Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
TUMPUKAN sampah kembali menggunung di Pasar Kemiri Muka, Kota Depok, Jawa Barat. Tingginya diperkirakan mencapai lebih dari tiga meter. Pantauan hari ini, Minggu, (16/11), pukul 16.00 WIB, tumpukan sampah sudah memenuhi area luar tempat pembuangan sementara (TPS). Bahkan, sampah telah memakan badan jalan di area pasar tersebut.
Bukan hanya di TPS, tumpukan sampah juga terdapat di beberapa ruas jalan yang ada di area pasar yang terletak di bawah fly over Jalan Arief Rahman Hakim, Kelurahan Kemiri Muka, Kecamatan Beji itu. Penumpukan sampah itu mengalirkan dan mengendapkan lindi di area pasar.
"Baunya menyeruak mengganggu sekali. Tumpukan sampah menjadi sarang bagi lalat, kecoak dan tikus yang membawa kuman penyebab penyakit seperti pernafasan, diare dan disentri," kata Titi, salah satu pedagang, Minggu (16/11).
Menurut Titi, tumpukan sampah awalnya hanya sedikit. Karena tidak diangkut, tumpukan sampah terus bertambah hingga capai 5 meter. Pedagang sayuran itu mengaku, pedagang sering kali mengeluhkan penumpukan sampah yang tidak dibuang. "Pemerintah Kota (Pemkot) Depok selaku pemegang peran penting dalam pengelolaan sampah yang dihasilkan masyarakat dengan armada pengangkut, harusnya membuang sampah dari TPS ke tempat pembuangan akhir (TPA)," ungkapnya.
Pedagang lainnya, Lani mengatakan pedagang di Pasar Kemiri Muka sering merugi karena dagangan yang sepi pengunjung. Dari segi lokasi, Pasar Kemiri Muka sangat strategis karena berada di paru-paru kota yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari Kantor Wali Kota Depok, Jalan Margonda, yang merupakan tempat Wali Kota Supian Suri dan Wakilnya, Chandra Rahmansyah menjalankan pemerintahan.
"Soal lokasi, Pasar Kemiri Muka sangat strategis. Produk yang dijual juga sudah tepat sasaran dengan target pasar. Selain itu, pelayanan yang diberikan kepada pembeli sudah ramah," katanya.
Lani mengatakan selain dipenuhi sampah yang demikian menyengat, Pasar Kemiri Muka, sangat kumuh dan jorok. "Secara penataan kurang layak. Atap kios-kios bocor dimana-mana, kusen-kusen rayapan, dingding sudah tidak ber-cat lagi, lantai keramik rusak serta jalan tidak beraspal dan berubang," katanya.
Ia mengungkapkan sampah dan kondisi pasar yang tidak tertata serta kumuh dan jorok tersebut, seharusnya dilakukan revitalisasi karena letaknya di jantung kota. Ia beranggapan, Pemkot Depok seperti tak memiliki program dan konsep melakukan penataan pasar kumuh di Kota Depok. "Penataan pasar kumuh dan jorok ini perlu sekali dilakukan. Bukan hanya bertujuan membangun kotanya, melainkan juga membahagiakan warganya," ungkapnya.
Supian Suri, diminta bijak dalam menyikapi pasar kumuh dan jorok di Kota Depok. Sikap bijak itu diharapkan tidak berorientasi pada biaya dan anggaran. Lani meminta Supian melakukan penataan karena pasar yang kumuh dan jorok tersebut berada di sejajar rel kereta api (KRL) Depok-Bogor dan Depok-Jakarta. "Jadi, pasar ini sewajarnya perlu dilakukan penataan karena sudah tidak layak sebagai tempat transaksi oleh pedagang dan pengunjung," ucapnya.
Terkait dengan masalah sampah yang kembali menggunung di Pasar Kemiri Muka, pihak terkait yakni Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok belum memberikan tanggapan. Begitu pun Kepala UPTD Pasar Kemiri Muka, Budi Setyanto saat dihubungi melalui ponselnya tidak menyahut (H-3)
penegakan hukum pidana dalam kasus lingkungan merupakan mekanisme kompleks yang membutuhkan pembuktian ketat.
Pemkot Tangsel terus melakukan pengangkutan sampah secara bertahap di sejumlah ruas jalan dan titik-titik yang sempat mengalami penumpukan.
Lonjakan volume sampah selama masa libur akhir tahun bukan sekadar fenomena musiman, melainkan menjadi ujian nyata bagi sistem tata kelola sampah di daerah.
Sampah yang seharusnya diangkut secara rutin kini malah dibiarkan menumpuk.
Proses ini dapat melibatkan berbagai metode seperti insinerasi (pembakaran langsung), gasifikasi atau pirolisis, dengan tujuan mengurangi volume sampah
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved