Headline
Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGGOTA Komisi D DPRD DKI Bun Joi Phiau mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk melakukan evaluasi total terhadap prosedur penanganan banjir. Desakan ini muncul menyusul adanya korban jiwa yang jatuh akibat sengatan listrik saat banjir melanda pada awal pekan ini.
Bun Joi Phiau menegaskan bahwa Pemprov Jakarta tidak boleh lagi memandang banjir sebagai siklus musiman yang wajar.
"Harus lebih serius dan jangan beranggapan banjir sebagai rutinitas yang diakibatkan oleh faktor alam saja, melainkan kondisi yang bisa ditanggulangi dampaknya untuk menjaga keselamatan warga Jakarta," tegas Bun di Jakarta, Kamis (15/1).
Soroti Anggaran Rp2,8 Triliun
Kritik keras ini dipicu oleh tragedi yang menimpa tiga warga di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, yang tewas tersengat aliran listrik saat banjir terjadi pada Senin (12/1). Bun mempertanyakan efektivitas anggaran pengendalian banjir yang dialokasikan Pemprov DKI Jakarta dengan nilai fantastis.
"Ke mana hasil dari anggaran yang sebesar Rp2,8 triliun itu. Ini merupakan uang yang ditarik dari pajak masyarakat. Tapi dalam kenyataannya, Pemprov DKI masih belum juga bisa mengatasi persoalan banjir dari waktu ke waktu," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dengan ketersediaan dana tersebut, seharusnya dampak banjir dapat diminimalisasi melalui persiapan yang lebih matang. Bun mengingatkan pemerintah daerah agar tidak berlepas tangan atau menyalahkan kondisi alam.
"Kalau hanya bisa menyalahkan, artinya Pemprov tidak siap. Jadi, tolok gunakan uang pajak sebaik-baiknya untuk menyelamatkan nyawa warga," kata Bun.
Tragedi di Cilincing
Berdasarkan informasi yang dihimpun, para korban terkena sengatan listrik saat air banjir mulai memasuki rumah mereka sementara perangkat elektronik masih dalam kondisi menyala.
Tiga korban jiwa tersebut terdiri dari pasangan suami istri berinisial HW, 54, dan NJ, 49, yang ditemukan di kediaman mereka, Kelurahan Semper Barat. Kapolsek Cilincing AK Bobi Subasri, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut disaksikan langsung oleh anak korban.
"Tersengat listrik di kediamannya, Blok R Gang II Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing pada Senin sore sekitar pukul 15.00 WIB," kata Bobi Subasri, Selasa (13/1).
Ia melanjutkan bahwa saksi yang baru pulang sekolah menemukan orang tuanya sudah tidak bernyawa. "Saksi melihat kedua korban mengambang di ruang tengah rumah dan langsung berteriak meminta pertolongan," tambahnya.
Korban ketiga adalah seorang wanita berinisial MYS, 40, yang juga meninggal dunia akibat dugaan sengatan listrik di Jalan Kalibaru Barat, Gang Sadang, pada Senin pagi. Kejadian ini dilaporkan oleh pengurus RT setempat setelah menerima informasi dari pihak keluarga korban.
Menutup keterangannya, Bun Joi Phiau kembali menekankan agar mitigasi bencana dilakukan secara konkret demi menjaga keselamatan warga Jakarta dari risiko fatal bencana banjir. (Ant/P-2)
Proses distribusi dilakukan secara terukur agar bantuan tepat sasaran sesuai dengan eskalasi kebutuhan di setiap lokasi.
Dua dari tiga korban merupakan pasangan suami istri berinisial HW, 54, dan NJ, 49.
Penumpukan limbah organik ini tidak hanya mengganggu estetika lingkungan, tetapi juga mengancam stabilitas ekologi pesisir dan kesehatan masyarakat.
Terkait nominal utang, polisi masih mendalami keterangan tersangka.
Saat ditemukan, pada jasad korban terdapat sejumlah luka bekas tikaman senjata tajam dan pelakunya terekam oleh kamera pengawas (CCTV).
Hilangnya nyawa dalam insiden terbaru ini adalah bukti nyata bahwa pendekatan persuasif tanpa ketegasan hukum tidak memberikan efek jera bagi para pelaku.
Perbaikan jalan harus dilakukan secara cepat, responsif, dan menyeluruh, dengan menempatkan keselamatan warga sebagai prioritas utama.
Korban merupakan warga Penjaringan, Jakarta Utara, yang sedang mengemudikan kendaraan bernomor polisi B 2148 BOK.
ANGGOTA Komisi C DPRD DKI Jakarta, Josephine Simanjuntak, menyoroti kinerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta dalam Rapat Komisi yang berlangsung pada Selasa (20/1).
Masalah tawuran tidak cukup diselesaikan hanya dengan imbauan moral atau nasihat.
Di tengah kondisi cuaca ekstrem saat ini, modifikasi cuaca bukan lagi sekadar opsi tambahan, melainkan prioritas utama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved