Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
AKSI kekerasan terhadap seorang balita kembali terjadi. Kali ini, peristiwa tersebut terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pelaku, OAT mengikat kaki dan tangan balita bernama YN, 2, kemudian ditinggalkan sendirian di dalam rumah. Kejadian di Desa Tunua, Kecamatan Mollo Utara, Timor Tengah Selatan sejak 20 Januari 2023, Namun kasus ini menjadi perhatian khalayak setelah viral di media sosial.
Kabid Humas Polda NTT Kombes Aryasandy, Senin (30/1) mengatakan, kejadian berawal saat petugas dari Yayasan CIS Timor melakukan sosialisasi tentang perlindungan perempuan dan anak tak jauh dari lokasi kejadian. Mereka mendengar suara tangisan bayi yang kemudian mendatangi sumber suara. Lewat ventilasi rumah, mereka melihat tangan dan kaki YN terikat dan tergeletak di lantai dekat tempat tidur.
Kejadian itu langsung dilaporkan ke kepala desa dan bersama warga mendatangi rumah tersebut untuk menyelamatkan sang balita. Setelah diselamatkan, ia dijemput oleh rumah sekretaris daerah setempat untuk mendapat perlindungan.
"Alasan ibu pelaku mengikat korban karena masih berumur dua tahun dan apabila buang air besar sering bermain kotorannya sendiri, sehingga pelaku mengikat korban karena hendak pergi memberi makan sapi di kebun," katanya.
YN diketahui bukan anak kandung OAT, melainkan berstatus ibu angkat. "OAT adalah tente kandung korban," ujarnya.
Adapun pelaku diduga mengalami depresi ditinggal suami bersama ibu kandung YN pergi merantau ke Kalimantan. Di rumah tersebut, tinggal lima orang, OAT bersama YN serta tiga anak lagi yang merupakan anak dari OAT bersama suaminya.
Saat kejadian, tiga anak tersebut sedang berada di sekolah. Sebelumnya kasus itu diduga terkait penculikan anak, namun dibantah oleh polisi. (OL-15)
PEMERINTAH Provinsi Sumatra Utara mencatat lonjakan kasus kekerasan terhadap anak yang didominasi oleh kekerasan seksual sepanjang tahun 2025.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya membangun ekosistem hukum yang kuat serta edukasi yang memadai untuk melindungi anak-anak.
kasus kekerasan terhadap siswa ini mencederai rasa kemanusiaan.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menyampaikan keprihatinan mendalam atas maraknya kasus penculikan anak yang terjadi belakangan ini.
Psikolog anak, Mira Damayanti Amir, menekankan bahwa darurat kekerasan tengah terjadi di Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved