Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDAK ada cara yang lebih ampuh dalam melawan terorisme kecuali dengan melibatkan masyarakat. Hal itu dikatakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia Komjen Pol. Boy Rafli Amar.
Menurutnya, cara ampuh dalam melawan ideologi radikalisme terorisme dapat dilakukan dengan pertahanan semesta. Salah satunya dengan pendekatan soft approach melalui dialog kebangsaan.
"Kita lawan terorisme dengan pertahanan semesta dalam menghadapi ideologi terorisme salah satunya melalui warung NKRI ini," ujarnya.
Boy menerangkan perang melawan faham radikalisme tidak bisa lagi dengan senjata namun dengan penguatan rasa cinta tanah air dan bangsa. "Jadi kalau masyarakat cinta NKRI, musuh negara yang namanya terorisme tidak akan pernah bisa datang."
Ia menambahkan, sosialisasi ideologi kebangsaan dan membangun gerakan cinta NKRI di seluruh Indonesia sangat penting dan strategis sebagai upaya vaksinasi terhadap virus intoleran. "Kita harus yakin negara kita dapat melawan terorisme melalui wawasan kebangsaan, revitalisasi Pancasila, moderasi beragama, pembangunan kesejahteraan dan penguatan akar budaya bangsa."
Menurut dia kelompok teroris tidak suka dengan keberagaman karena sifat mereka yang ekslusif dan intoleran. Karena itu generasi muda baik pelajar, mahasiswa, anggota organisasi kemasyarakatan menjadi garda terdepan untuk melawan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. (RO/A-1)
Keterlibatan aktif orang tua dalam komunitas pengawasan dinilai menjadi faktor kunci dalam memutus mata rantai penyebaran paham ekstrem.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
Densus 88 mengungkap remaja 14 tahun di Jepara memiliki koneksi dengan pendiri kelompok ekstremis Prancis BNTG dan aktif di komunitas True Crime.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gim online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
Radikalisme dan intoleransi tidak bisa dilawan hanya dengan regulasi, tetapi dengan penghayatan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman etis bersama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved