Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Asta Cita dan Zakat yang Menguatkan Indonesia

Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA (Ketua BAZNAS RI)
21/1/2026 17:15
Asta Cita dan Zakat yang Menguatkan Indonesia
Ketua BAZNAS RI, Noor Achmad.(Dok. Baznas)

BADAN Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun ke-25 setiap tanggal 17 Januari. Ini merujuk penandatanganan Keppres No.8 Tahun 2001 oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Momentum yang ditandai doa bersama bertajuk “Zakat Menguatkan Indonesia”, bukan sekadar perayaan usia kelembagaan, melainkan ruang refleksi atas perjalanan seperempat abad pengelolaan zakat, sekaligus peneguhan arah transformasi transformasi Islam dalam menjawab tantangan bangsa.

Tema yang diangkat merefleksikan kontribusi nyata zakat, infak, sedekah (ZIS) dalam menjawab persoalan-persoalan besar nasional, mulai dari kemiskinan, kebencanaan, kebodohan, hingga ketertinggalan sosial-ekonomi. Zakat bukan hanya praktik ibadah individual, tetapi telah berkembang menjadi instrumen sosial strategis yang menguatkan ketahanan umat dan bangsa.

“Jika yang kita kumpulkan semakin banyak, maka yang dapat kita distribusikan juga akan semakin banyak. Dengan begitu, semakin banyak pula masyarakat yang bisa kita kuatkan,” demikian saya sampaikan dalam tasyakuran HUT ke-25 di Kantor BAZNAS RI, Jl. Matraman Raya, Jakarta.

Secara potensi, zakat Indonesia memiliki kekuatan luar biasa: Rp327 triliun. Berdasarkan perhitungan yang pernah disampaikan di hadapan Presiden oleh Menteri Agama, potensi seluruh filantropi Islam (ziswaf, hibah, wasiat, luqatah, akikah dan sebagainya) diperkirakan mencapai Rp1.273 triliun. Jila setengah saja dapat terhimpun dan terkelola secara optimal, maka sebagian besar persoalan umat dan sosial bangsa sesungguhnya dapat diatasi, dan Indonesia akan menjadi jauh lebih kuat.

Selama 25 tahun perjalanan BAZNAS, kinerja pengelolaan zakat menunjukkan peningkatan yang signifikan. Berbagai capaian kelembagaan, penguatan sistem, transformasi digital, serta inovasi program pemberdayaan terus berkembang secara berkelanjutan. Hal ini tidak lepas dari keikhlasan insan amil zakat di seluruh Indonesia, serta meningkatnya kepercayaan publik.

Namun harus diakui, kekuatan zakat belum sepenuhnya optimal. Dari sekitar 260 juta penduduk Muslim Indonesia, jumlah muzaki terdata baru sekitar 6 juta orang. Ini menunjukkan bahwa ruang perluasan partisipasi zakat masih sangat terbuka. Karena itu, “Zakat Menguatkan Indonesia” harus menjadi gerakan bersama, bukan sekadar slogan.

Ramadan: Solidaritas untuk Penyintas

Sebagai wujud konkret dan masih aktual peran zakat dalam merespons persoalan bangsa, Adalah bagaimana BAZNAS memfokuskan bantuan kemanusiaan bagi wilayah Sumatra menjelang Ramadan. Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menjadi prioritas, mengingat masih besarnya kebutuhan para penyintas bencana dari fase tanggap darurat hingga pemulihan.

Sejak hari pertama bencana, BAZNAS melakukan pemantauan, koordinasi nasional dengan seluruh BAZNAS daerah, membuka donasi khusus Sumatra, mengirimkan bantuan logistik, serta mengerahkan personel teknis dan relawan. Puluhan dapur umum dan ratusan titik distribusi logistik dibuka, dengan puluhan ribu porsi makanan disalurkan setiap hari. Layanan kesehatan, air bersih, komunikasi darurat, hingga dukungan psikososial terus diperkuat.

Hingga kini, dana terhimpun mencapai sekitar Rp69,4 miliar (BAZNAS RI dan BAZNAS provinsi/kabupaten/kota), dan telah disalurkan melalui beberapa program. Tantangan terbesar berada pada fase pemulihan, karena di sejumlah wilayah, jejak permukiman dan lahan pertanian nyaris hilang. Karena itu, BAZNAS mengajak kaum Muslimin menyambut Ramadan dengan memperkuat semangat berbagi: membersihkan tempat ibadah, membangun hunian sementara, masjid darurat, sanitasi air, MCK, dan fasilitas penunjang agar para penyintas dapat menjalani ibadah puasa dengan lebih tenang.

Zakat: Asta Cita untuk Indonesia

Dalam rangka memperkuat sinergi zakat dan pembangunan nasional, BAZNAS siap menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dan BAZNAS Awards 2025 pada 26–29 Agustus 2025 di Jakarta. Kegiatan ini menjadi bentuk dukungan nyata BAZNAS terhadap Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, sekaligus momentum penyelarasan visi zakat nasional dengan arah pembangunan pemerintah.

Rakornas akan diikuti sekitar 1.200 peserta dari BAZNAS provinsi dan kabupaten/kota, membahas isu strategis mulai dari penguatan kelembagaan, perluasan partisipasi muzaki, transformasi digital, integrasi data zakat nasional, hingga peningkatan dampak zakat bagi kesejahteraan masyarakat. Rakornas juga menjadi ajang konsolidasi menuju Rencana Strategis BAZNAS 2025–2029, agar tata kelola zakat semakin efektif, akuntabel, dan selaras dengan pembangunan nasional.

Pada kesempatan tersebut, BAZNAS juga akan meluncurkan Asosiasi Amil Zakat Republik Indonesia (AAZRI), serta mendukung inisiatif literasi kebangsaan dan keislaman. Melalui Rakornas dan BAZNAS Awards, peran zakat semakin diteguhkan sebagai instrumen urgen dalam pengentasan kemiskinan, pembangunan ekonomi umat, serta pencapaian tujuan pembangunan nasional.

Karena itu, memasuki usia 25 tahun, BAZNAS menapaki momentum penting dalam sejarah pengelolaan zakat Indonesia. Dalam konteks meningkatnya kompleksitas persoalan sosial—kemiskinan struktural, ketimpangan ekonomi, dan kerentanan kelompok marginal—zakat dituntut tidak lagi dipahami sebatas praktik karitas, tetapi sebagai instrumen kesejahteraan sosial yang terkelola secara sistemik dan berdampak luas.

Zakat memiliki posisi unik sebagai jembatan antara nilai keagamaan dan agenda pembangunan nasional. Melalui pengelolaan profesional, transparan, dan terintegrasi, zakat berpotensi mempercepat pengurangan kemiskinan, memperkuat ketahanan keluarga, serta mendorong mobilitas sosial mustahik menuju kehidupan yang mandiri dan bermartabat.

Dalam dua dekade terakhir, terjadi pergeseran paradigma penting dalam filantropi Islam: dari pendekatan karitatif menuju pemberdayaan produktif dan berkelanjutan. Zakat tidak berhenti pada distribusi bantuan sesaat, tetapi diarahkan untuk membangun kapasitas, keterampilan, dan akses ekonomi. Transformasi inilah yang menjadi ciri perjalanan BAZNAS, sekaligus fondasi bagi penguatan zakat sebagai instrumen keadilan sosial di era modern.

Dengan kebersamaan, kepercayaan publik, dan sinergi seluruh pemangku kepentingan, zakat insya Allah akan terus menjadi kekuatan utama dalam membangun Indonesia yang lebih adil, sejahtera, dan berdaya. Zakat menguatkan umat, dan pada saat yang sama, menguatkan Indonesia, sesuai spirit Asta Cita yang terus dikobarkan Presiden Prabowo dan Wapres Gibran.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya