Rabu 02 Februari 2022, 22:00 WIB

Awali Era Industri Tanaman Hias, Harga Monstera Terjun Bebas

Media Indonesia | Nusantara
 Awali Era Industri Tanaman Hias, Harga Monstera Terjun Bebas

Dok Minaqu Indonesia
Ade Wardhana Adinata

 

METODE kultur jaringan membuat harga tanaman hias monstera borsegiana albo variegata lebih murah. Dari sebelumnya mencapai puluhan juta rupiah kini bisa dibandrol dengan Rp300 ribu untuk ukuran 10 sentimeter.
 
Bukan hal baru kalau tanaman tersebut memiliki nilai yang tergolong fantastis. Tapi harga tersebut tidak lagi berlaku di Minaqu Indonesia. Eksportir tanaman hias terbesar Kota Bogor ini justru membandrol dengan harga jauh di bawah perkiraan.

"Kita cuma mau menerapkan fair trade. Berapa sih biaya produksi kami, berapa affordable prices yang bisa kami jual tanaman hias ini. Jangan terlalu mahal seperti apa yang terjadi dewasa ini di Indonesia," ujar CEO Minaqu Indonesia Ade Wardhana Adinata di Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (2/2). 

Ade menjelaskan, memperbanyak tanaman hias tersebut melalui metode kultur jaringan. Oleh karena itu, harga yang dipatok pun bisa jauh lebih murah. Harga yang mencapai puluhan hingga ratusan juta itu sudah mengusik batinnya. 

"Apalagi tujuan Minaqu juga ingin agar tanaman hias terjangkau bagi semua orang. Memperbanyak dengan cara kultur jaringan mendorong market size yang lebih besar lagi. Itu sebabnya kami menyiapkan suplai sekitar 1 juta tanaman monstera albo. Sekira 300 ribu di antaranya telah mendapatkan pemilik, baik di dalam maupun luar negeri. Bahkan kami juga secara terbuka mengatakan kepada petani tanaman hias yang ingin menjualnya kembali. Tentu saja, penjualan dengan harga murah namun tetap memberikan keuntungan bagi mereka," ungkap Ade lagi.

Ia berpendapat, lonjakan harga tanaman hias sangat dipengaruhi oleh supply dan demand yang tidak seimbang. Untuk mengejar demand yang tinggi, mereka mencoba mengejar supply itu. Polanya memperbanyak supply tanaman hias melalui cara yang tidak konvensional. 

"Kualitas kultur jaringan itu tidak akan kalah dengan tanaman yang diproduksi secara konvensional. Karena pada prinsipnya, tanaman kultur jaringan itu kan sama-sama, tapi diperbanyak lagi di dalam laboratorium. Jadi, kualitas dan kesesuaian dengan indukan itu sama, tidak akan berbeda. Ini sudah dilakukan di Thailand, Singapura, maupun Vietnam (para eksportir tanaman hias dunia)," sambungnya lagi.

Harga yang sangat bersaing itu pun menjadi langkah awal Minaqu mematok era industri tanaman hias. Ke depan, tambah Ade, pihaknya bakal memperbanyak tanaman hias monstera jenis lain dengan metode kultur jaringan. Khususnya yang kini memiliki harga-harga fantastis kisaran puluhan hingga ratusan juta rupiah. (RO/O-2)

Baca Juga

Dok. Pribadi

Sekwan DPRD Maybrat Ferdinandus Taa Dinilai Figur Tepat Jadi Penjabat Bupati Maybrat

👤Thomas Harming Suwarta 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 23:15 WIB
Sebagai putra daerah Maybrat, Ferdinandus Taa dinilai memiliki rekam jejak yang baik dalam kepemimpinan, mengenal wilayah dan seluk beluk...
ANTARA/Rony Muharrman

Polda Masih Buru Bos Judi Online Terbesar di Sumut

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 23:05 WIB
Polda Sumut terus mencari bos judi online terbesar yang bernama ABK dan hingga kini tidak diketahui...
dok.ist

Ruangan di Kantor Bupati Pemalang Disegel KPK

👤Supardji Rasban 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 22:52 WIB
PETUGAS Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendatangi kantor Bupati Pemalang, Jawa Tengah, Kamis...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya