Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
DEMAM berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mulai merebak. Dinas Kesehatan setempat pun mengintensifkan upaya-upaya preventif. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Yusman Faisal, mengatakan merebaknya kembali DBD tak terlepas kondisi cuaca saat ini. Peralihan musim dari kemarau ke hujan memicu perkembangbiakan jentik nyamuk aedes aegypti.
"Dari data yang kami terima, selama Januari tahun ini, sudah ada sekitar 25 orang yang positif DBD," kata Yusman kepada Media Indonesia, Kamis (6/2).
Data tersebut merupakan laporan dari tiga rumah sakit besar di Kabupaten Cianjur yakni RSUD Sayang Cianjur, RS Dr Hafiz, dan RSUD Cimacan. Pasien DBD, lanjutnya, kebanyakan berasal dari wilayah utara.
"Kasusnya kebanyakan dari wilayah utara," ucapnya.
Yusman mengaku Dinkes Kabupaten Cianjur sudah mengeluarkan surat edaran ke semua puskemas agar masyarakat menggiatkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui program 3M Plus.
"PSN dan 3M Plus yakni menguras, menutup, dan mengubur ini merupakan upaya preventif. Plusnya memanfaatkan barang tidak terpakai, menanam tumbuhan pengusir nyamuk, dan memberikan larvasida," beber Yusman.
Di kalangan masyarakat sendiri masih terbentuk stigma bahwa penanganan DBD dilakukan dengan cara fogging. Namun, kata Yusman, fogging sifatnya kuratif bukan preventif.
"Jadi, fogging tidak terlalu efektif," terangnya.
Kepala Dinkes Kabupaten Cianjur, Tresna Gumilar, mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu mengandalkan fogging sebagai upaya memberantas nyamuk aedes aegipty penyebab DBD. Alasannya, jika fogging dilakukan terus menerus, maka akan berdampak terhadap risiko kesehatan.
"Kalau fogging itu sifatnya hanya sesaat dan hanya membunuh nyamuk dewasa. Selain itu (fogging) juga berisiko. Kalau daya tubuh manusia tidak kuat, itu bisa jadi resisten karena ada residunya," tutur Tresna.
Upaya yang efektif, kata Tresna, sebetulnya bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana. Misalnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan PSN.
"Yang paling aman itu ya PSN atau 3M Plus," ucapnya.
baca juga: Maksimalkan Potensi Batu Bara, Sumsel Tambah Angkutan
DBD bisa dipicu dua faktor. Pertama karena kondisi cuaca ekstrem. Tingginya intensitas curah hujan memicu banyaknya genangan air sehingga mempercepat proses berkembangbiaknya jentik nyamuk.
"Kalau cuaca itu harus bisa menjadi kawan. Kita tidak bisa menolak kalau yang hubungannya dengan kondisi alam atau cuaca. Terpenting, bagaimana sekarang masyarakat bisa menerapkan PHBS di masing-masing lingkungan tempat tinggal. Kalau masyarakat bisa menerapkannya, Insyaallah tidak akan ada penyebaran DBD," pungkas Tresna. (OL-3)
Kasus DBD pada 2025 tercatat ada 70 kasus sehingga jumlah alami penurunan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2024.
SERANGAN nyamuk di sejumlah lokasi pengungsian pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang menjadi perhatian serius. Kemenkes memastikan kondisi tersebut Kejadian Luar Biasa (KLB).
Terdapat 160 kasus DBD pada Oktober 2025, 161 kasus pada November dan meningkat menjadi 163 kasus DBD pada Desember 2025 di Jakarta Barat.
Kasus super flu dan demam berdarah dengue (DBD) selama musim hujan menjadi perhatian khusus Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Kasus DBD pada Januari 2026 yakni dua kasus dari wilayah kerja Puskesmas Selatpanjang, satu kasus dari Puskesmas Alai dan Puskesmas Kedabu Rapat.
Selain DBD, Rano juga menyoroti masih tingginya kasus tuberkulosis (TBC) di Jakarta. DKI Jakarta masih berada di peringkat delapan nasional untuk kasus TBC.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved