Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Jakarta Terik, Pramono: Belum Perlu Hujan Buatan

Mohamad Farhan Zhuhri
17/3/2026 12:18
Jakarta Terik, Pramono: Belum Perlu Hujan Buatan
Ilustrasi(MI/Usman Iskandar)

GUBERNUR DKI Jakarta Pramono Anung menilai pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mempercepat pembentukan awan hujan atau hujan buatan. 

"Jakarta masih belum memerlukan dibuat hujan buatan," kata Pramono di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Selasa (17/3).

Pramono menyebut telah mendapat informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait cuaca panas yang melanda Indonesia jelang penghujung musim hujan. 

Ia menyebut dalam waktu dekat hujan akan kembali turun di Jakarta.

"Untuk menghadapi Idul Fitri, memang data BMKG menunjukkan sebelumnya itu cuacanya panas. Tetapi pada saat Idul Fitri ada kemungkinan curah hujan menengah," ungkap Pramono. 

Sebelumnya, BMKG memprediksi musim kemarau 2026 berpotensi datang lebih awal di sejumlah wilayah Indonesia. Sejumlah daerah bahkan mulai menunjukkan tanda-tanda peralihan musim dengan kondisi cuaca yang lebih cerah dan suhu udara terasa lebih panas.

Ketua Tim Kerja Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani mengatakan sebagian wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau secara bertahap sejak April.

BMKG juga mencatat suhu udara maksimum di wilayah Jakarta mencapai angka cukup tinggi. "Dalam beberapa hari terakhir suhu udara maksimum yang terukur di wilayah Jakarta mencapai 35,4 derajat celsius, tepatnya di wilayah Jakarta Timur," ucap Ida.

Lebih lanjut, BMKG memperkirakan kondisi suhu udara yang terasa panas masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan, terutama pada siang hari saat tutupan awan berkurang. Meski begitu, ia menekankan sebagian besar wilayah Indonesia saat ini masih berada pada fase akhir musim hujan atau masa transisi menuju kemarau. 

"Secara umum sebagian besar wilayah Indonesia saat ini masih berada pada periode akhir musim hujan atau masa transisi menuju musim kemarau, sehingga potensi pembentukan awan masih cukup tinggi yang pada waktu tertentu dapat mengurangi pemanasan atau radiasi yang mencapai permukaan," ujarnya. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya