Senin 27 September 2021, 11:52 WIB

Ikappi: PeduliLindungi tak Bisa Diimplementasikan di Pasar Tradisional

Putri Anisa Yuliani | Megapolitan
Ikappi: PeduliLindungi tak Bisa Diimplementasikan di Pasar Tradisional

ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
Ilustrasi penerapan aplikasi pedulilindungi

 

KEMENTERIAN Perdagangan (Kemendag) telah melakukan uji coba penerapan protokol kesehatan melalui aplikasi PeduliLindungi di pasar rakyat atau pasar tradisional.

Sejak awal, Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) telah menyampaikan PeduliLindungi tidak bisa diimplementasikan di pasar dalam waktu singkat ini.

"Bukan berarti kami tidak setuju. Kami tetap mendorong agar pemerataan vaksinasi di pasar tradisional itu dilakukan, tetapi faktanya memang ini masih belum," kata Ketua Bidang Infokom DPP Ikappi Muhammad Ainun Najib dalam keterangan tertulis, Minggu (26/9) malam.

Ikappi menilai banyak hal yang harus diperbaiki. Pihaknya pun sudah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan melalui zoom meeting beberapa waktu yang lalu menyampaikan beberapa faktor tentang sulitnya PeduliLindungi diberlakukan di pasar tradisional. Ini yang harus menjadi catatan dan pentingnya pemerintah dan pihak pengelola pasar mempersiapkan terlebih dahulu beberapa faktor-faktor yang menjadi kendala.

Ikappi pun memberikan beberapa catatan penting yang perlu dipikirkan. Pertama, akses vaksin yang belum merata di pasar-pasar tradisional membuat pedagang masih belum cukup banyak mendapatkan vaksin.

"Kami terus mendorong agar vaksinasi itu dilakukan di pasar tradisional," tuturnya.

Baca juga:  IKAPPI Minta Mendag Cabut Peryataan Soal Pasar dan Vaksin

Kedua, persoalan PeduliLindungi itu sendiri. Bagi pedagang yang punya catatan kesehatan yang tidak bisa divaksin itu juga harus mendapatkan alternatif yang dipersiapkan di PeduliLindungi. Jadi PeduliLindungi tidak hanya sertifikat vaksin tetapi juga ada pilihan menu berupa surat keterangan dokter untuk bisa masuk ke pasar.

"Selain komorbid kami juga memikirkan pedagang yang baru saja terkena covid-19. Dia harus menunggu selama 3 bulan untuk bisa divaksin. Itu juga harus didapatkan keterangan dari dokter atau sertifikat sementara dari PeduliLindungi dan hal-hal lain," ujarnya.

Ketiga, perangkat PeduliLindungi yang ada di pasar tradisional, perangkat itu ada dua, pertama scaning barcode yang ada di depan pasar. Perangkat ini masih manual membutuhkan waktu cukup lama dan bisa mengakibatkan penumpukan karena SDM keamanan pasar terbatas. Kemudian untuk perangkat smarphone itu tidak semuanya dimiliki oleh pedagang.

Pedagang belum memiliki banyak smartphone sehingga PeduliLindungi tidak bisa diakses oleh pedagang, apalagi tidak banyak yang melek teknologi.

"Banyak faktor yang seharusnya bisa di perbaiki terlebih dahulu tetapi apapun yang terjadi kalau memang itu dipaksakan kami berharap tidak saklek pemerintah atau pengelola pasar karena akan terjadi gesekan," tukasnya.(OL-5)

Baca Juga

MI/USMAN ISKANDAR

BMKG: Waspada Angin Kencang dan Petir Jaksel dan Jaktim Sore Hari

👤Hilda Julaika 🕔Kamis 09 Desember 2021, 11:43 WIB
Warga diminta tetap waspada dengan perubahan cuaca yang...
Instagram @mr.jeffsmith

Saat Ditangkap, Jeff Smith Sedang Gunakan LSD

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Kamis 09 Desember 2021, 11:38 WIB
Saat ditangkap, kata Zulpan, terdapat sisa LSD sebanyak dua dari 50 buah yang ia...
ANTARA/Yulius Satria Wijaya

Pandemi Membaik, Penumpang KRL Terbanyak Tercatat Pada November 2021

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Kamis 09 Desember 2021, 09:46 WIB
Hingga November 2021 KRL Jabodetabek telah melayani 109.376.293 pengguna, lebih rendah dibandingkan tahun...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya