Kamis 07 Oktober 2021, 20:56 WIB

Indonesia Krisis Petani Muda

Bayu Anggoro | Nusantara
Indonesia Krisis Petani Muda

MI/Supardji Rasban
Ilustrasi

 

JUMLAH petani di Indonesia terus berkurang meski dikenal sebagai negara agraris. Hal ini berdasarkan data Sakernas (Survei Angkatan Kerja Nasional) Agustus 2020 yang diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat Dyah Anugrah Kuswardani saat webinar 'Transformasi Pertanian Jawa Barat Bersama Petani Milenial yang Inovatif dan Kekinian; Peluang dan Tantangan', Kamis (7/10).

Dia menyontohkan, proporsi petani di Jawa Barat paling banyak berada pada kelompok umur 45-49 yaitu sebanyak 36,30%. Sementara, petani berusia 30-44 hanya 24,06%.

Apalagi jika dilihat menurut tingkat pendidikan, ternyata dari seluruh tenaga kerja di sektor pertanian tersebut sebanyak 81,32% nya berpendidikan setara SD ke bawah.

"Krisis petani muda merupakan satu persoalan dari sekian banyak persoalan di sektor pertanian," ujarnya.

Melansir penelitian dari LIPI pada 2019, menurunnya minat pemuda terhadap petani disebabkan karena generasi muda melihat profesi petani tidak menguntungkan dan tidak membanggakan. Dyah menilai pemuda desa lebih tertarik mencari pekerjaan di kota dan tidak kembali lagi ke desa sehingga lahan-lahan pertanian di perdesaan kehilangan tenaga kerja muda, yang tersisa adalah petani dengan penduduk yang semakin menua.

Baca juga : Polres Cianjur Target Cakupan Vaksin Minimal 1.874 Dosis Per Hari

Masalah penuaan usia petani patut menjadi perhatian semua pihak. Jika kegiatan produksi pertanian hanya dilakukan oleh generasi tua, maka perlahan tapi pasti jumlah petani akan semakin berkurang dari tahun ke tahun.

"Akibatnya produksi pertanian juga akan ikut menurun, dan selanjutnya sangat dimungkinkan akan terjadi ketidak-seimbangan antara ketersediaan produksi dengan kebutuhan konsumsi," jelasnya.

Semakin menyusutnya jumlah petani yang produktif tidak saja memengaruhi aspek ekonomi, tetapi juga bisa menimbulkan isu lingkungan.

Lahan-lahan pertanian yang terlantar karena tidak ada lagi yang menggarap bisa berubah fungsi menjadi lahan perumahan, industri, dan infrastruktur lainnya. Sehingga lahan-lahan pertanian akan semakin menyusut dan muncullah permasalahan ketidakseimbangan lingkungan.

"Dengan daya dukung teknologi dan kemampuan berinovasi, masih ada harapan buat kita menyelamatkan katahanan pangan Indonesia, dan Jawa Barat pada khususnya. Para generasi milenial perlu membuka matanya bahwa banyak contoh sukses para pelaku bisnis di sektor pertanian," katanya. (OL-2)

 

Baca Juga

MI/Ruta Suryana

Lebih 75 Ribu Orang Minta KKP dan KLHK Bebaskan 7 Ekor Lumba Lumba

👤Arnoldus Dhae 🕔Senin 29 November 2021, 12:45 WIB
LEBIH dari 75 ribu orang memberikan dukungan agar KKP dan KLHK membebaskan tujuh lumba lumba di...
MI/Solmi

Geo Fun Rafting 2021 Siap Digelar di Geopark Merangin

👤Solmi 🕔Senin 29 November 2021, 11:50 WIB
KAWASAN Geopark Merangin yang tengah dipersiapkan sebagai situs warisan dunia oleh Unesco (Unesco Global...
MI/Moat

Capaian Target PAD Dinkes Sikka Turun, Alasannya Pandemi

👤Gabriel Langga 🕔Senin 29 November 2021, 11:20 WIB
PENDAPATAN Asli Daerah (PAD) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur tahun 2021 mengalami...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya