Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Indonesia Tegaskan Diplomasi Budaya di Kawasan Pasifik Lewat IPACS 2025

Palce Amalo
11/11/2025 18:27
Indonesia Tegaskan Diplomasi Budaya di Kawasan Pasifik Lewat IPACS 2025
BUKA IPACS 2025 - Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama sejumlah delegasi Indonesia Pacific Cultural Synergy (IPACS) mengunjungi pameran Kebudayaan Indonesia di Kawasan Timur di sela-sela pembukaan IPACS 2025, Selasa (11/11/2025).(MI/Palce Amalo)

MENTERI Kebudayaan  (Menbud) Fadli Zon secara resmi membuka Indonesia Pacific Cultural Synergy (IPACS) 2025. Agenda tersebut mengusung tema Celebrating Shared Cultures and Community Wisdom, di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Selasa (11/11).

Kegiatan ini diawali dengan pembukaan Pameran Kebudayaan Indonesia di Kawasan Timur, yang menampilkan kekayaan dan keragaman budaya dari berbagai daerah di Indonesia, khususnya wilayah timur.

Suasana pembukaan semakin semarak dengan tarian Orsa Modao asal Papua Tengah, yang menggambarkan kekayaan, semangat, dan kehangatan budaya masyarakat kawasan timur Indonesia.

Dalam sambutannya, Fadli menjelaskan IPACS diikuti  delegasi dari 13 negara Pasifik dari total 17 negara di kawasan tersebut. Negara-negara peserta antara lain berasal dari Melanesia seperti Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Vanuatu, dan Fiji, serta dari kawasan Pasifik lainnya seperti Tonga, Tuvalu, Kiribati, dan Mikronesia.

“Mereka semua adalah bagian dari keluarga besar Pasifik. Indonesia pun sebenarnya merupakan bagian dari Pasifik, terutama melalui provinsi-provinsi di wilayah timur seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan seluruh provinsi di Tanah Papua,” ujar Fadli Zon.

Menurutnya, kerja sama budaya dengan negara-negara Pasifik selama ini masih terbatas, padahal Indonesia memiliki kedekatan historis dan kultural dengan mereka.

“Kita ini juga memiliki nenek moyang yang sama. Banyak leluhur kita yang bermigrasi ke wilayah Pasifik, termasuk di Kaledonia Baru. Karena itu, melalui jalan kebudayaan, kita ingin memperkuat kolaborasi dan membangun kedekatan yang lebih nyata,” katanya.

Melalui IPACS 2025, Indonesia menginisiasi sejumlah program kolaboratif, termasuk residensi budaya yang telah berlangsung selama sepuluh hari sebelum acara pembukaan. Dalam residensi itu, para pelaku budaya muda dari berbagai negara Pasifik berkolaborasi dengan seniman lokal Indonesia dalam menciptakan karya bersama, mulai dari kesenian bambu, musik tradisional, hingga pertunjukan tari.

 “Acara ini bukan hanya pertemuan biasa. Ada residensi, pertunjukan budaya, dialog, dan juga diskusi antara para menteri kebudayaan dari negara-negara Pasifik. Semua ini akan menghasilkan berbagai bentuk kerja sama ke depan,” jelas Fadli.

Selain memperkuat hubungan kultural, kegiatan ini juga menjadi wadah membangun solidaritas menghadapi tantangan bersama, seperti perubahan iklim yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat kepulauan di kawasan Pasifik.

“Kita menghadapi persoalan yang sama, termasuk perubahan iklim. Melalui diplomasi kebudayaan ini, kita ingin memperkuat kerja sama dan saling memahami demi kemajuan bersama,” jelasnya.

Ia menambahkan, jalur kebudayaan juga dapat menjadi kekuatan diplomasi yang mendorong stabilitas politik dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan Pasifik.

“Kita bicara tentang kebudayaan, tentang bagaimana membangun pemahaman dan kesejahteraan rakyat melalui kerja sama budaya yang saling menghargai,” ujar Fadli Zon.

IPACS dihadiri sekitar 30 delegasi termasuk sejumlah menteri kebudayaan dari negara-negara Pasifik, di antaranya Menteri Kebudayaan Papua Nugini Ivereni Fazu, 

Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya Fiji, Belden Norman Namah, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Kepulauan Solomon, Choylin Yim Douglas, serta Menteri Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Kewarganegaraan Kaledonia Baru Mickael Forrest. 

Hadir pula Sekretaris Menteri Kebudayaan dan Urusan Dalam Negeri Kiribati, Bwereti Tewareka, Sekretaris Departemen Warisan Nasional Nauru, Romana Koepke, Direktur Biro Pelestarian Budaya dan Sejarah Palau, Kiblas Soaladaob dan perwakilan dari negara-negara pasifik lainnya.

Dia menambahkan kehadiran para delegasimenandai eratnya hubungan budaya antara Indonesia dan negara-negara Pasifik, yang tidak hanya berbagi lautan tetapi juga sejarah, nilai, dan ekspresi budaya yang sama.

Tidak hanya itu, Menbud Fadli turut mempersembahkan stan dari Kementerian Kebudayaan yang mengusung tajuk The Listening Thread. Anjungan pameran tersebut merupakan bentuk komitmen Kementerian Kebudayaan terhadap pemberdayaan praktisi budaya, khususnya di seluruh Indonesia Timur.

"Kami, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia merasa terhormat mempersembahkan stan kami, 'The Listening Thread', sebuah ruang di mana beragam narasi budaya saling bertautan, merangkai kisah dan identitas melalui beragam koleksi,” jelasnya

Pameran Indonesia-Pacific Cultural Synergy 2025 ini turut menampilkan karya seniman dari Indonesia dan negara-negara Pasifik yang telah menjalani residensi bersama selama sepuluh hari di Kupang.

Direktur Jenderal Diplomasi dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti, menjelaskan bahwa IPACS diikuti oleh delegasi dari 13 negara. Indonesia berencana menjadikan kegiatan ini berkelanjutan.

“Kami ingin acara ini terus berlanjut, minimal dua tahun sekali diadakan di Indonesia. Kita juga akan membuat film dokumenter dan kajian tentang kedekatan budaya serta etnologi antara Indonesia dan negara-negara Pasifik,” ujar Endah.

Menurutnya, selain mempererat hubungan budaya, pertemuan tersebut juga membahas isu-isu strategis seperti perubahan iklim yang menjadi tantangan bersama negara-negara Pasifik.

“Kita sama-sama menghadapi dampak perubahan iklim. Karena itu, kerja sama dan solidaritas antarnegara di kawasan ini sangat penting,” tambahnya.

Rangkaian IPACS 2025 akan berlangsung selama beberapa hari di Kupang, diisi dengan pameran seni, pertunjukan kolaboratif seniman Pasifik, serta jamuan makan malam dan pertunjukkan budaya yang menampilkan tarian khas Nusa Tenggara Timur.

“Semoga kegiatan ini menjadi jembatan yang memperkuat ikatan budaya dan persaudaraan antara Indonesia dan negara-negara Pasifik,”ujarnya. (PO/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya