Selasa 30 Juli 2019, 13:24 WIB

DPRD DKI Belajar soal Pengolahan Sampah dari Surabaya

Putri Anisa Yuliani | Megapolitan
DPRD DKI Belajar soal Pengolahan Sampah dari Surabaya

ANTARA FOTO/Rosa Panggabean
Anggota Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD DKI Jakarta, Bestari Barus.

 

DPRD DKI Jakarta mengadakan kunjungan kerja (kunker) ke Kota Surabaya untuk mempelajari mekanisme pembiayaan fasilitas pengolahan sampah. Referensi yang didapat dari kunker ke Surabaya ini akan menjadi bahan bagi DPRD dalam membahas revisi Peraturan Daerah Nomor 3/2013 tentang Pengelolaan Sampah.

Menurut anggota Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD DKI Jakarta, Bestari Barus, salah satu hal yang menarik dipelajari adalah terkait 'tipping fee'.

Baca juga: Anies Sarankan Daging Kurban Gunakan Wadah Ramah Lingkungan

"Tentang tipping fee yang lebih dominan ke arah besaran dan tata cara pembayaran tipping fee. Kita belum ada perda mengenai tipping fee. Nah, mereka sudah ada," kata Bestari saat dihubungi, Selasa (30/7).

Meski angka tipping fee di Surabaya tidak bisa dijadikan cerminan karena skalanya lebih kecil, menurut Bestari, pihaknya bisa menjadikan skema perhitungan tipping fee yang digunakan Surabaya untuk menghitung tipping fee di Jakarta.

"Selanjutnya tentu nanti kita tugaskan dinas terkait untuk melengkapi hitung-hitungan itu. Kemudian segera menyelesaikan rancangannya," terangnya.

Bestari juga menekankan perlunya percepatan pengurangan sampah dan penambahan fasilitas pengolahan sampah seperti ITF. Sebabnya, kapasitas Tempat Sampah Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang akan mencapai beban puncak pada 2021.

Sementara itu, ITF Sunter yang sedang dibangun baru ditargetkan mengolah 2.200 ton sampah perhari dari total produksi sampah harian di Jakarta yang mencapai 6.500 ton sampai 7.500 ton.

"Ya kunker ini juga kaitannya dengan Bantargebang. Dia hanya bisa tahan sampai 2021. ITF 2.200 ton berarti setidaknya butuh empat, tapi nanti baru ada satu. Nah, yang 5 ribu ton ini mau kemana," tegasnya.

Adapun, Jakarta saat ini sedang membangun Fasilitas Pengolahan Sampah Antara (FPSA) atau Intermediete Treatment Facility (ITF) yang dapat mengolah sampah menjadi tenaga listrik lewat proses pemanasan.

Sementara, Surabaya menggunakan teknologi Landfill Gas Powerplan (LPG) dalam mengolah sampah yakni dengan mengubah sampah menjadi listrik lewat penguapan sampah.

Baca juga: Pengedar Ganja Lintas Kampus Merupakan Mahasiswa Berprestasi

Bestari pun menilai tidak ada salahnya Jakarta belajar pengelolaan sampah dari Surabaya. Sebab, Surabaya sudah berhasil melakukan pengolahan sampah melalui teknologi LPG dengan mengubah 1.500 ton sampah harian Surabaya menjadi 9 megawatt listrik.

Sebelumnya, DPRD DKI Jakarta mengadakan kunker di Surabaya sejak Senin (29/7) guna mencari referensi terkait pengelolaan sampah dalam rangka pembahasan revisi Perda 3/2013 tentang Pengelolaan Sampah. Kunker pun direncanakan berakhir hari ini.  (OL-6)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

90 Sekolah di Jakarta Tutup Karena Omikron, KSP: Jangan Panik Berlebih

👤Indriyani Astuti 🕔Jumat 28 Januari 2022, 09:40 WIB
"Waspada harus proporsional, jangan panik berlebih. Kita ribut dengan penutupan 90 sekolah, padahal di Jakarta ada 6.421...
medcom.id

Polisi Terus Buru Pelaku Tabrak Lari Pesepeda Hingga Tewas di Pasar Minggu

👤Yakub Pryatama 🕔Jumat 28 Januari 2022, 08:56 WIB
Polres Jaksel belum menemukan nomor polisi kendaraan yang diduga menabrak lari...
Dok. Bebek Kaleyo

Perluas CIta Rasa Olahan Bebek, Bebek Kaleyo Buka Outlet di Summarecon Bekasi 

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 27 Januari 2022, 23:12 WIB
Desain interior restoran Bebek Kaleyo Summarecon Bekasi bergaya scandinavian garden yang minimalis dipadu dengan ornamen batu...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya