Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PUTRI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yenny Wahid menegaskan, ibu-ibu Muslimat NU sudah banyak yang menguasai teknologi informasi. Penguasaan informasi membuat mereka bisa menjadi agen untuk memerangi hoaks atau berita bohong.
"Ibu-ibu Muslimat NU bakal sangat militan ikut memerangi hoaks, fitnah dan ujaran kebencian," katanya di sela-sela sebuah kegiatan di Yogyakarta, Senin (28/1).
Dalam upayanya memerangi hoaks, ujarnya, telah dideklarasikan Laskar Muslimat NU Anti-hoax dan Ujaran Kebencian yang beranggotakan seluruh anggota Muslimat.
Dikatakannya, ibu-ibu Muslimat NU ini sangat militan dan dapat bergerak ke mana-mana dan menembus segala lapisan masyarakat.
"Jangkauannya juga luas, sampai ke pelosok-pelosok desa," katanya.
Tidak hanya itu, lanjutnya, pergerakan mereka pun sangat dinamis. Salah satunya terbukti dengan aktivitas majelis taklim yang dalam seminggu bisa terjadi beberapa kali pertemuan.
Yenny mengaku sedih melihat hoaks dan ujaran kebencian marak di media sosial (medsos) menjelang Pilpres 2019. Menurutnya, fenomena seperti itu tak hanya terjadi di Indonesia tapi juga dunia.
"Kalau di negara lain, misalnya kebencian terhadap imigran. Kalau di AS kebencian terhadap ras tertentu. Nah kalau di Indonesia kebalikan, bentuknya phobia terhadap nonmuslim. Sebenarnya bukan phobia, tetapi sebuah isu yang dijadikan alat politik," jelas Mbak Yenny.
Baca juga: Muslimat NU Gelorakan Semangat Anti-hoaks
Dikatakan, persoalan yang kemudian muncul adalah banyak di antara masyarakat yang termakan dan menjadi korban. Yenny menyebutkan hal semacam itu memang dikondisikan oleh pihak-pihak tertentu. Dengan demikian, masyarakat yang tidak sadar bahwa perferensinya dibentuk oleh orang yang menyebarkan informasi karena dia menelan mentah-mentah informasi yang didapat.
Kondisi sekarang, imbuhnya, masyarakat seolah-olah dibombardir dengan iklan, bukan iklan barang, melainkan iklan tentang isu politik.
"Kalau iklan barang kita bisa menimbang-nimbang harga atau kualitas. Sementara iklan politik menjadi susah karena melibatkan emosi. Orang menjadi tidak rasional. Apalagi isu agama di Indonesia," tegasnya.
Menurut Yenny, langkah melawan hoaks dan ujaran kebencian ialah melakukan penyadaran kepada semua orang agar mau berpikir kritis. Pengguna medsos harus mempunyai kontrol diri dan mempertanyakan kebenaran terhadap sebuah berita atau video.
Oleh sebab itulah, Muslimat NU menyerukan seluruh anggotanya di Indonesia untuk ikut berperan menangkal hoaks dan ujaran kebencian.
"Jangan salah ya, ibu-ibu Muslimat itu canggih-canggih. Mereka mayoritas aktif di media sosial. Kita ingin memberdayakan perempuan-perempuan Muslimat NU agar lebih menyadari bahaya hoaks dan fitnah. Kemudian mau melakukan sesuatu untuk memastiakn hoax tidak tersebar ke tengah masyarakat," ujarnya.
Mayoritas yang toleran dan moderat Pada kesempatan itu, Yenny Wahid mengingatkan, saat sekarang ini merupakan waktu yang tepat bagi NU dan Muslimat untuk menunjukkan
kemampuannya membela bangsa.
Ia bahkan mengemukakan, NU dan Muslimat harus menunjukkan mayoritas umat Islam di Indonesia toleran dan moderat.
"Sekarang, sudah saatnya NU dan termasuk Muslimat bangkit membela bangsa dan melakukan perlawanan. Saya bilang, The Silent Majority is Now Declare as Noisy Majority. Mayoritas yang diam sekarang telah menjadi mayoritas yang bersuara. Itu sikap keluarga besar NU melihat kondisi kebangsaan hari ini," kata Yenny.
Yenny tak menampik jika ada yang menyebut peringatan Harlah Muslimat yang mendatangkan seratusan ribu anggota Muslimat ke Jakarta sebagai manuver politis.
"Politisnya bukan politis praktis. Kita lebih pada tataran kebangsaan. Kita ingin menguatkan Aswaja (ahli sunnah wal jamaah) karena bisa menjawab tantangan-tantangan yang dihadapai komunitas Islam di Indonesia dan bahkan di dunia. Sebab di dalam Aswaja terkandung nilai-nilai tasamuh (toleran), tawasuth (moderat), tawazun (seimbang) dan i'tidal (adil)," kata putri kedua KH Abdurrahman Wahid itu.
NU sebagai salah satu ormas Islam terbesar di negeri ini, ujarnya, selama ini lebih memilih diam di saat bertebaran hoaks, ujaran kebencian, dan bahkan fitnah.
"Sekarang tidak boleh lagi diam. Kami juga ingin bersuara. Sebab kami yang jumlahnya banyak memiliki ideologi yang jelas, sikap kami juga jelas dalam hal membela negara," tegasnya.
Yenny kemudian berharap para kiai dan ulama NU terus berikhtiar agar masyarakat tetap tenang dan tidak mudah termakan hoaks atau ujaran kebencian. (OL-3)
Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin mengatakan pelapor adalah bagian dari Aliansi Pemuda NU dan Aliansi Pemuda Muhammadiyah.
Rizki menilai pernyataan Panji telah merendahkan, memfitnah, dan cenderung menimbulkan kegaduhan di ruang publik.
Tradisi tabayyun di kalangan ulama dan warga NU telah lama familiar dan mengakar.
Bagaimana pula kekisruhan berujung, Gus Yahya bertahan atau akhirnya tumbang?
AKTIVIS muda dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) Lily Faidatin menilai rencana pemberian gelar Pahlawan Nasional pada Presiden Kedua Soeharto tak adil bagi para korban selama masa Orde Baru
AKTIVIS muda Nahdlatul Ulama (NU) Lily Faidatin menegaskan penolakannya terhadap rencana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada mantan pemimpin rezim Orde Baru, Soeharto.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved