Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
BENCANA banjir dan tanah longsor masih berpotensi terjadi di Sumatra Utara (Sumut) pada awal 2025. Bencana hidrometeorologi dikhawatirkan karena hingga kini Sumut masih kerap diselimuti curah hujan tinggi.
"Potensi banjir dan longsor masih perlu diwaspadai pada awal tahun 2025," ungkap Kepala BBMKG Wilayah I Medan Hendro Nugroho, Sabtu (11/1).
Menurut Hendro, pihaknya memprediksi curah hujan yang akan turun pada 2025 akan mendekati kondisi normal. Namun bencana hidrometeorologi tetap harus diperhatikan dan diwaspadai semua pihak.
Termasuk pada awal tahun ini, semua pihak perlu mewaspadai potensi banjir dan longsor mengingat masih dalam periode musim hujan. Hari ini saja, hujan sedang hingga lebat disertai kilat/petir dan angin kencang diprediksi menerpa sebagian besar wilayah Sumut.
Di antaranya di Kepulauan Nias, Kabupaten Langkat, Deliserdang, Mandailing Natal, Batu Bara, Humbang Hasundutan, Samosir, Serdangbedagai, Padanglawas dan Labuhanbatu Utara. Dilanjutkan ke Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Karo, Simalungun, Labuhanbatu, Dairi, Toba, Pakpak Bharat, Padanglawas Utara, Medan, Sibolga, Tanjungbalai, Binjai, Tebingtinggi dan Padangsidimpuan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut Tuahta Ramajaya Saragih mengatakan, pihaknya selalu bersiap dengan kemungkinan terburuk akibat cuaca. Koordinasi dan sinergi juga terus dijalinnya dengan BMKG, khususnya dalam melakukan monitoring, evaluasi dan perencanaan.
Dia memastikan pihaknya juga secara intens menjalin komunikasi dan memberi informasi serta edukasi kepada setiap elemen masyarakat, mulai dari keluarga hingga lembaga-lembaga atau instansi pemerintah.
Pihaknya juga selalu menyiagakan bantuan logistik serta tim pendampingan untuk warga terdampak. Kendati dia berharap pada 2025 frekwensi bencana di wilayahnya tidak sebanyak tahun sebelumnya.
Pada 2024 Sumut mengalami total 677 kejadian bencana dan seluruh kabupaten/kota memiliki wilayah terdampak. Dari jumlah kejadian itu, sebanyak 237 bencana di antaranya adalah kebakaran hutan dan lahan, dengan luas areal yang terbakar mencapai 2.638, 265 hektare.
Setelah kebakaran hutan dan lahan, bencana paling sering terjadi di provinsinya yaitu banjir dan tanah longsor. Bencana-bencana tersebut sejauh ini telah menimbulkan kerusakan di berbagai sektor, seperti pemukiman, pendidikan, kesehatan, peribadatan, perkantoran, fasilitas umum, jembatan dan kios.
Deliserdang, Tapanuli Selatan, Karo dan Mandailing Natal memiliki wilayah yang paling terdampak bencana sepanjang 2024. Dengan total korban jiwa mencapai 63 orang, 176 orang terluka, 4.878 orang mengungsi.(N-2)
Cuaca ekstrem yang terjadi beberapa hari telah menyebabkan banyaknya bencana longsor, banjir, pohon tumbang.
BENCANA memang sering hadir tanpa memberikan ruang memilih, tetapi cara manusia meresponsnya selalu lahir dari pilihan moral dan politik.
Total korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi di tiga provinsi mencapai 1.198 orang, sementara korban hilang tercatat sebanyak 144 orang.
KEPALA Badan Penanggulangan Bencana Nasional Letjen TNI Suharyanto menegaskan, pemerintah tidak membeda-bedakan satu daerah dengan daerah yang lain.
Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir November lalu meninggalkan dampak serius bagi petani, pekebun, dan petambak.
Tidak lagi sekadar respons darurat yang bersifat sementara, zakat diarahkan menjadi pilar sistem perlindungan sosial umat yang bekerja secara lintas fase.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved