Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS demam berdara dengue (DBD) di Kabupaten Kulonprogo, DIY meluas hingga 12 kecamatan. Sepanjang Januari-Februari tercatat 67 kasus. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Kulonprogo, Baning Rahayujati mengatakan, angka kasus itu cukup tinggi sehingga Dinas Kesehatan menetapkan status waspada.
"Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, tahun ini cukup tinggi, 67 kasus. Tahun lalu 50 kasus," kata Baning, Selasa (10/3).
Sedang sepanjang 2019 terjadi 296 kasus. Menurut dia, tingginya kasus DBD salah satunya karena perubahan iklim. Bahkan kawasan Bukit Menoreh yang tidak pernah muncul kasus DBD, sekarang muncul. Dinas Kesehatan Kabupaten Kulonprogo mengimbau masyarakat melakukan pembersihan lingkungan secara berkesinambungan.
Sementara Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kulonprogo, Sri Budi Utami mengimbau masyarakat melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) untuk mencegah DBD. PSN sangat penting dilakukan secara berkesinambungan, supaya nyamuk yang bertelur dapat dibasmi.
Ia mengatakan Dinkes tidak bisa langsung melakukan pengasapan sesuai permintaan masyarakat.
"Swasta tidak berhak melakukan pengasapan tanpa seizin pemerintah," katanya.
Sedang Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga saat ini belum menaikan status kewaspadaan DBD meski sudah ada 354 kasus dengan tiga orang meninggal dunia. Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawati mengatakan kasus DBD mengalami peningkatan signifikan pada triwiulan pertama yang sudah mencapai 354 kasus dibandingkan 2019 dengan periode yang sama sebanyak 192 kasus. Selama 2019 jumlah kasus mencapai 576 kasus.
baca juga: Pascakecelakaan, Belum Berubah Jadwal Kunjungan Ratu Belanda
Menurut dia, perkembangan kasus DBD sangat cepat. Meski ada peningkatan kasus yang signifikan, Dewi mengakui pihaknya belum berniat meningkatkan status terkait dengan penyebaran DBD. Salah satu alasannya karena ancaman masih bisa dikendalikan.
"Kami belum meningkatkan kewaspadaan DBD. Tapi, untuk mencegah akan kami optimalkan melalui program pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Dengan memperkuat koordinasi lintas sektoral dari tingkat kabupaten hingga desa," terang Dewi. (OL-3)
Data menunjukkan bahwa kelompok umur 15-44 tahun menyumbang 42% dari total kasus dengue, sementara 41% kematian justru ditemukan pada anak-anak usia 5-14 tahun.
Case fatality rate (CFR) atau jumlah angka kematian karena demam berdarah dengue (DBD) menurun signifikan dari 2021 di kisaran 0,9%, menjadi 0,4% pada 2025.
Kawasan Asia Tenggara telah lama menjadi episentrum global penularan dengue. Berdasarkan data terbaru, hampir 400.000 kasus dilaporkan di wilayah ini sepanjang 2025.
Indonesia mencatatkan capaian signifikan dalam upaya pencegahan angka kematian dari kasus demam berdarah (DBD).
Selain DBD, Rano juga menyoroti masih tingginya kasus tuberkulosis (TBC) di Jakarta. DKI Jakarta masih berada di peringkat delapan nasional untuk kasus TBC.
Kasus leptospirosis di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, meningkat tajam sepanjang 2025. Sebaliknya, kasus demam berdarah dengue (DBD) justru mengalami penurunan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved