Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
RANGKAIAN Festival Literasi Kutai Timur #1 memasuki tahap penguatan kapasitas melalui diklat luring Ketua Tim Literasi Sekolah (TLS) di Gedung Serba Guna Bukit Pelangi.
Kegiatan yang digelar di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, ini membekali para Ketua TLS dengan kompetensi kepemimpinan, strategi manajerial, dan rencana aksi agar budaya literasi tumbuh terukur di satuan pendidikan. Acara ini dihadiri lebih dari 300 Ketua TLS baik secara daring maupun luring.
Sekretaris Disdikbud Kutai Timur sekaligus Ketua Panitia Irma Yuwinda mengatakan Gerakan Literasi Sekolah merupakan program strategis untuk mewujudkan ekosistem pendidikan yang menumbuhkan budaya baca, menajamkan kemampuan literasi dasar, serta meningkatkan kompetensi peserta didik dalam berpikir kritis, kreatif, dan komunikatif.
"Capaian program ini mulai dari pelatihan penulisan puisi dan artikel untuk website literasi hingga terhimpunnya 11.045 karya puisi sebagai bukti keterlibatan aktif sekolah," kata Irma, Rabu (10/12).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur Mulyono mengatakan pentingnya keseimbangan antara transformasi digital dan fondasi literasi dasar. “Di era digital, kita harus bijaksana. Jangan sampai melupakan dasar literasi kita, yaitu membaca dan menulis. Digital bukan hambatan, kita harus menyesuaikan,” tegasnya.
Mulyono juga menggarisbawahi kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia, perluasan akses internet sekolah melalui Starlink, serta penyiapan 35 sekolah sebagai Kandidat Sekolah Rujukan Google (KSRG) disertai peningkatan sertifikasi L1 bagi guru.
PERAN TLS
Bunda Literasi Kutai Timur Siti Robiah Ardiansyah menambahkan keberadaan TLS di sekolah memiliki peran strategis. “Ketua Tim Literasi bukan hanya pengurus kegiatan, tetapi penjaga ekosistem belajar, penyemai semangat membaca, dan penggerak perubahan pola pikir warga sekolah. Literasi bukan kegiatan sesaat, melainkan budaya yang hidup dalam keseharian,” ujarnya.
Ia pun mendorong TLS memberi ruang berekspresi, membangun kolaborasi guru, orang tua dan masyarakat, serta menata perpustakaan sebagai pusat belajar yang menarik dan terbuka.
Sesi utama diklat turut menghadirkan Imam Subchan, Advisor Nyalanesia, melalui Kelas Inovasi Strategi Manajerial bertema Kekuatan Leadership untuk Menciptakan Dampak Baik bagi Institusi.
Dalam penguatan kepemimpinan, Imam menekankan pentingnya kesiagaan pemimpin sekolah.
“Leadership crisis sering lahir dari tiga hal, ketika integritas dikompromikan saat tekanan datang, ketika kita merasa sudah berkomunikasi padahal belum, dan ketika kita gagal menjaga diri hingga kehilangan energi, motivasi, dan optimisme untuk menguatkan tim,” pesannya.
Ia berharap diklat ini mempertegas kolaborasi pemerintah daerah dan satuan pendidikan untuk memperluas dampak baik program. "Dengan penguatan kepemimpinan TLS, kesiapan infrastruktur digital, dan dukungan ekosistem sekolah, orang tua dan masyarakat, diharapkan makin meningkat kan budaya literasi Kutai Timur yang lebih inklusif, terukur, dan berkelanjutan," pungkasnya. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved