Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
WARGA Binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Tasikmalaya memanfaatkan berbagai limbah menjadi kerajinan rumahan. Limbah yang diubah menjadi kerajinan itu berasal dari kertas koran, bambu, bungkus kopi, nasi, ranting pohon, dan karton.
Kerajinan tangan yang dilakukan narapidana tersebut mampu menembus beberapa hotel di Kota Tasikmalaya seperti halnya bedcover, sandal, taplak meja dan sarung bantal.
Produksi kerajinan lain yaitu celengan bentuk durian, perahu, gitar, asbak sisa nasi, lampu hias, dompet, sandal jepit merek Lapas Tasik dan karpet lantai. Kerajinan tersebut dilakukan oleh 18 warga binaan yang selama itu mendapatkan pelatihan.
"Memang setiap tahun narapidana berada di dalam Lapas selalu dilakukan pembinaan terutama berbagai kerajinan tangan, supaya setelah keluar dari penjara nanti mereka bisa memiliki keahlian dan bisa mengembangkan usaha lainnya. Untuk kerajinan tersebut yang mereka lakukan selama ini, dikerjakan secara manual tanpa adanya mesin otomatis," kata Kepala Sub Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas II B Tasikmalaya, Arief Setio Budiarto, Sabtu (17/8).
Baca juga: 198 Napi Lapas Tasikmalaya Dapat Remisi
Kerajinan yang paling diutamakan sekarang ini berupa sandal, karena untuk pembuatannya sendiri terbuat dari spon diperuntukan untuk tamu hotel.
Pembuatan tersebut sendiri setiap hari bisanya mencapai 1.000 pasang, namun jika menghadapi perayaan Idul Fitri jumlahnya bisa mencapai 2.000 pasang termasuk beberapa perlengkapan lainnya yang diminta pihak hotel.
"Kerja sama yang dilakukan Lapas bersama Hotel tentunya bisa membantu insentif warga binaan sebagai jasa tenaga, meskipun semua bahan telah disiapkan termasuk lem, cater, mistar. Untuk pendapatan selama satu bulan saja lumayan hanya mencapai Rp600 ribu meski pekerjaan tersebut tergantung pada pesanan hotel," ujarnya.
Selain pesanan hotel, 18 Narapidana itu tetap berupaya membuat 1.000 pasang sandal jepit bermerek Lapas Tasik, tetapi hasil karya itu tidak dijual ke pasar tradisional maupun ke pasar modern tapi diperuntukan bagi semua Lapas yang ada mulai dari Ciamis, Kota Banjar, Sumedang, Bandung, Kuningan, Cirebon, Garut dan Majalengka.
Karena, penjualan tersebut pernah dijual secara umum tetapi tidak ada yang membeli.
"Untuk produksi sandal jepit bermerek Lapas Tasik itu memang baru pertama dilakukan di Indonesia termasuk di Jawa Barat. Akan tetapi, pesanan tersebut tentunya tergantung kepada pemesan yang ingin memakai sandal itu. Pesanan sandal berukuran tebal 12 mili itu mampu dijual Rp10 ribu satu pasang, tetapi untuk kerajinan lain seperti halnya celengan durian berukuran besar Rp50 ribu, lampu hias Rp300 ribu, asbak Rp10 ribu dari kertas koran dan nasi, perahu kertas koran Rp400 ribu dan gitar Rp15 ribu," pungkasnya. (OL-2)
Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan menyatakan bahwa paparan dan usulan yang disampaikan oleh Anggota DPD RI Muhammad Hidayattollah menjadi catatan dan atensi bagi kementerian.
Dalam disertasinya yang berjudul Konfigurasi Resiprokal Determinan, Pencegahan, dan Penanganan Kerusuhan pada Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan Negara di Indonesia.
Meskipun diterjang bencana alam, Lapas Sibolga memastikan seluruh proses pengamanan berjalan baik.
PRODUKSI berbagai macam produk berbasis serabut kelapa di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Jawa Barat menunjukkan capaian signifikan.
Banjir setinggi kurang lebih 50 cm masih menggenangi lingkungan lapas dan rutan di Sumatra Utara.
Saat ini terdapat sekitar 250.000 hingga 280.000 warga binaan di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 persen telah terlibat dalam berbagai program kerja produktif di lapas.
Setiap produk Kupiah Meukutop yang dihasilkan kini dilengkapi dengan sistem autentikasi digital menggunakan Google Sheet dan QR Code unik.
Komisi VII DPR menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Kementerian Perindustrian dan sejumlah asosiasi industri.
Ajang yang diklaim sebagai pameran kerajinan terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara ini menargetkan 75.000 pengunjung serta 100 pembeli potensial internasional.
CAS (Contractor Art Space), sebuah perusahaan arsitek, kontraktor dan interior dari Indonesia, baru-baru ini melakukan kunjungan ke Suikoushya, workshop carpentry di Kyoto, Jepang.
IFEX 2025 kembali digelar pada 6-9 Maret 2025 di JIExpo, Kemayoran, untuk merayakan satu dekade kontribusi dalam memajukan industri mebel dan kerajinan Indonesia.
Acara Pesona Swarga Bumi ini tidak hanya sekedar wadah promosi, tetapi juga sebagai katalisator bagi pelaku industri kreatif di Kota Sukabumi untuk terus berkarya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved