Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DI ZAMAN sekarang, jarang ditemukan anak muda atau generasi milenial yang mau berjualan sayur. Tetapi tidak bagi, Apriliani Loli, warga RT O30 RW O9, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Gadis berusia 23 tahun, lulusan dari SMASK Bhaktyarsa Maumere ini, tinggalkan gengsi dan memilih untuk berjualan sayuran keliling dengan mendorong gerobak setiap harinya. Sebagai anak kedua dari lima bersaudara, ia memutuskan mengais
rezeki dengan berjualan sayur untuk menggantikan ayahnya yang saat menjadi tukang ojek.
Sementara itu, sang ibu sudah meninggal dunia sejak ia masih SMP. Mau tidak mau, ia harus menjalankan usaha tersebut demi bisa menghidupi adik-adiknya. Usaha berjualan sayur ini sudah digeluti sekitar tujuh tahun ini.
Sebagai seorang perempuan, ia pun tidak merasakan malu saat teman-teman bangku sekolahnya melihatnya. Namun ia tetap semangat untuk melakukan usahanya menjual sayuran. Apalagi ibu-ibu rumah tangga yang menjadi langganannya sudah menunggu.
Untuk berjualan, Apriliani biasanya mendorong gerobaknya sendiri yang panjangnya mencapai dua meter. Terkadang, dia menggunakan motor saat ayahnya libur ngojek.
Setiap paginya, ia harus mengeluarkan tenaga untuk mendorong gerobaknya. Terutama ketika jalan tanjakan saat berkeliling dari rumah ke rumah untuk menawarkan barang dagangannya.
Panasnya, Kabupaten Sikka tidak membuat dirinya surut dan tak kenal lelah untuk mencari rezeki. Beralasaskan sandal jepit, Aprialiani mendatangi pelanggannya hingga puluhan kilometer mendorong gerobaknya setiap harinya.
Saat ditemui mediaindonesia.com, Sabtu (20/11) disaat Aprialiani beristirahat, ia mengaku sejak dari kecil ia sudah diajarkan oleh kedua orang tuanya untuk bekerja. Setiap kali pulang dari sekolah, ia harus menemani ayahnya untuk berjualan sayuran dengan menggunakan gerobak.
"Dulu saya masih SMP, saya selalu temani ayah untuk jual sayuran. Yang dorong gerobak dulu ayah. Kalau jalannya tanjakan, biasanya saya bantu dorong gerobak dari belakang. Jadi saya temani ayah, kalau sore hari untuk menjual sayur dengan mengelilingi kampung. Kan kalau pagi, saya harus pergi sekolah," ujar dia.
Ia pun mengaku ketika tamat SMA, dirinya langsung mengambil alih untuk menjual sayur dengan mendorong gerobak. "Jadi yang pergi belanja sayuran di pasar itu ayah. Saya tunggu dirumah untuk persiapan segalanya. Jadi ketika sayuran datang, saya mulai letakkan di gerobak. Selanjutnya saya mulai keliling kampung untuk menjualnya," ungkap dia.
Saat ditanya penghasilannya, Apriliani menjawab cukup untuk membiayai sekolah dan makan adik-adiknya. Rata-rata keuntungannya sehari mencapai Rp100 ribu dalam kondisi normal.
"Tetapi sekarang sejak pandemi belum normal lagi, sehari bisa Rp50 ribu. Di musim hujan juga pendapatan biasanya turun. Berapapun pendapatannya, saya tetap bersyukur," ujar Apriliani.
Ketika ditanya apakah malu menjual sayur dengan mendorong gerobak, Apriliani tertawa kecil dan balik bertanya, "Kenapa malu? yang korupsi dan melakukan perbuatan terlarang aja banyak yang tidak malu. Apalagi yang saya lakukan ini halal, saya tidak malu lah," jawabnya bangga.
Meskipun hasilnya relatif kecil, Apriliani mengaku tetap bersyukur atas upayanya bisa membantu ekonomi keluarhanya. Daripada berdiam diri atau menghabiskan waktu yang tidak bermanfaat, lebih baik melakukan hal-hal yang bermanfaat.
"Saya sangat optimis, rezeki itu Tuhan sudah mengaturnya. Jadi buat apa kita malu, kan kita tidak curi mengambil yang bukan hak kita. Berjualan sayurkan juga pekerjaan mulia. Jadi saya mensyukuri sekali," pungkas dia. (OL-13)
Baca Juga: UMP 2022 Naik Rp29 Ribu Buruh di Kalsel Ancam Berunjukrasa
IA sampai pada ujung hidupnya. Tapi narasi kepergiannya tak berujung. Ia pergi dalam sunyi. Pamit dalam diam. Diam dan sunyi itu menjadi saksi terakhir ziarah hidupnya.
KOMISI Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta lembaga terkait memberikan pendampingan psikososial untuk saudara dan keluarga anak korban bunuh diri di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi, korban sering meminta ibunya untuk melakukan pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk memenuhi kebutuhan sekolah.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulangnya siswa tersebut.
Kehadiran tim psikologi Polda NTT merupakan respons cepat dan terukur untuk memastikan keluarga korban mendapatkan penguatan mental yang memadai.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) sekaligus Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini.
Ditpolairud Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil menyelamatkan dua ekor penyu laut dilindungi dari upaya perburuan di perairan Desa Henga, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.
Sayangnya, ekosistem berupa tanaman penyangga pantai, dibiarkan tanpa adanya tanda-tanda reklamasi.
Pemerintah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menggelar pelatihan pengelolaan sampah
Kematian tragis ibu hamil Maria Yunita dan bayinya di Kabupaten Sikka, NTT, memicu kecaman keras dari masyarakat dan organisasi masyarakat sipil di wilayah tersebut.
Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka mendukung penuh pelaksanaan Festival Maumerelogia 5 yang akan berlangsung pada 15-24 Mei 2025.
Sebanyak empat orang yang diduga sebagai aktor intelektual di balik kasus Hak Guna Usaha (HGU) Tanah Nangahale di Kecamatan Talibura, Kabupaen Sikka, dilaporkan ke Polda NTT.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved