Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 40 SD dan SLTP di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur,
mengikuti proses akreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional.
Proses tersebut dilakukan dengan mempersiapkan berbagi jenis administrasi, mempersiapkan guru, siswa, orangtua hingga pengurus Komite sekolah untuk menjawab pertanyaan yang diajukan para aksesor.
Berbagai pertanyaan ditujukan kepada Kepala Sekolah, antara lain
berkaitan penggunaan anggaran, bagaimana proses supervisi guru di kelas
serta pelaksanaan kurikulum merdeka belajar.
Kepala Sekolah SD Inpres II Waikomo, Fransiskus Xaverius Dua, salah satu peserta akreditasi sekolah di Lembata, Selasa (22/11) menjelaskan, Proses akreditasi berlangsung secara daring selama dua hari yakni pada 14 hingga 15 November 2022.
Ia menjelaskan, para pihak di sekolah siap menjawab pertanyaan yang
disampaikan oleh aksesor dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) serta
menunjukan bukti administrasi secara daring untuk selanjutnya dinilai.
"Banyak hal yang bisa dipetik dari proses akreditasi kali ini. Berbagai
pembenahan untuk menunjang kualitas pendidikan di sekolah kami benahi.
Berharap ada peningkatan nilai akreditasi sekolah kami," ungkap
Fransiskus Xaverius Dua, Kepala SD II Waikomo.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Lembata, melalui Kepala Dinas
Pendidikan, Anselmus Asan Ola, menjelaskan akreditasi merupakan salah
satu media untuk menilai kondisi sistem pendidikan di masing-masing
satuan pendidikan. Karena itu pihaknya terus mendorong peningkatan kreativitas guru dalam menata sistem pendidikan di satuan pendidikan masing-masing.
"Kualitas guru menjadi prioritas dalam peningkatan kualitas pendidikan
di kabupaten Lembata. Saat ini kami mendorong perubahan mindset
pendidikan dari mengejar angka ke mengejar nilai," ungkap Anselmu.
Ia menegaskan, Pendidikan harus mengedepankan penanaman nilai-nilai
luhur agar generasi muda bisa berakhlak mulia. "Melalui kurikulum lokal berbasis Lembata, diharapkan melahirkan generasi muda Lembata berakhlak mulia berdasarkan budaya Lembata. Tugas kita sekarang adalah mempersiapkan generasi sekarang untuk sukses di masanya nanti." (N-2)
Asap kawah terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang dan ketinggian sekitar 10 hingga 100 meter dari puncak.
Meski pengetahuan tinggi, sikap menghindari orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) juga sangat tinggi.
Petugas Pos Pengamat Gunung Lewotolok, Syawaludin, mengatakan gunung dengan ketinggian 1.423 meter di atas permukaan laut itu masih berada pada status Siaga atau Level III.
Perlindungan satwa adalah bagian tak terpisahkan dari mitigasi bencana dan keseimbangan ekosistem.
Badan Geologi Kementerian ESDM menaikkan status aktivitas gunung tersebut dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak Minggu (18/1) pukul 11.00 Wita.
Aktivitas erupsi ini terekam dengan amplitudo maksimum mencapai 36,2 mm dan durasi sekitar 1 menit 25 detik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved