Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Di Balik Bara Obor Toleransi NKRI yang Dinyalakan Bupati Lembata

Alexander P Taum
17/11/2025 12:46
Di Balik Bara Obor Toleransi NKRI yang Dinyalakan Bupati Lembata
Pembakaran obor toleransi menandai Lembata sebagai wilayah yang menjunjung tinggi perdamaian dan keberagaman.(MI/Alexander P Taum)

SENJA baru saja turun di Taman Kota Lewoleba, Ibu Kota Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Minggu (16/11), ketika satu per satu obor mulai menyala. Bukan obor biasa, melainkan obor yang mewakili keberagaman iman dan persaudaraan.

Di tengah kerumunan yang memadati ruang terbuka itu, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Lembata bersama masyarakat lintas agama menggelar peringatan Hari Toleransi Internasional, Minggu 16 November 2025.

Di antara lautan manusia, tampak para pemuka agama, Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha, berdiri berdampingan. Masing-masing memegang obor yang akan menyalakan simbol toleransi di tanah yang dikenal luas dengan semboyan Taan Tou.

Namun, ada satu obor yang menjadi pusat perhatian sore itu, Obor NKRI. Simbol persatuan itu dinyalakan oleh Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, yang dalam kesempatan ini diwakili Kepala Badan Kesbangpol Lembata, Petrus Kanisius Making. Obor itu, lebih dari sekadar cahaya, seakan menyala sebagai peringatan: Indonesia berdiri, hidup, dan tumbuh oleh keberagaman.

Sebelum obor dinyalakan, jalanan kota Lewoleba diramaikan dengan karnaval budaya. Anak-anak muda bergandeng tangan dengan tokoh-tokoh adat, pelajar berjalan bersama para pemimpin agama. Paguyuban, perwakilan Kementerian Agama, dan kelompok masyarakat lintas suku dan kepercayaan larut dalam barisan yang memamerkan busana tradisional, musik, dan tarian lokal.

Di wajah mereka, tidak tampak perbedaan, hanya semangat yang sama: merayakan Indonesia yang satu, tanpa menghapuskan warna-warni yang menyusunnya.

Dalam sambutan Bupati Lembata yang dibacakan Petrus Kanisius Making, terselip pesan mendalam.

"Peringatan Hari Toleransi Internasional adalah momentum yang mengingatkan kita semua, bahwa keragaman adalah kekayaan dan kekuatan bagi bangsa kita. Toleransi bukanlah sesuatu yang tercipta begitu saja, melainkan harus terus dibentuk dan dipertahankan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari," ucapnya.

Kalimat itu menggema di antara nyala api dan doa syukur lintas iman. Acara dilanjutkan dengan doa dari pemuka agama masing-masing, lalu pembacaan seruan moral toleransi dan kerukunan. Sebuah pengingat bahwa damai harus dijaga, bukan ditunggu.

“Negeri kita Indonesia dan juga Kabupaten kita tercinta Lembata, adalah rumah besar yang dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang suku, agama, ras, dan budaya yang beragam,” tegas Bupati.

Lembata, pulau kecil di antara sabuk keindahan Nusa Tenggara Timur, memang tak pernah berdiri di atas keseragaman. Di sini, adat dan agama berdialog dalam hangat sapaan.

Di sini pula, perbedaan bukan luka, melainkan tali yang menenun persaudaraan. Tetapi Bupati juga sadar: toleransi bukan sesuatu yang dibiarkan tanpa perawatan. Ia mesti diajarkan, dihidupi, dan diwariskan.

Pemerintah Kabupaten Lembata, lanjut Bupati, akan terus menciptakan ruang damai, inklusif, dan berkeadilan. Namun itu tak berarti pemerintah bekerja sendiri.

“Semua itu tidak akan berhasil tanpa dukungan seluruh elemen masyarakat, dukungan dari tokoh agama, tokoh adat, paguyuban-paguyuban, hingga generasi muda. Mereka adalah garda terdepan yang menjaga nilai-nilai toleransi di lingkungan masing-masing.”

Di sudut taman, seorang pelajar SMA memegang obor kecil yang dibuat manual. Di matanya, cahaya obor yang lebih besar seolah terpantul, menyala, kokoh, hidup.

Di penghujung acara, satu kalimat sederhana namun amat dalam terlontar: “Mereka yang bukan seiman adalah saudara dalam kemanusiaan.”

Toleransi di Lembata bukan hanya wacana. Ia dihidupkan dalam nyala obor, langkah karnaval, dan doa bersama. Ia tumbuh dalam simpul antara adat Lamaholot dan keberagaman Nusantara.

Saat malam menutup langit Lewoleba, obor-obor itu masih menyala. Menjaga ingatan akan pesan sederhana: Kita boleh berbeda, tapi kita tetap satu. Kita tetap Indonesia. (PT/E-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik