Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

MRT Koridor Timur-Barat Jadi Harapan Komuter Banten Atasi Macet Dua Arah

Mohamad Farhan Zhuhri
04/2/2026 19:12
MRT Koridor Timur-Barat Jadi Harapan Komuter Banten Atasi Macet Dua Arah
MRT Timur-Barat Fase 2 Kembangan-Balaraja dibidik jadi solusi kemacetan dua arah Jakarta-Banten(MI/Mohammad Farhan Zhuhri)

RENCANA pembangunan MRT Koridor Timur-Barat Fase 2 rute Kembangan-Balaraja tak lagi sekadar wacana integrasi transportasi antardaerah. Proyek ini mulai dibaca sebagai jalur penyelamat bagi jutaan komuter Banten yang setiap hari terjebak dalam kemacetan dua arah Jakarta-Banten.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi Banten resmi menandatangani Nota Kesepakatan (MoU) pengembangan koridor tersebut, yang digadang-gadang akan menjadi tulang punggung mobilitas lintas wilayah barat.

Gubernur Banten Andra Soni secara gamblang menggambarkan realitas yang sudah bertahun-tahun terjadi, kemacetan bukan hanya milik Jakarta. Tapi juga menumpuk kembali ke arah Banten pada malam hari.

“Warga kami sebagian besar bekerja di Jakarta. Pagi hari macet di Jakarta, malam hari macet di Banten,” kata Andra di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (4/2).

Ia menilai MRT lintas provinsi bisa menjadi pemantik perubahan gaya hidup warga perbatasan yang selama ini nyaris tak punya pilihan selain kendaraan pribadi.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut kerja sama ini sebagai tonggak penting pengembangan MRT sekaligus pintu masuk kolaborasi pembiayaan dengan sektor swasta melalui konsep Transit Oriented Development (TOD).

“Hari ini kita mencatat sejarah penting, kerja sama antara Pemerintah Banten dan Pemerintah Jakarta untuk pengembangan MRT,” ujar Pramono.

Pramono menegaskan, pengembangan kawasan berbasis transit akan menjadi kunci agar proyek tidak sepenuhnya membebani anggaran pemerintah.

“Pengembangan TOD-nya enggak perlu dipikirin lagi, pasti akan dilakukan bersama-sama oleh pengembang,” ucapnya.

Target pembangunan fisik MRT Kembangan-Balaraja pun mulai dipasang, meski masih bersifat optimistis.

“Mudah-mudahan 102 tahun ke depan sudah bisa dimulai pembangunannya,” kata Pramono.

Infrastruktur Lintas Provinsi

Dengan kemacetan yang kian kronis dan mobilitas lintas provinsi yang terus membengkak, MRT Kembangan-Balaraja kini diposisikan bukan hanya sebagai proyek infrastruktur, tetapi juga arena baru perebutan ruang dan arah pertumbuhan kawasan barat Jakarta-Banten.

Direktur Utama PT MRT Jakarta Tuhiyat menegaskan bahwa kesepakatan yang diteken saat ini masih berada pada tahap kajian awal selama 8 hingga 10 bulan. Kajian tersebut mencakup aspek kelembagaan, teknis trase, hingga kebutuhan anggaran.

Ia juga menekankan bahwa percepatan interkoneksi MRT Jakarta membutuhkan dukungan banyak pihak, termasuk sektor swasta, baik dari sisi pendanaan maupun sumber daya.

“Kami menyadari untuk mewujudkan percepatan interkoneksi MRT Jakarta membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik berupa pendanaan maupun sumber daya lainnya. Oleh karena itu, MRT Jakarta sangat memahami bahwa bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pengembang swasta yang memiliki visi sama, mutlak dilakukan,” ujar Tuhiyat.

Koridor Barat Mulai Diperebutkan

Di tengah kajian awal tersebut, sektor swasta mulai mengambil posisi. Salah satunya adalah Summarecon Agung, yang menjajaki keterlibatan dalam pengembangan koridor Kembangan-Balaraja.

Bagi Summarecon, keterhubungan MRT bukan hanya soal akses transportasi, tetapi bagian dari strategi jangka panjang membangun kota terpadu yang bertumpu pada konektivitas dan pertumbuhan berkelanjutan.

President Director Summarecon, Adrianto P Adhi, menyebut transportasi publik sebagai fondasi kota masa depan, sekaligus instrumen untuk mengurangi dominasi kendaraan pribadi yang selama ini memperparah kemacetan.

“Konektivitas transportasi publik merupakan salah satu fondasi dalam pengembangan kota terpadu yang berkelanjutan,” ujar Adrianto.

Ia menegaskan integrasi MRT dengan kawasan akan berdampak langsung pada efisiensi mobilitas dan produktivitas warga.

“Integrasi jaringan transportasi dengan kawasan ini menjadi bagian penting dalam menciptakan mobilitas yang efisien, mengurangi kemacetan, serta meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang,” katanya.

Melalui nota kesepahaman tersebut, para pihak akan membentuk joint working group yang bekerja selama dua tahun ke depan untuk menyusun rencana kerja, termasuk kajian aspek bisnis, legal, teknis, hingga manajemen risiko.

Summarecon juga menilai proyek MRT ini akan memperkuat ekosistem kawasan-kawasan yang sudah mereka bangun di barat Jakarta.

Executive Director Summarecon Serpong Albert Luhur menyebut koneksi MRT akan menjadi pengungkit baru bagi kawasan yang telah hidup dengan aktivitas hunian, komersial, pendidikan hingga ekonomi kreatif.

“Keterhubungan dengan MRT Koridor Timur-Barat akan memperkuat ekosistem kawasan yang telah terbentuk, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Albert.

Sementara itu, Executive Director Summarecon Tangerang Hindarko Hasan menilai integrasi MRT sejak awal akan menentukan arah perkembangan kawasan baru agar tidak tumbuh sebagai kota yang sepenuhnya bergantung pada mobil pribadi.

“Integrasi dengan MRT Koridor Timur-Barat menjadi fondasi penting agar Summarecon Tangerang sejak awal berkembang sebagai kawasan yang terhubung dengan transportasi massal,” kata Hindarko. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya