Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

BPBD Cilacap Siap Siaga Hadapi Potensi Siklon Tropis di Selatan Jawa

Lilik Darmawan
04/12/2025 18:31
BPBD Cilacap Siap Siaga Hadapi Potensi Siklon Tropis di Selatan Jawa
Ilustrasi(Antara)

BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, memperkuat berbagai langkah antisipasi menyusul potensi munculnya siklon tropis di selatan Pulau Jawa. Upaya tersebut mencakup peningkatan sistem peringatan dini, penguatan koordinasi antarinstansi, serta edukasi publik untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam mitigasi bencana.

Kepala BPBD Cilacap, Taryo, menyampaikan bahwa potensi siklon tropis perlu diwaspadai karena dapat berdampak langsung pada masyarakat. “Kami melakukan kajian risiko dengan memperbarui data cuaca, meningkatkan ketepatan pemodelan, dan menyampaikan peringatan dini secara rutin,” ujarnya, Kamis (4/12).

Ia menambahkan, pemerintah pusat beberapa kali melakukan operasi modifikasi cuaca untuk menekan curah hujan ekstrem, termasuk saat terjadi peristiwa longsor di Cilacap. BPBD juga memastikan infrastruktur vital mulai dari drainase, tanggul, bendungan, jaringan listrik, hingga komunikasi, berfungsi optimal serta menyiapkan langkah mitigasi jika terjadi gangguan.

Untuk menjaga kewaspadaan tanpa memicu kepanikan, informasi kebencanaan disebarkan melalui kanal resmi seperti surat edaran, situs web, media sosial, hingga forum RT/RW.

Sebelumnya, BMKG mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan terpadu antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menghadapi ancaman siklon tropis melalui langkah mitigasi yang terstruktur.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menjelaskan bahwa wilayah selatan Jawa Tengah termasuk area rawan siklon tropis yang berpotensi terjadi hingga Februari 2026. Karena itu, ia menekankan perlunya kesiapan komprehensif, terutama terkait penguatan sistem peringatan dini dan respons cepat.

Menurut Teguh, BMKG memastikan informasi peringatan dini disampaikan melalui berbagai saluran seperti media massa, SMS blast, dan aplikasi pesan instan. “Kami terus meningkatkan akurasi data cuaca dan pemodelan prediksi untuk memperkirakan jalur serta intensitas siklon dengan lebih tepat,” katanya.

Ia juga mendorong pengaktifan kembali Desa Tangguh Bencana (Destana) disertai pelatihan teknis, mulai dari pertolongan pertama (P3K), pengelolaan dapur umum, hingga simulasi evakuasi. “Masyarakat harus menjadi pelaku aktif dalam kesiapsiagaan, bukan hanya penerima dampak,” ujarnya.

Teguh menilai komunikasi kebencanaan perlu disampaikan secara jelas dan konsisten agar masyarakat tetap waspada tanpa rasa panik. Keterlibatan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan kepala desa dianggap efektif menjaga ketenangan warga. Ia juga menekankan pentingnya simulasi rutin agar masyarakat terbiasa merespons secara tepat saat bencana terjadi.

Selain itu, ia mengingatkan agar arus informasi kebencanaan terhindar dari hoaks. Ia meminta BPBD menetapkan satu pintu informasi resmi yang aktif 24 jam dengan pembaruan berkala. “Literasi digital harus diperkuat. Masyarakat diimbau tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi,” katanya. (LD/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik