Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
REMAJA 15 tahun yang melakukan pembunuhan terhadap APA, 5, di Jakarta Pusat mulai diobservasi hari ini. Menurut Kepala Tim Dokter Kejiwaan RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Henny Riana, proses observasi akan berlangsung selama 14 hari kerja.
"Yang digali adalah, dalam kesimpulan orang ini mengalami gangguan jiwa atau tidak, apakah berkaitan dengan masalah tindakannya, apakah dia memenuhi unsur-unsur tanggung jawab terhadap kasus yang dialami," kata Henny di RS Polri Kramat Jati, Senin (9/3).
Menurut Henny, pihaknya akan melakukan serangkaian tes terhadap pelaku yang nantinya tertuang laporan visum et repertum psikiatrikum (visum jiwa).
"Teknisnya dalam hal ini pemeriksaan dengan wawancara psikiatri, pemeriksaan psikometri, pemeriksaan tim dari psikolog. Kalau dibutuhkan ya dari spesialis anak dan spesialis neurologi, dan lain-lain," papar Henny.
Selama masa observasi, pelaku ditempatkan di ruangan isolasi khusus menangani psikologi forensik. Sebagai langkah awal, tim dokter melakukan pendekatan terhadap pelaku.
Baca juga : Polisi Periksa Kejiwaan Remaja Pembunuh
"Awal ini tentu tidak semua kita tanyakan secara langsung, jadi perlahan-lahan. Kalau pertanyaan secara bertubi-tubi membuat orang tidak nyaman," ungkap Henny.
Henny menambahkan, pelaku mendapatkan pendampingan saat tim dokter mengobservasinya. Sejauh ini, kata Henny, pelaku masih terbilang kooperatif.
Pemeriksaan kejiwaan dilakukan mengingat banyaknya temuan-temuan polisi dalam kasus tersebut.
Diketahui, korban merupakan tetangga yang biasa bermain di rumah pelaku. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (5/3) di rumah pelaku di daerah Karang Anyar, Sawah Besar, Jakarta Pusat. (OL-7)
Kemudian apabila koordinator demo tidak melaporkan rencana demonstrasi dan tidak terjadi apa-apa atau keonaran maka dirinya tetap tidak akan dipidana.
Ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta bukan sekadar peristiwa kriminal biasa, melainkan merupakan simbol dari luka sosial yang lama terpendam di dunia pendidikan.
Projo menyatakan dukungan terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto, menuai sorotan pengamat politik Hendri Satrio.
Said mengaku tidak setuju dengan anggapan partai sebagai tempat berlindung dari jeratan pidana. Ia mengatakan partai merupakan tempat untuk bertukar pikiran demi kemajuan bangsa.
Anak akan mengalami kesulitan dalam meregulasi emosi dan merasa putus asa karena dari stigma negatif dari lingkungannya.
Anak yang kurang mendapat nilai dari keluarga juga memengaruhi mereka dalam meregulasi emosinya saat menghadapi keinginan yang belum terpenuhi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved