Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Waspadai Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi saat Libur Natal dan Tahun Baru

Ficky Ramadhan
09/12/2025 20:27
Waspadai Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi saat Libur Natal dan Tahun Baru
ilustrasi.(antara)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan kondisi cuaca, dinamika atmosfer, dan potensi risiko hidrometeorologi menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) dalam Rapat Koordinasi Tingkat Menteri yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno.

Plt. Sekretaris Utama BMKG, Guswanto menyampaikan bahwa periode Desember 2025 hingga Januari 2026 bertepatan dengan puncak musim hujan, sehingga meningkatkan potensi curah hujan tinggi hingga sangat tinggi di sejumlah wilayah seperti Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Papua Selatan, dan sebagian besar Kalimantan.

Ia menjelaskan bahwa beberapa fenomena atmosfer diperkirakan aktif secara bersamaan pada periode tersebut, mulai dari Monsun Asia, Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby, La Nina lemah, hingga kemunculan bibit siklon tropis 93W dan 91S yang dapat memperkuat intensitas hujan dan angin kencang. “Kondisi ini dapat memengaruhi aktivitas transportasi darat, laut, dan udara selama Nataru," kata Guswanto, kemarin.

Lebih lanjut, BMKG memetakan dinamika cuaca dalam tiga fase, yakni 15–22 Desember didominasi hujan lebat, kemudian 22–29 Desember intensitas cenderung menurun, dan 29 Desember–10 Januari kembali meningkat seiring pergeseran puncak musim hujan ke Pulau Jawa.

Sementara untuk sektor udara, pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) masih menjadi perhatian karena dapat memicu hujan intensif. 

Pada sektor pelayaran, BMKG memprediksi gelombang 2,5–4 meter di sejumlah perairan, serta potensi lebih dari 6 meter di area sekitar Natuna pada Januari. Sebagai langkah mitigasi langsung, BMKG bersama BNPB, pemda, dan BUMN menyiagakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Aceh, Sumut, Sumbar, Jabar, dan Jatim.

Dalam kesempatan yang sama, Menko PMK Pratikno menegaskan kesiapsiagaan tahun ini membutuhkan perhatian ekstra karena beberapa wilayah masih terdampak bencana hidrometeorologi, terutama Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan.

Di lain hal, Profesor Riset Bidang Iklim dan Cuaca Ekstrem, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Erma menegaskan bahwa siklon senyar memiliki energi relatif kecil dibanding siklon lain, namun dampaknya katastrofik karena tidak adanya langkah prabencana yang memadai. 

Dampak Senyar menjadi pengingat keras bahwa bencana besar tidak harus terjadi jika mitigasi dijalankan sesuai rekomendasi ilmiah. Ia menegaskan Indonesia harus berhenti menganggap cuaca ekstrem sebagai kejadian alam biasa yang tidak dapat diprediksi.(H-1) 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik