Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, akan memaksimalkan peran kelompok swadaya masyarakat (KSM) untuk menangani volume sampah. Langkah itu dilakukan lantaran kondisi TPA Pasirsembung yang sudah mengalami kelebihan kapasitas.
Bupati Cianjur Herman Suherman menuturkan, penanganan sampah di Kabupaten Cianjur menjadi hal penting yang mesti dipikirkan pemerintah daerah. Kondisi TPA Pasirsembung yang sebagian besar lahannya beralihfungsi menjadi ruang terbuka hijau, diperkirakan hanya mampu menampung sampah dua bulan ke depan.
"Jadi, penanganan sampahnya harus dari hulu. Kami sudah melaksanakan rakor (rapat koordinasi) dalam rangka penanganan sampah ini. Kita ingin memberdayakan KSM-KSM yang melibatkan masyarakat dan pemuda," kata Herman, Senin (13/11).
KSM ini nantinya berperan mengumpulkan sampah. Kemudian dipilah jenis sampah yang dibuang ke TPA. Sisanya bisa diolah untuk menghasilkan pendapatan secara finansial.
"Kami pemerintah akan memfasilitasi. Kita nanti agendakan studi banding ke daerah yang sudah berhasil mengolah sampah. Kita akan fasilitasi peralatannya dan juga tempat. Yang penting masyarakat ada kemauan. Kita juga coba maksimalkan kembali TPS 3R yang selama ini banyak yang tidak berjalan," tuturnya.
Dengan pola seperti itu, lanjut Herman, maka diharapkan volume sampah yang dibuang ke TPA Pasirsembung bisa berkurang. Sehingga diharapkan bisa memperpanjang usia teknis TPA sambil menunggu selesainya pembangunan TPA dan TPST di Kecamatan Cikalongkulon.
Baca juga:
> TPA Purbahayu Ditutup, Tumpukan Sampah Berserakan di Pangandaran
> TPID Cianjur Intensifkan Penetrasi Harga dan Kecukupan Komoditas
"Di Cikalongkulon direncanakan pada Desember (mulai dibangun). Itu merupakan proyek pemerintah pusat. Selesainya diperkirakan Oktober 2024. Sehingga kami pemerintah daerah harus memikirkan penanganan sampah sampai selesainya pembangunan," tegas Herman.
Solusi lain mengurangi volume sampah yakni dengan mendaur ulang menjadi pupuk organik. Herman sudah berkomunikasi dengan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan agar bisa mengolah sampah
menjadi pupuk organik.
"Buangan sampah ke TPA Pasirsembung hanya bisa menampung sekitar 40 ton setiap hari. Dengan adanya pemilahan bisa saja nanti berkurang menjadi 2-4 ton. Sisanya diolah KSM dan juga bisa diolah menjadi pupuk organik," katanya.
Herman menegaskan relokasi TPA ke Kecamatan Cikalongkulon sebetulnya sudah direncanakan sejak lama. Rencananya jauh sebelum terjadi gempa bermagnitudo 5,6 hampir setahun lalu.
"Sebetulnya bukan terlambat. Dampak dari bencana alam (gempa bumi), maka TPA Pasirsembung diubah fungsinya jadi RTH karena dikhawatirkan akan berdampak terhadap hunian tetap yang jaraknya berdekatan. Terlebih memang di TPA Pasirsembung sudah over kapasitas," pungkasnya. (Z-6)
HARGA sejumlah komoditas pangan kebutuhan masyarakat di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, merangkak naik mendekati Ramadan 1447 Hijriah.
Ramp check kendaraan angkutan umum dan barang dipusatkan di kawasan Terminal Pasirhayam, Selasa (10/2). Tim juga melakukan tes urine serta memeriksa kondisi kesehatan para pengemudi.
Pajak dan retribusi daerah merupakan salah satu instrumen yang berkontribusi besar terhadap pembangunan daerah.
Kerja sama itu diharapkan bisa menangani masalah sampah sekaligus menghasilkan energi listrik.
KUOTA haji tahun ini di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, berkurang dratis jika dibandingkan dengan sebelumnya.
CUACA ekstrem akhir-akhir ini memicu curah hujan tinggi yang meningkatkan potensi gagal panen. Pemerintah setempat mulai ancang-ancang mengantisipasi potensi tersebut.
Sejumlah wilayah di Kabupaten Karawang dilaporkan terdampak banjir dalam beberapa hari terakhir. Namun, salah satu kawasan permukiman di wilayah tersebut tidak terkena imbas.
Ia mengakui capaian tersebut masih jauh dari ketentuan ideal. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan porsi RTH Jakarta dapat mencapai 30% pada 2045.
Kendala utama berada pada pengadaan tanah, baik melalui pembelian maupun pembebasan lahan, yang kerap berbenturan dengan realitas sosial dan ekonomi kota padat.
"Kalau taman kita sudah terawat dengan bagus, pengunjung akan lebih banyak lagi yang ke taman kita ini. Melihat kerapian, keindahan, oksigennya pun bisa kita nikmati,"
Tak hanya penting untuk aktivitas warga kota, Tebet Eco Park juga menjadi habitat bagi para satwa. Di antaranya adalah burung, reptil, hingga amfibi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved