RODA perekonomian masyarakat di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara, masih belum pulih. Pembatasan sosial masyarakat selama pandemi covid -19, berdampak kepada penurunan perekonomian warga.
Lena Hutabarat, 45, perajin tenun ulos Batak di Tarutung, (24/5) mengaku mengalami penurunan pesanan ulos miliknya selama pandemi covid -19.
"Saya terpaksa memilih bercocok tanam padi gogo selama pandemi covid-19, sebab saat itu pesanan tenun ulos Batak minim, katanya.
Ia baru memulai aktivitasnya sebagai penenun ulos sejak Januari 2022. "Pesanan masih sedikit sampai sekarang."
Ekonomi Friska Hutabarat, warga Kecamatan Garoga, juga belum bergerak. Ia mengaku tidak memanen jahe miliknya akibat harga jual yang masih rendah, yakni Rp3.000-Rp4.000 per kilogram.
"Saya memilih untuk tidak memanen jahe milikku karena harga jual yang sangat rendah. Pasalnya jasa panen dan jasa angkut tidak seimbang dengan harga jual,"
Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan mengakui belum bergeraknya ekonomi warga. Untuk itu, ia meminta pengalokasian Dana Desa dilanjutkan untuk kegiatan ketahanan pangan.
"Saya minta dianggarkan untuk pengadaan ternak, baik ayam maupun bebek. Itu upaya untuk memulihkan ekonomi masyarakat," jelasnya.
Menanggapi perintah bupati, Parlindungan Sinaga, Kepala Desa Tapian Nauli, Kecamatan Adiankoting, mengaku akan membeli bibit ayam untuk memulihkan ekonomi warganya.
"Kami juga berharap masa panen baik, sehingga juga membantu roda perekonomian warga," tandasnya. (N-2)