Rabu 14 April 2021, 15:30 WIB

Menyulap Limbah Kayu Jadi Barang Perabot Berkualitas Tinggi

Tosiani | Nusantara
Menyulap Limbah Kayu Jadi Barang Perabot Berkualitas Tinggi

MI/TOSIANI
Kristiyanto,36, pemilik unit usaha Kayuki menunjukan produk kerajinannya yang dibuat dari limbah kayu jati belanda bekas palet.

 

RABU Siang (14/4) sejumlah orang mengunjungi unit usaha Kayuki di Kawasan Jalan Suwandi Suwardi ruas Madureso, Temanggung, Jawa Tengah. Seusai libur sehari pada awal Ramadan, pengunjung yang datang lebih ramai dari biasanya.

Ada yang sekedar melihat-lihat aneka barang furniture seperti meja, kursi, dan hiasan dinding. Banyak pula yang melakukan pemesanan.

Semua barang perabotan rumah di unit usaha Kayuki dibuat dari limbah kayu jati belanda. Kayu bekas palet pengiriman barang dari luar negeri ke Indonesia.

Di bagian belakang bangunan, sebanyak tujuh orang pegawai memproses
produksi barang perabot lainnya. Suara berdenging dari peralatan kayu
beradu bising dengan ramai suara knalpot kendaraan di jalanan depan
bangunan unit usaha. Si pemilik usaha, Kristiyanto, 36, dibantu staf lainnya dengan ramah melayani konsumen yang terus berdatangan.

Unit usaha Kayuki mulai dirintis Kristiyanto sekitar 2014. Ketika
itu ia masih bekerja sebagai karyawan bagian marketing dan iklan sebuah
media.

Awal 'bermain kayu' merupakan hobi yang ditekuninya di sela kesibukan bekerja. Terinspirasi aneka bentuk furniture yang dilihatnya di
banyak tempat, lelaki yang akrab disapa Yanto ini lalu mencoba mempelajari pembuatannya secara autodidak, lalu menuangkan kreativitasnya membuat furniture sendiri di waktu senggang.

"Barang pertama yang saya bikin waktu itu adalah jam dinding dari kayu.
Sampai sekarang masih saya simpan di rumah, tidak saya jual. Saya juga
bikin barang kecil-kecil lainnya, cuma pas awal belum bagus karena masih belajar," kenang Yanto.

Bagi Yanto, kayu selalu memunculkan daya tarik tersendiri. Peminat
furniture berbahan kayu sempat melonjak di masa lalu. Kemudian sempat surut karena teralihkan oleh perabot dari bahan plastik dan bahan lainnya.

Dalam pengamatan Yanto, belakangan ini masyarakat cenderung kembali mencari perabot kayu, dengan mengutamakan warna serat kayu natural sebagai trend mode furniture.

Dipilih kayu jati belanda menurut Yanto karena seratnya yang bagus.
Kayu-kayu tersebut juga telah mendapatkan perlakuan dulu sebelum digunakan sebagai palet pada penfiriman barang. Setelah itu, ia bisa langsung diproses menjadi furniture berkualitas.

Alasan lain, semula harga kayu jati belanda lebih murah karena merupakan barang limbah yang sudah dibuang menjadi sampah setelah selesai digunakan. Awalnya banyak pula yang memanfaatkan barang limbah ini sebagai bahan bakar.

"Seiring berjalannya waktu, mulai banhak yang membutuhkan kayu limbah ini untuk furniture sehingga sesuai hukum pasar maka harganya menjadi naik dua kali lipat lebih dari harga semula,"ungkap Yanto.

Sekitar 2015, lulusan SMKN 1 Temanggung ini berani menggandeng seorang profesional di teknis pengolahan kayu untuk membuka usaha. Awalnya
Yanto hanya menyerahkan gambar designnya untuk diproses tukang kayu
tersebut.

Pengerjaannya dilakukan di garasi rumahnya di Perumahan Madureso
Indah. Marketingnya dilakukan oleh Yanto sendiri dengan memanfaatkan
jaringan yang dia bangun selagi masih bekerja di media. Ia juga
memasarkannya melalui media sosial.

Tak dinyana, pesanan barang terus berdatangan. Pada pertengahan 2015,
Yanto memutuskan mundur dari tempatnya bekerja. Ia memilih
fokus pada pengerjaan kayu.

Ia juga mempelajari seluk beluk usaha kayu dengan terjun langsung pada produksi sembari melakukan sedikit riset pada sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang furniture. Pada saat yang sama, ia juga memperdalam teknik produksi perabot dari tukang kayu yang ia rangkul untuk bekerja dengannya.

Sebagai modal usaha, pria asal Desa Danupayan, Kecamatan Bulu, Temanggung ini menjual sepeda motornya seharga Rp4,5 juta. Uang tersebut ia belanjakan peralatan untuk menambah daftar kelengkapan peralatan yang sudah ada.

Yanto berupaya membidik target pasar kalangan muda dengan menerima
pesanan barang-barang furniture kekinian.

"Inspirasi saya adalah IKEA yang bisa bikin toko mebel dengan segitu banyak produk unik. Saya ingin menyediakan barang dari kayu termasuk furniture, ornamen, hiasan dinding sesuai keinginan konsumen. Ini bedanya dengan toko mebel biasa yang menyediakan produk tapi bukan sesuai pesanan orang," tutur Yanto.


<>Konsumen mancanegara<>

Di awal memulai usaha, ia mengalami banyak hal tidak menyenangkan. Suami dari Mariyana, 33, itu, kerap diremehkan dan dipandang sebelah mata lantaran memutuskan menjadi tukang kayu.

Menghadapi hal itu ia hanya bisa diam, sembari dalam hati bertekad ingin menunjukan pada mereka bahwa tidak ada salahnya menjadi tukang kayu. Bahkan profesi tukang kayu pun bisa menjadi impian dan cita-cita anak-anak di masa depan karena peluangnya besar dan hasilnya amat menjanjikan.

"Saya sempat belajar dari Komunitas Hobi Kayu, saya juga dapat kesempatan belajar kayu di Yogyakarta," katanya.

Pada 2016 Yanto menyewa tempat usaha di daerah Madureso seluas 30 meter
persegi. Ia telah menggunakan nama Kayuki untuk unit usahanya.

Kayuki berasal dari kata kayu dalam Bahasa Indonesia dan Ki bermakna kayu juga dalam Bahasa Jepang. Jika ditafsirkan melalui Bahasa Jawa, Kayuki berarti iki kayu atau ini kayu. Nama itu dipilih sebagai brand untuk memudahkan orang mengingat produk kayu dari Kayuki.

Lokasinya tepat di sebelah lokasi tempat usahanya sekarang. Kini usaha
tersebut sudah tumbuh menjadi CV. Sejak 2019 Kayuki menempati lokasi baru seluas 200 meter persegi, dengan tujuh orang sebagai pekerja. Yanto juga berniat merekrut tim khusus pemasaran untuk mendukung usahanya.

"Dari semua kendala usaha yang ada, paling sulit itu mempertahankan tim
kerja yang solid, karena timnya bongkar pasang. Hanya satu orang yang
bertahan sejak awal. Jika seseorang tidak punya dasar suka dengan kayu,
maka tidak akan bertahan lama di sini," paparnya

Usaha yang dirintis bapak tiga anak ini terus berkembang. Pesanan terus
berdatangan untuk membuat paket interior di kafe dan restoran.

Barang produksinya juga dipesan konsumen dari berbagai daerah di seluruh Indonesia serta luar negeri. Antara lain Swiss, Hongkong, dan Malaysia.

Satu unit barang dijual dengan harga yang bervariasi antara Rp20 ribu harga terendah hingga Rp60 juta. Pendapatannya rata-rata bisa mencapai antara Rp40 juta hingga Rp60 juta per bulan.

Adapun belanja bahan kayunya sekitar Rp3,5 juta sampai Rp4 juta per bulan.

"Jatuh bangun dalam usaha itu biasa, yang penting kita yakin dulu dan
berpikir bahwa ini akan menjadi besar sehingga berjuang keras untuk mencapainya," pungkasnya. (N-3)

Baca Juga

Dok. CBiznet

Biznet Hadirkan Internet Cepat untuk Fasilitas Umum di Kupang

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 19 Mei 2021, 02:00 WIB
Adi menuturkan, kerja sama itu mencakup dukungan Biznet dalam penyediaan koneksi WiFi gratis di berbagai fasilitas umum, seperti...
modernpest.comI

Telah Sepekan Delapan Desa di Aceh Diserang Lalat

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 19 Mei 2021, 00:39 WIB
Masyarakat dari delapan desa di Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) Provinsi Aceh merasa resah dengan munculnya...
MI/Kristiadi

Tahanan Wafat karena Covid-19, Polisi dan Tahanan Di-Swab Antigen

👤Kristiadi 🕔Selasa 18 Mei 2021, 23:22 WIB
Atas kejadian tahanan positif Covid-19 tersebut membuat 30 anggota Polisi dan 12 orang tahanan lain harus menjalani pemeriksaan swab...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Berebut Fulus dari JAKARTA

Jawa Barat menjadi primadona pariwisata bagi warga Jakarta. Namun, sejak pembangunan jalan tol dan terhubung dengan tol trans-Jawa
menyebabkan fulus wisatawan Jakarta terbelah.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya