Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS demam berdarah Dengue (DBD) kembali merebak di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah sejak awal tahun ini. Penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk aides aigepty tersebut bahkan telah merenggut nyawa seorang bocah asal Kecamatan Parakan saat menjalani perawatan di rumah sakit.
Data di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Temangung, selain satu bocah yang meninggal akibat DBD tersebut, sejak awal Januari sedikitnya ada 12 kasus demam berdarah dengue (DBD) dan 23 kasus demam dengue (DD). Dan tahun lalu sepanjang 2019 terjadi 646 kasus DBD.
Kendati penyebabnya sama terinfeksi virus dengue yang dibawa nyamuk aides agepty, DBD dan DD memiliki tingkat kegawatan yang berbeda. DBD terjadi apabila virus menginfeksi hingga ke darah. Sedangkan demam dengue terjadi apabila seseorang mengalami demam tinggi diiringi sedikitnya dua gejala penyerta, di antaranya nyeri kepala, nyeri otot dan tulang, ruam kulit, leukopenia, nyeri retro orbita.
Kepala Dinkes Kabupaten Temanggung, dr Suparjo, mengatakan, pada musim hujan perkembangan nyamuk aides pembawa penyakit DB lebih cepat. Karenanya, Dinkes menggencarkan gerakan kebersihan lingkungan dan perilaku hidup bersih.
"Nyamuk aides aigepty berkembang sangat cepat pada musim penghujan. Kami mengajak semua pihak semakin waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan," ujar Suparjo.
baca juga: Bupati Bandung Barat Kooperatif Serahkan Data Bansos ke Polisi
Melengkapi keterangan tersebut, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Temanggung, dr Taryumi mengatakan, kejadian seorang bocah meninggal akibat DBD pada tiga hari lalu. Di lingkungan bocah tersebut tinggal juga beberapa orang sudah terjangkit DBD.
"Kami telah melakukan fogging atau pengasapan di lingkungan korban, serta gerakan kebersihan lingkungan. Diharapkan hal ini dapat mengurangi jumlah penderita DBD," kata Taryumi. (OL-3)
Data menunjukkan bahwa kelompok umur 15-44 tahun menyumbang 42% dari total kasus dengue, sementara 41% kematian justru ditemukan pada anak-anak usia 5-14 tahun.
Case fatality rate (CFR) atau jumlah angka kematian karena demam berdarah dengue (DBD) menurun signifikan dari 2021 di kisaran 0,9%, menjadi 0,4% pada 2025.
Kawasan Asia Tenggara telah lama menjadi episentrum global penularan dengue. Berdasarkan data terbaru, hampir 400.000 kasus dilaporkan di wilayah ini sepanjang 2025.
Indonesia mencatatkan capaian signifikan dalam upaya pencegahan angka kematian dari kasus demam berdarah (DBD).
Selain DBD, Rano juga menyoroti masih tingginya kasus tuberkulosis (TBC) di Jakarta. DKI Jakarta masih berada di peringkat delapan nasional untuk kasus TBC.
Kasus leptospirosis di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, meningkat tajam sepanjang 2025. Sebaliknya, kasus demam berdarah dengue (DBD) justru mengalami penurunan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved