitra, dan komunitas, dalam menumbuhkan budaya literasi dan produksi karya di sekolah," kata Imam.
Pada acara itu, juga digelar pentas seni dan pembacaan puisi dari siswa dan sekolah, serta penampilan dangdut dari Herrie D’Academy 3 yang mengajak hadirin bernyanyi bersama.
Pada festival ini, dewan juri menetapkan pemenang terbaik jenjang SD, yaitu juara pertama diraih Azzam Faiz Al Arkhan (SDIT Bina Insan Kongbeng), juara kedua Habibah ‘Ainurrahmah (SDN 004 Sangatta Utara), dan juara ketiga Dzakira Talita Zahra (SDN 009 Sangatta Utara).
Untuk jenjang SMP, juara pertama Kirana Anisa Saparin (SMP Karya Nusa Lestari Telen), juara kedua Athiya Zahra (SMP Negeri 1 Bengalon), dan juara ketiga Andreas Sirait (SMP Negeri 1 Sangatta Selatan).
Penghargaan kategori Tim Literasi Sekolah Terbaik tingkat daerah yaitu juara pertama SDIT Bina Insan Kongbeng, juara kedua SMP Karya Nusa Lestari Telen, dan juara ketiga SMP Negeri 1 Bengalon.
SEMINAR NASIONAL
Selain panggung apresiasi, puncak festival menggelar seminar nasional yang disampaikan Imam Subchan (Advisor Nyalanesia). Dia membawakan materi Menguatkan Branding Sekolah Literasi yang membedah strategi positioning, narasi, dan aktivasi karya agar bergaung lintas kanal. Sesi ini dilanjutkan oleh Sri Baliah dari Kampung Dongeng.
Saat menutup acara, Bupati Kutai Timur Ardiansyah memberikan pesan terkait pentingnya visi literasi dengan Kutai Timur 2045. “Anak-anak yang hari ini di bangku SD dan SMP, pada 2045 akan menjadi tulang punggung daerah yaitu pejabat, pengusaha, pendidik, budayawan, sejarawan, maka literasi adalah bekal utama,” ujar dia.
"Siapa pun yang bergerak di literasi, pemerintah, sekolah, komunitas, dunia usaha, mari terus membuka ruang dan kesempatan agar karya anak-anak dihargai dan dihidupkan.” pungkasnya.
Ia menegaskan dengan terbitnya 133 antologi, tumbuhnya jejaring tim literasi sekolah, dan antusiasme peserta program luar biasa, Festival Literasi Kutai Timur #1 bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan gerak bersama yang menghadirkan karya, ruang, dan masa depan.
"Kami harap kolaborasi Disdikbud Kutim dan Nyalanesia terus terjalin baik pada tahun-tahun mendatang agar budaya literasi Kutai Timur dan generasi muda makin maju dan bersinar bahkan hingga kancah nasional," pungkas dia. (Ant/E-2)
Rangkaian Festival Literasi Kutai Timur #1 memasuki tahap penguatan kapasitas melalui diklat luring Ketua Tim Literasi Sekolah (TLS) di Gedung Serba Guna Bukit Pelangi.
Pelatihan daring ini diikuti ratusan sekolah peserta Festival Literasi Kutai Timur #1. Para siswa dan guru mengadakan nonton bareng di sekolah masing-masing.
Festival Literasi Kutai Timur #1 menjadi momentum bagi sekolah untuk memperbaiki iklim belajar pasca-pandemi dan di tengah arus digitalisasi.
Motif Wakaroros bukan sekadar corak estetis. Ia adalah narasi visual masyarakat Dayak Basap, suku adat yang hidup berdampingan dengan rimba Karst Sangkulirang-Mangkalihat.
Ia mengatakan enam ekor orang utan itu harus berada di habitat mereka. Dalam menjaga populasi orang utan pihaknya akan memperketat pengawasan dalam pemanfaatan hutan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved