Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
POLISI mengungkap kasus penipuan online dengan modus bekerja paruh waktu atau part time jaringan internasional. Tiga tersangka berinisial DPS (26 tahun), DPP (27 tahun), dan WW (35 tahun) berhasil ditangkap.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Trunoyudo, mengatakan kasus ini terungkap berbekal laporan masyarakat yang menjadi korban penipuan. Korban itu seorang wanita berinisial AM.
"Saat itu masuk ke akun instagram milik tersangka kemudian ia klik link di Instagram dan terhubung masuk di grup Whatsapp bernama "TOKPED" dimana korban diberikan tugas paruh waktu dengan dijanjikan keuntungan," kata Trunoyudo kepada wartawan dikutip Rabu, 26 Juli 2023.
Trunoyudo mengatakan korban diharuskan mentransfer uang ke beberapa rekening yang diarahkan oleh pelaku. Pelaku menjanjikan akan mengembalikan uang korban dengan komisi Rp400 ribu.
Baca juga: Hati-Hati, Masyarakat Diminta Waspada Penipuan Mengatasnamakan BPJS Kesehatan
Namun, setelah beberapa kali korban melakukan transfer ternyata korban tidak menerima kembali uangnya. Apalagi keuntungan yang dijanjikan.
"Akibat perbuatan para tersangka, korban dirugikan sekitar Rp878.000.000," ujar Trunoyudo.
Peran Berbeda
Trunoyudo membeberkan peran masing-masing pelaku. DPP sebagai salah satu pemilik rekening penampung uang korban. DPP pernah bekerja sebagai Costumer Service Judi Online di Kamboja.
Baca juga: Penipuan Online Berkedok Kerja Paruh Waktu Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Kerugian Rp35,4 Miliar
Sementara itu, tersangka DPS sebagai penyedia rekening penampung (buku rekening & ATM), Nomor Kartu Perdana yang akan diberikan ke tersangka WW. Sedangkan, tersangka WW mengirim ke salah satu pelaku berinisial CS yang berdomisili di luar negeri.
Pelaku WW juga bertugas merekrut pembuat buku tabungan dan rekening. DPS juga diketahui membuat rekening dan merekrut pelaku DPP.
"Selain itu, kedua pelaku (DPS dan DPP) secara bersama menarik tunai uang hasil transfer dari korban di rekening," beber Trunoyudo.
Trunoyudo menyebut dalam menjalankan aksinya para pelaku membentuk jaringan dengan merekrut orang pembuat buku tabungan rekening dan ATM. Selanjutnya, buku tabungan dan ATM di bawa ke Kamboja.
Lalu, pelaku yang berada di Kamboja membuat website. Tautan itu bila dibuka orang akan membuatnya otomatis masuk ke dalam grup kerja paruh waktu. Dalam kerja paruh waktu tersebut, korban ditawarkan menyetor atau transfer uang dengan iming-iming akan mendapatkan keuntungan.
"Selanjutnya korban yang berharap mendapat keuntungan yang dijanjikan, terus melakukan transfer hingga uang di dalam rekening korban habis," kata Trunoyudo.
Polisi menyita barang bukti berupa Handphone Iphone SE, Buku Tabungan dan Kartu ATM (Bank BRI, Mandiri, CIMB, BCA), Kartu Perdana (XL, TSEL, NETPHONE), 3 Unit Handphone, 1 CPU dan Box Handphone, buku catatan, uang tunai mata uang Kamboja, Vietnam, Thailand pecahan 1000, 500, 300, 20, 10.
Kemudian, 11 buku tabungan dan Kartu ATM (Bank BCA, BRI, BNI, BTN), 13 kartu ATM (Bank BCA, BRI, Mandiri, BNI, CIMB NIAGA), 2 paspor atas nama Deny Permana Putra, 2 Kartu Foreign Employment atas nama Deny, 13 kartu perdana (XL, TSEL, AXIS, SMARTFREN), 4 unit handphone, 1 Laptop & charge, buku catatan, 162 lembar mata uang Kamboja pecahan 100 setara Rp60-70 juta.
Para tersangka telah ditahan. Mereka dijerat Pasal 28 ayat (1) Jo Pasal 45 (1) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dan atau Pasal 378 KUHP, dengan ancaman pidana di atas 5 tahun penjara.
(Z-9)
Pengguna Instagram di berbagai negara melaporkan lonjakan notifikasi reset kata sandi yang tidak diminta. Diduga terkait kebocoran data dan maraknya upaya phishing serta pembajakan akun.
Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi digital, risiko kejahatan siber seperti penipuan online, phishing, dan penyalahgunaan identitas juga kian berkembang.
Pemerintah dorong wacana sertifikasi influencer, namun DPR menilai isu yang lebih mendesak adalah penipuan online, akun anonim, dan kebocoran data pengguna
SATUAN Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangauban di Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, terpaksa menghentikan operasional mereka.
Sebuah riset terbaru mengungkap fakta mengejutkan: iPhone dinilai lebih rentan terhadap ancaman digital dibandingkan Android.
Platform yang paling banyak digunakan untuk melakukan penipuan adalah Whatsapp.
LEBIH dari 60 toko di Indonesia, termasuk di Makassar, Jakarta, dan Semarang, menjadi korban dugaan penipuan dan penggelapan yang dilakukan melalui sebuah aplikasi.
Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), sebanyak 698 WNI menjadi korban TPPO sepanjang tahun 2024.
WARGA Cianjur, Abdul Fatah, diduga jadi korban dugaan TPPO di Kamboja. Nahas, warga Kecamatan Cijati Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu akhirnya meninggal dunia.
Penipuan online atau scam semakin marak di era digital ini. Tidak sedikit masyarakat yang menjadi korban, bahkan hingga kehilangan sejumlah besar uang.
Sebanyak 800 warga negara Indonesia (WNI) menjadi korban penipuan online oleh seorang warga negara Tiongkok berinisial SZ, dengan total kerugian mencapai ratusan miliar rupiah.
BARESKRIM Polri mengungkapkan peran lima tersangka penipuan dengan modus email palsu terhadap perusahaan Kingsford Huray Development di Singapura.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved