Selasa 19 April 2022, 21:30 WIB

Pengusaha Truk tidak Keberatan Harga Solar Subsidi Dinaikkan

Haryanto | Nusantara
Pengusaha Truk tidak Keberatan Harga Solar Subsidi Dinaikkan

MI/HARYANTO
Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo ) Jateng & DIY, Bambang Widjanarko

 

 

KALANGAN  pengusaha truk Indonesia menyarankan agar pemerintah menaikkan harga solar subsidi untuk mengurangi beban Anggaran Pendapatan dan belanja Negara (APBN).

Apalagi, harga minyak dunia saat ini telah menembus US$100 per barrel, jauh di atas asumsi dasar APBN 2022 di angka US$ 63 per barrel.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo ) Jateng & DIY,
Bambang Widjanarko mengatakan, jika pemerintah tetap tidak mau mencabut
subsidi, tapi tidak mau tekor lebih banyak akibat kenaikan harga minyak
dunia, maka pemerintah disarankan untuk menetapkan batas subsidi.

Dicontohkannya, pemerintah bisa mensubsidi dengan batasan Rp2.000-Rp3.000 dari harga keekonomian.

"Kalau memang mau dinaikkan, ya silakan naikkan saja, tapi jangan dilepas subsidinya. Jangan dilepas menurut harga keekonomian. Jadi, nanti harga bisa di kisaran Rp8.000-Rp9.000 per liter," kata Bambang.

Bambang juga menyarankan, solar subsidi hanya dijual untuk semua jenis
angkutan umum atau barang saja, nelayan dan juga petani, agar lebih tepat sasaran. Sementara penjualan solar untuk kendaraan pribadi seharusnya dilarang, karena dinilai tidak tepat sasaran.

"Seharusnya BBM jenis solar tersebut hanya dijual kepada angkutan umum
darat, sungai, dan laut, para petani, serta nelayan saja. Tidak
diperuntukkan bagi semua jenis kendaraan pribadi," ujar Bambang.

Sebagai bentuk pengawasan terhadap penjualan solar subsidi, lanjut Bambang, pemerintah juga perlu membentuk satgas yang juga melibatkan para pengusaha angkutan umum dan barang. Pemerintah bisa melibatkan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) yang berasal dari akademisi, untuk mengawasi penyaluran solar subsidi.

"Perlu juga diberikan sanksi yang tegas dan jelas bagi SPBU jika ada yang terbukti menyalurkan solar kepada yang tidak berhak. Kalau saat ini, kita lihat pengawasan hanya berasal dari unsur pemerintah saja," tukasnya.

Bambang pun menegaskan, meski sejumlah daerah mengalami kelangkaan solar, seperti di Sumatra, Kalimantan dan  Sulawesi, namun hal itu tidak terjadi di wilayah Jawa Tengah. Sejauh ini, pihaknya cukup mudah mendapatkan solar, karena pasokan dari Pertamina mencukupi.

"Di Jawa Tengah tidak ada kelangkan solar hingga hari ini. Bahkan, tidak ada pembatasan pembelian solar," tandasnya.

Beban subsidi


Pengamat Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang, Firmansyah mengatakan, fluktuasi harga minyak dunia saat ini akan menyebabkan
beban subsidi makin meningkat. Apalagi, semakin jauh selisih harga minyak internasional dengan harga produk BBM di dalam negeri, bakal membuat subsidi yang digunakan untuk mempertahankan atau menjaga harga BBM rendah di dalam negeri semakin membesar.

"Adanya fenomena tersebut maka wacana pemberian subsidi energi langsung
kepada orang perlu untuk didukung. Hal ini dilakukan agar subsidi yang
diberikan bisa lebih tepat sasaran dibandingkan jika subsidi diberikan
kepada barang," ujarnya.

Menurut Firmansyah, jika subsidi diberikan atas produk, maka orang yang
tidak memerlukan subsidi (orang mampu/berpenghasilan tinggi) juga akan
dapat mengakses barang bersubsidi tersebut. Dengan begitu, subsidi jadi
tidak tepat sasaran.

"Namun, biasanya subsidi atas produk/barang lebih mudah diterapkan
dibandingkan dengan subsidi atas orang," ungkapnya.

Firmansyah menuturkan, pengurangan subsidi secara langsung bisa dilakukan secara bertahap, dengan klasterisasi, yaitu pada poduk yang dibeli oleh kelompok masyarakat golongan mampu dan kelompok golongan pendapatan rendah.

Sementara, BBM yang digunakan klaster masyarakat golongan pendapatan rendah masih diberikan subsidi, dan jika dikurangi hanya sedikit.

"Untuk golongan mampu, subsidi dapat dikurangi sepenuhnya, atau dapat
dilakukan pengurangan subsidi bertahap, agar tidak terjadi shock pada daya beli," tuturnya.

Firmasnyah menambahkan, jika beban subsidi dalam APBN tidak segera diatasi, maka dana yang siap dibelanjakan untuk hal lain menjadi berkurang. Misalnya belanja untuk pembangunan sekolah, kesehatan, infrastruktur dan layanan publik lainnya.

"Anggaran yang dimiliki pemerintah tentu terbatas, sehingga hal ini dapat memperlambat pembangunan yang juga dibutuhkan oleh masyarakat,"
pungkasnya. (N-2)

Baca Juga

ANTARA

Vaksinasi PMK Di Sumsel Baru 80% Dari Target

👤Dwi Apriani 🕔Senin 04 Juli 2022, 19:15 WIB
PEMERINTAH Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) telah mendapatkan 12.200 vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dari pemerintah...
DOK MI

Pemkab Bandung Barat Data Jumlah Ternak Mati Akibat PMK

👤Depi Gunawan 🕔Senin 04 Juli 2022, 18:43 WIB
PEMKAB Bandung Barat, Jawa Barat masih melakukan pendataan jumlah hewan ternak yang mati karena terjangkit penyakit mulut dan kuku...
Antara

Hewan Kurban di Sulawesi Tengah Cukup dan Bebas PMK

👤M. Taufan SP Bustan 🕔Senin 04 Juli 2022, 18:28 WIB
Pemprov Sulawesi Tengah mencatat potensi ketersediaan hewan kurban pada tahun ini, yakni sapi 6.758 ekor, kambing 1.789 ekor dan domba 108...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya