Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
AWAL Januari lalu, Pitik, 22, bertemu Tri Rismaharini. Yang satu pengamen jalanan, satunya Menteri Sosial yang baru dilantik 10 hari. Pertemuan terjadi di Mojokerto, Jawa Timur.
Dari pertemuan itu, Pitik diboyong ke Balai Satria Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah. Dia tidak sendiri. Ada empat pemuda seperti Pitik yang bernasib sama.
Sudah dua pekan, Pitik dan keempat rekannya, sesama anak jalanan, berada di Banyumas. Mereka mengikuti program rehabilitasi sosial yang diselenggarakan Kementerian Sosial.
Pitik dan adiknya, MF, 15, mendapat pelatihan cara meracik kopi. Sang adik ikut karena saat bertemu Menteri Sosial, duet bersaudara itu sama-sama tengah mengamen.
Keduanya ditangani seorang instruktur bernama Lutfi Hakim, 26. “Saya dulu juga dilatih di sini. Saya anak yang direhabilitasi karena kecanduan narkoba,” ujar Lutfi.
Di Balai Satria, pelatihan yang diberikan dari tata boga, barber shop, sablon, dan yang terbaru menjadi barista. “Selain direhabilitasi untuk lepas dari narkoba, saya juga dilatih untuk memiliki kemampuan sesuai minat. Ini jadi modal untuk kemandirian saat kembali ke masyarakat,” papar Lutfi, warga Pontianak, Kalimantan Barat.
Pitik juga mengaku tidak hanya berlatih meracik kopi. “Saya juga diajak disiplin beribadah, belajar sopan santun, dan etika.”
Jreng, 25, rekan Pitik dari Mojokerto, mendalami kemampuan menjadi perajin sepatu. Ia juga mendapat pelatihan untuk memasarkan produk secara daring. “Pulang ke Mojokerto, saya akan buka usaha pembuatan sepatu dan memasarkannya secara daring,” tekad sang pengamen itu.
Kehadiran lima anak jalanan dari Mojokerto, ujar Plt Kepala Balai Satria, Hendra Permana, ialah hasil blusukan Menteri Sosial. “Saat bertemu Bu Menteri, mereka mengaku ingin berubah dan tidak ke jalan lagi. Mereka dibawa ke sini.”
Rehabilitasi di Baturraden akan berlangsung dua bulan. Jika belum tuntas akan berlanjut. “Anak yang bersentuhan dengan narkoba, pada awal masuk direhabilitasi dari kecanduannya. Ada terapi mental spiritual dan psikososial. Setelah kembali ke daerah, mereka tetap akan kami dampingi dan difasilitasi modal,” tandas Hendra. (Liliek Dharmawan/N-3)
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Selain AI, gim daring populer seperti Roblox dan Minecraft juga dinilai menghadirkan risiko karena anak-anak sering kali sulit membedakan antara dunia gim dan realitas.
Aktivitas fisik dan sosial tidak hanya efektif mengalihkan perhatian dari layar, tetapi juga mendorong perkembangan interaksi anak dengan lingkungan sekitar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved