Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SALAH satu masalah yang dihadapi pemerintah kabupaten Ponorogo, Jawa Timur adalah masih tingginya angka penyandang disabilitas down syndrome. Itu sebabnya Pemkab Ponorogo sangat berharap bantuan pemerintah pusat untuk mengatasi masalah kesejahteran sosial.
Pernyataan itu diungkapkan Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko saat menerima anggota Komisi VIII DPR RI, Ina Ammania di rumah dinasnya, Jumat (19/3). Menurutnya, saat ini Kementerian Sosial RI sedang mengembangkan program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI).
Baca juga: Dinas Sosial Jawa Barat Mendorong Disabilitas Mandiri
Program yang merupakan manifestasi layanan langsung yang dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) dan dilaksanakan melalui pendekatan berbasis keluarga, komunitas dan/atau residensial. "Program ATENSI Kemensos itu terdiri dari tujuh komponen layanan yaitu, kegiatan dukungan pemenuhan hidup layak, perawatan sosial dan/atau pengasuhan, dukungan keluarga, terapi (fisik, psikososial, mental spiritual), pelatihan vokasional, pembinaan kewirausahaan, bantuan sosial dan asistensi sosial serta dukungan aksesibilitas," papar Sugiri.
Saat mendapat penjelasan itu, Ina Ammania menyampaikan bahwa sebagai salah satu mitra Kemensos, pihaknya siap membantu mempercepat program ATENSI tersebut.
Menurut Sugiri, ada daerah di wilayahnya yakni di Kecamatan Jambon dan Kecamatan Balong yang sering disebut 'kampung down syndrome lantaran memiliki kawasan perkampungan yang penduduknya merupakan disabilitas intelektual down syndrome.
Total warga yang menderita down syndrome di tiga Kawasan tersebut mencapai 445 orang. Desa Sidoharjo Kecamatan Jambon sebanyak 323 orang sekaligus wilayah paling banyak. Selanjutnya Desa Karangpatihan Kecamatan Balong sebanyak 69 orang dan Desa Pandak Kecamatan Balong sebanyak 53 orang.
Letak geografis yang berada di lereng pegunungan kapur, kata Sugiri, diduga menjadi latar belakang kondisi warga Kabupaten Ponorogo yang menderita down syndrome. "Ditambah lagi dengan mitos dan berbagai kepercayaan yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah."
Mitos terbentuk ketika salah satu Kawasan Sidoharjo, khususnya Dukuh Sidowayah berdekatan dengan hutan lebat. Banyak yang menganggap kampung ini merupakan kampung kutukan, sehingga seluruh warganya mengidap down syndrome. Faktanya ketika dikaitkan dengan makanan yang banyak dikonsumsi warga ini yaitu tiwul. Makanan yang mengandung gaitan dan cooksey sebagai zat goitrogenik yang dianggap sebagai pemicu munculnya kasus down syndrome.
Zat ini bisa merusak metabolisme yodium. Akibatnya warga kawasan itu menderita gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY). Dampak GAKY tidak hanya pada pembesaran kelenjar gondok, tetapi juga menghambat perkembangan tingkat kecerdasan otak pada janin dan anak.
Kondisi geografis Ponorogo yang dikelilingi kapur ini juga tidak bisa menyimpan nutrisi. Menyoal pola hubungan pernikahan sedarah atau incest, kata Sugiri belum ada penelitian ilmiah yang menemukan peristiwa tersebut. Meski demikian, pihaknya tidak menutup mata terhadap kemungkinan hal tersebut.
Menurut Data BPS Tahun 2019, jumlah penyandang disabilitas sebesar 28,62 juta jiwa (10,65% dari total penduduk Indonesia). (Ant/A-1)
KPK mendalami cara Sekretaris Daerah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Agus Pramono (AGP) mempertahankan jabatannya selama 13 tahun atau sejak 2012.
KPK memiliki aturan main 1x24 jam dalam OTT. Status hukum pihak terjaring akan ditetapkan dalam waktu tersebut.
TOMMY Wavolta bersama dengan sang istri, Dwi Eli Ernawati, berhasil membangun usaha pakan ternak Dara Farm dengan pendanaan dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.
GSN, STAPA, dan Sampoerna melaksanakan program yang bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
PEMERINTAH Provinsi Jawa Timur atau Jatim menutup dua pasar hewan di Ponorogo dan Tulungagung, menyusul tingginya angka kasus penyakit mulut dan kaki (PMK)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved