Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
TIGA sungai di Padang perlu segera dinormalisasi karena masih mengakibatkan banjir untuk permukiman di sekitarnya, yakni Batang Maransi, Batang Balimbiang, dan Banda Luruih. Tiga sungai itu ialah Maransi, Banda Luruih, dan Balimbiang.
Anggota Komisi IV DPRD Sumbar M Nurnas mengatakan sudah sejak 2011 dewan rakyat Sumbar mencoba mencarikan solusi untuk kondisi ketiga sungai tersebut. Apalagi untuk Batang Maransi yang amat mendukung Sungai Sapih terkait pencegahan banjir. Hal itu dikarenakan Sungai Sapih dulunya adalah daerah serapan.
"Namun seiring waktu daerah yang dulunya dominan persawahan telah berubah. Banyak lahan yang telah beralih fungsi," ujarnya, Rabu (15/3).
Baca juga: Ratusan Rumah Terendam Akibat Luapan Sungai di Tasikmalaya
Nurnas menambahkan seluruh sungai di Padang adalah kewenangan Balai Sungai Wilayah V. Hal itu menyebabkan Pemprov Sumbar tak bisa turun tangan mengerjakan proyek normalisasinya.
Balai Sungai V tak kunjung tampak akan melakukan normalisasi. Sementara banjir semakin acap terjadi di pemukiman di dekat sana. Oleh karena itu, lanjut Nurnas, sejak 2011, terus berupaya melakukan langkah darurat untuk mengurai bencana banjir yang mengancam masyarakat di sana.
"Kita waktu itu panggil PSDA Sumbar, untuk antisipasi awalnya PSDA merancang membuat sodetan (memutus dan menghubungi dengan sungai lain) Banda Luruih panjang 1,2 kilometer," katanya.
Baca juga: Banjir Bandang di Lahat, Satu Bocah Tewas Terseret Arus Sungai Lematang
Lalu pada 2012, tambah Nurnas, DPRD dan Pempov Sumbar menyepakati anggaran Rp48 miliar dari APBD Sumbar untuk normalisasi sungai tersebut. Sementara untuk pembebasan lahannya menjadi tanggung jawab Pemko Padang.
"Tapi, pembebasan lahannya mangkrak, hingga akhir jabatan wali kota waktu itu Pak Fauzi Bahar. Meski tidak selesai Pemprov Sumbar tetap sediakan anggaran. Alasannya, paham kondisi kota Padang dan untuk kenyamanan masyarakat dari ancaman banjir," ucap Nurnas.
"Sampai hari ini Banda Luruih sudah menyerap anggaran APBD Sumbar Rp 64 miliar jauh dari tuntas sedangkan untuk Balimbiang baru Rp 4,5 miliar" lanjut Nurnas. Ia menambahkan, jika normalisasi tiga sungai itu terus dilanjutkan, nantinya akan terganjal kewenangan.
"Karena sungai di Padang bukan kewenangan Provinsi, DPRD meminta Pemko Padang harus mengkoordinasikan ke Pemprov untuk rapat dengan Balai Sungai. Tiga sungai itu butuh biaya fantastis mulai dari biaya pembebasan lahan dan pengerjaan fisiknya," tambah Nurnas.
Pada peninjauan Komisi IV ke lapangan itu, tempo hari, Nurnas meminta Dinas PSDA untuk mengeruk sedimen san menyiapkan survei investigasi desain (SID) untuk Batang Balimbing.
"Setelah SID selesai, baru nanti akan ketahuan di mana permasalahannya. Juga untuk antisipasi di dekat Kantor Baznas Padang hingga kebelakang, Dinas PSDA dimininta untuk melakukan pengerukan, Allhamdulilah masyarkaat dan lurah di sana menjamin mendukung pengerukan itu," ujar Nurnas.
Selain itu diusulkan anggaran pada 2024 untuk membangun turap sepanjang 500 meter. "Dan kiri kanan termasuk pada abudmen jembatan juga diperbaiki," pungkasnya. (Z-6)
Bencana banjir terparah saat ini melanda Desa Tebing Tinggi di Kabupaten Balangan, ketinggian air mencapai lebih dua meter
Mikroplastik tidak hanya membawa risiko dari bahan dasarnya sendiri seperti ftalat dan BPA yang bersifat pengganggu hormon, tetapi juga bertindak seperti magnet yang menyerap racun lain
Miliaran tahun silam, air pernah mengalir di permukaan Mars. Para ilmuwan sepakat bahwa planet ini pernah memiliki jaringan Sungai.
Perubahan warna air kali terjadi pada Sabtu (4/10) sore hingga petang kemarin.
Pada era modern saat ini, peradaban terbaik untuk Kabupaten Bekasi adalah mengembalikan hamparan sungai sepanjang mungkin tanpa ada yang membatasi.
Para peneliti menemukan lebih dari 15.000 km aliran sungai kuno di Mars, menunjukkan Planet Merah pernah hangat dan basah akibat hujan.
Peninjauan banjir Pekalongan dilakukan untuk memastikan keselamatan warga terdampak sekaligus mengecek kesiapan penanganan banjir secara berlapis.
Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, Sabtu (17/1) di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh misalnya, ratusan ribu penyintas banjir masih krisis kebutuhan dasar.
BNPB bersama kementerian/lembaga, pemerintah daerah, unsur TNI/Polri, serta mitra swasta terus mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) di Aceh Tamiang.
MENTERI Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, mengatakan masih ada siswa korban bencana banjir Aceh yang belajar di tenda pengungsian.
BENCANA banjir dan 18 titik longsor melanda Kabupaten Jepara, sebanyak 1.445 keluarga ( 3.522 jiwa) warga Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara terisolasi akibat terputusnya akses jalan.
mitigasi bencana tidak dapat hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi juga harus menyentuh perubahan perilaku serta penguatan kesiapan mental masyarakat
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved