Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Universitas Jabal Ghafur Pidie Buat Inovasi untuk Bantu Perajin Kue Hantaran Adat Aceh

Amiruddin Abdullah Reubee
08/11/2025 16:40
Universitas Jabal Ghafur Pidie Buat Inovasi untuk Bantu Perajin Kue Hantaran Adat Aceh
Tim Dosen dan Mahasiswa Universitas Jabal Ghafur Pidie, Melakukan Edukasi Pengrajin Kue Hantaran Adat Aceh Menggunakan Teknologi Inovasi Doka-PackDoka-Pack Di Desa Gatot Cut, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

DOSEN dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jabal Ghafur Pidie melakukan edukasi masyarakat cara meningkatkan produksi kue hantaran Adat Aceh. Pelatihan gratis itu berlangsung di Desa Garot Cut, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, pada akhir pekan lalu.

Puluhan kaum wanita tergabung dalam kelompok Rasa Meulapeh yang merupakan perajin kue hantaran Adat Aceh untuk tradisi pesta pernikahan itu di edukasi teknik berinovasi Doka-Pack. Harapannya agar hasil produksi para pembuat kue hantaran khas Aceh itu lebih meningkat dari sebelumnya.

"Inovasi ini adalah program pengabdian masyarakat yang memanfaatkan teknologi Doka-Pack untuk meningkatkan sistem produksi kue hantaran pesta adat Aceh di kawasan Desa rawan bencana," tutur Fajri, pengurus Pemerintahan Mahasiswa Jabal Ghafur, Pidie, kepada Media Indonesia, Sabtu (8/11).

Bukan saja mengajari para perajin produksi, tapi inovasi baru ini paling penting untuk membantu peningkatan perekonomian masyarakat. Lalu secara berkesinambungan juga melestarikan tradisi danadat serta budaya lokal di wilayah berjuluk Serambi Mekah itu.

Ketua Program Pemberdayaan Masyarakat yang juga Dosen Universitas Jabal Ghafur, Cut Italina, mengatakan pelatihan ini merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak (PM-BEM) yang berfokus pada penerapan teknologi tepat guna serta penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya di wilayah rawan bencana.

"Ini bertajuk Pemberdayaan Inovasi Teknologi Doka-Pack Sistem Produksi Kue Hantaran Pesta Adat Aceh," kata Cut Italina.

Dikatakannya, Desa Garot Cut, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie, itu memiliki potensi besar mengembangkan inovasi teknologi Doka-Pack. Apalagi di kawasan setempat banyak kaum perempuan pembuat Kue Hantaran Adat Aceh. Mereka ada melakukan usaha mandiri dan juga ada secara kelompok.

Ramai warga di kabupaten pesisir Selat Malaka itu mencari atau memesan kue pesta adat tersebut di perkampungan setempat. Lalu di kawasan itu juga memiliki tantangan nyata. Di antaranya perkampungan pedalaman yang berjarak sekitar 12 km sebelah selatan Kota Sigli, Ibu Kota Kabupaten Pidie, itu juga dikenal kawasan langganan banjir luapan Sungai Krueng Baro.

Setiap musim penghujan berulangkali bencana banjir merendam ribuan rumah warga setempat. Belum lagi puluhan meter badan jalan amblas ke sungai hingga terganggu transportasi. Meskipun demikian, di sini memiliki potensi ekonomi lokal sangat menjanjikan. Di antaranya adalah ramai keluarga aktif membuat atau memproduksi kue hantaran khas Aceh.

Antara lain yaitu dodol khas Aceh, meuseukat, dan wajeb (dodol ditambah nasi ketan), bhoi mirip bolu)  dan banyak ragam kue kering lainnya. Semua jenis kue kebesaran yang menjadi ikon Aceh tersebut banyak sudah menjadi keharusan sebagai bahan utama kuliner atau menu saat upacara pernikahan atau pesta adat lainnya.

Dikatakan Cut Italina, belakangan ini, proses pembuatan kue tradisional tersebut dilakukan secara manual memakai peralatan sederhana. Kondisi tersebut membuat para perajin yang sebagian besar kaum perempuan menghadapi banyak kendala. Yakni lebih cepat lelah atau banyak kehabisan tenaga. Lalu keterbatasan jumlah hasil produksi, serta kesulitan memperluas jangkauan pemasaran.

Dengan menggunakan inovasi teknologi tepat guna Doka-Pack diharapkan dapat memangkas berbagai kesulitan dan kendala produksi.

"Melihat permasalahan itu, maka kami memperkenalkan Doka-Pack sebagai alat pengaduk adonan otomatis. Ini berbasis stainless steel yang dirancang khusus, meningkatkan efisiensi proses produksi tanpa mengubah cita rasa khas kue," tutur Cut Italina.

Menurutnya berkat penerapan Doka-Pack, waktu produksi berkurang hingga 70%. Kemudian kualitas produk menjadi lebih konsisten, dan kapasitas juga meningkat tiga kali lipat.

Melalui teknologi ini diharapkan dapat memperkuat daya saing produk lokal di pasar modern. Ini merupakan Dukungan untuk SDGs dan Asta Cita. Lalu, inovasi Doka-Pack tidak hanya meningkatkan pendapatan keluarga dan memperkuat peran perempuan. Tapi juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan Asta Cita, khususnya dalam peningkatan kualitas manusia, ketahanan ekonomi, serta pelestarian budaya lokal.

“Kami ingin menjadikan perkampungan Garot Cut sebagai model penerapan teknologi dan budaya dalam satu gerakan pemberdayaan terpadu. Dengan inovasi Doka-Pack, masyarakat tidak hanya lebih produktif, tapi juga tangguh menghadapi tantangan ekonomi dan bencana," ujar Cut Italina.

Pelatihan teknologi inovasi ini mendapat sambutan baik dari tokoh masyarakat dan pemerintahan desa setempat. Apalagi ini sejalan dengan visi pembangunan desa berbasis potensi adat dan pemberdayaan masyarakat berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, Universitas Jabal Ghafur berkomitmen menghadirkan solusi inovatif dan berkelanjutan bagi masyarakat desa. Lalu menjadi bukti nyata peran perguruan tinggi dalam menggerakkan ekonomi kreatif berbasis budaya dan teknologi.

Tim pelaksana juga menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendikbudristek atas dukungan pendanaan melalui Program PM-BEM Tahun 2025, sehingga kegiatan pemberdayaan ini dapat terlaksana dengan baik. (MR/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya