Sabtu 28 Agustus 2021, 19:40 WIB

BKSDA Jateng Lepasliarkan Kukang Jawa di Hutan Temanggung

Atalya Puspa | Nusantara
BKSDA Jateng Lepasliarkan Kukang Jawa di Hutan Temanggung

Dok BKSDA Jateng
Pelepasliaran kukang

 

BKSDA Jawa Tengah bersama Ditreskrimsus Polda Jawa Tengah, Perum Perhutani KPH Kedu Utara, serta Forkompinca Bejen Temanggung melepasliarkan satwa dilindungi jenis Kukang Jawa (Nycticebus javanicus).

Sebanyak enam ekor Kukang Jawa dilepasliarkan di Hutan Alam Sekunder Curug Onje, Temanggung, Jawa Tengah. Kukang Jawa tersebut merupakan hasil penyerahan masyarakat dan barang bukti tindak pidana konservasi hayati, yang ditangani Polda Jawa Tengah, serta mempunyai kekuatan hukum tetap.

“Pemilihan lokasi pelepasliaran di Hutan Alam Curug Onje Temanggung didasarkan pada hasil penelitian UGM tahun 2019 tentang Okupansi Kukang Jawa di Hutan Tropis Dataran Rendah di Kemuning, Bejen, Temanggung, Jawa Tengah," ujar Kepala BKSDA Jawa Tengah Darmanto dalam keterangan resmi, Sabtu (28/8).

Baca juga: Tiga Orangutan Dilepasliarkan di Taman Nasional Betung Kerihun

"Diketahui bahwa Kukang Jawa berhasil terdeteksi 33 kali perjumpaan selama periode survei malam. Lebih banyak ditemukan di hutan sekitar Curug Onje,” imbuhnya.

Kondisi Hutan Alam Sekunder Curug Onje dan sekitarnya masih cukup bagus, sehingga diharapkan Kukang Jawa dapat berkembang biak dan menambah populasi di alam. Menurutnya, Kukang juga berperan penting di habitat sebagai penyeimbang ekosistem alam dan merupakan predator pertama dalam rantai makanan.

Baca juga: Cinta Harimau tidak Berarti Memelihara sang Raja Rimba di Rumah

Selain itu, Kukang juga membantu penyerbukan dan penyebaran tumbuhan di alam, serta mengendalikan hama serangga yang berpotensi menyerang tanaman produktif masyarakat. Adapun kawasan Hutan Alam Sekunder Curug Onje juga merupakan habitat satwa dilindungi jenis Lutung Jawa (Trachypithecus auratus).

Kepala Perum Perhutani KPH Kedu Utara Damanhuri mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan pelepasliaran. Itu sebagai upaya pelestarian satwa dilindungi dan upaya membangun kembali fungsi ekologis, sehingga tidak terjadi kepunahan.

“Diperlukan sinergitas antar pihak dalam memantau satwa pascapelepasliaran secara periodik. Perlu kerja sama yang baik dari lembaga pemerintah, lembaga non-pemerintah, serta masyarakat dalam perlindungan satwa dilindungi,” pungkas Damanhuri.(OL-11)
 

 

 

Baca Juga

Antara/Raisan Al Farisi.

Lima Sapi Terkena PMK Masuk, Pemkot Bandung Kecolongan

👤Naviandri 🕔Kamis 26 Mei 2022, 15:15 WIB
Ada 13 daerah di Provinsi Jawa Barat (Jabar) yang menjadi zona merah PM, seperti Cianjur, Sumedang, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung...
Antara/Basri Marzuki.

Harga Pupuk Nonsubsidi Melejit, Petani Sawit Babel Menjerit

👤Rendy Ferdiansyah 🕔Kamis 26 Mei 2022, 14:39 WIB
Harga pupuk KCL sebelumnya Rp300 ribu kini naik menjadi Rp850 ribu per karung. Harga NPK Kebomas dari Rp270 ribu per karung naik menjadi...
MI/Rommy Pujianto

Inilah Aksi-Aksi Satpam Bank Menjaga Keamanan Nasabah dan Karyawan

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 Mei 2022, 13:48 WIB
Dikenal ramah, murah senyum pada nasabah, satpam bank berikut memiliki keberanian yang tak diragukan demi keamanan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya