Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Wali Kota Sebut Air Kiriman dan Curah Hujan jadi Penyebab Banjir Bekasi

Anton Kustedja
30/1/2026 16:30
Wali Kota Sebut Air Kiriman dan Curah Hujan jadi Penyebab Banjir Bekasi
WALI Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono meninjau langsung lokasi banjir.(Dok. Pemkot Bekasi)

WALI Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono meninjau langsung lokasi banjir yang merendam permukiman warga di Gang Mawar, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Jumat (30/16). Ia ingin memastikan penanganan berjalan optimal sekaligus mendengarkan langsung keluhan warga terdampak banjir Bekasi.

Tri menjelaskan, banjir Bekasi dipicu oleh tinggi muka air (TMA) Kali Bekasi, yang merupakan kiriman dari wilayah hulu, khususnya pertemuan Kali Cileungsi dan Kali Cikeas di Kabupaten Bogor.

"Kalau ketinggian air di titik pertemuan Kali Cileungsi dan Cikeas atau P2C sudah menyentuh angka 500, itu sudah pasti air akan naik. Bahkan top level yang pernah kita alami bisa mencapai 750 sampai 850," ujar Wali Kota dalam keterangannya, Jumat.

Tri menambahkan, pada kondisi ekstrem seperti tahun sebelumnya ketika tinggi muka air mencapai 850, dampak banjir jauh lebih besar dan meluas ke berbagai wilayah permukiman. Saat ini tercatat sekitar 80 rumah warga terdampak, khususnya yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS).

Ia juga menyoroti keberadaan bangunan yang berdiri di sempadan sungai yang turut memperparah risiko banjir. Hal itu, lanjut dia, telah disepakati bersama warga untuk ditangani secara mandiri.

"Sudah ada kesepakatan dengan Ketua RW dan warga bahwa pembongkaran akan dilakukan secara mandiri terlebih dahulu. Karena BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) baru bisa masuk melakukan pembangunan jika lahan sudah clean and clear," jelasnya.

Tri memastikan BBWS Kementerian Pekerjaan Umum masih mengalokasikan anggaran untuk penanganan Kali Bekasi, termasuk pembangunan pengamanan tebing sungai dengan metode sheet pile.

"Ke depan bentuknya bukan lagi bronjong. Sheet pile ini lebih rapi, lebih kuat, dan mampu menahan air dengan ketinggian yang lebih optimal," ungkapnya.

Terkait kondisi banjir Bekasi secara umum, Tri menyebut air mulai berangsur surut seiring berhentinya hujan. Meski demikian, beberapa wilayah di sepanjang DAS seperti Kali Lengkak masih terdapat warga yang mengungsi.

Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Bekasi tetap menyiagakan sekitar 300 unit pompa air. Pompa yang sempat mengalami kerusakan juga telah diperbaiki dan langsung di-backup dengan pompa mobile milik BBWS.

"Saat ini kita operasikan 4 unit pompa ditambah 1 dari BBWS, dengan total kapasitas mencapai 18.000 meter kubik per detik," terang Wali Kota.

Langkah Pengendalian Banjir Bekasi

Selain pompa, Pemkot Bekasi terus mengembangkan inovasi pengendalian banjir melalui pembangunan sumur resapan dalam di wilayah cekungan. Saat ini, sumur telah mencapai kedalaman 40 m dan akan dikembangkan hingga 60 m.

"Kita sudah coba di Jatiasih dan Bekasi Jaya dan hasilnya cukup efektif. Ke depan akan kita mulai dari sekolah-sekolah," katanya.

Tri juga menegaskan keberadaan polder tetap berperan penting dalam mengurangi dampak banjir, meski belum sepenuhnya mampu menahan debit air ekstrem.

"Polder itu bukan tidak berpengaruh, tapi sangat mengurangi. Kalau tidak ada polder, airnya akan ke mana-mana. Anomali hujan 9 jam tanpa henti ini memang luar biasa," tegasnya.

Terkait pembangunan polder baru, Pemkot Bekasi kini memprioritaskan kawasan Unisma setelah mendapat dukungan dari pihak Muhammadiyah.

"Manfaat polder bukan hanya untuk pengendalian banjir, tapi juga sebagai cadangan air, ruang terbuka hijau, dan sarana rekreasi warga," pungkasnya. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya