Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Greenpeace Tegaskan Polusi Udara Jakarta bukan karena Kemarau

Candra Yuri Nuralam
04/7/2019 11:45
Greenpeace Tegaskan Polusi Udara Jakarta bukan karena Kemarau
Kabut pekat polusi udara menutupi gedung-gedung tinggi perkantoran di Jakarta.(MI/Susanto)

PENGAMAT Lingkungan Hidup Greenpeace Indonesia Bondan Andrimayu tidak setuju permasalahan polusi di Jakarta dikaitkan dengan musim kemarau. Pencemaran udara di ibu kota terjadi lantaran dominasi penggunaan kendaraan pribadi.

"(Polusi udara) justru karena peningkatan moda transportasi. Dari 46% (2012) ke 70% (2019) kalau kita lihat dari data emision inventory," ujar Bondan, Kamis (4/7).

Bondan mengatakan berdasarkan data emision inventory pada 2012, polusi akibat kendaraan berada di angka 48%. Di sisi lain, sektor industri dan limbah domestik juga berkontribusi sebagai polutan masing-masing 28% dan 17% termasuk dari pembakaran sampah sebesar lima persen dan debu jalanan empat persen.

Ia memerinci pada moda transportasi menghasilkan emisi 20 ribu ton pada 2012. Saat ini, kecenderungannya meningkat dan berada hampir di angka 40 ribu ton. Sedangkan tudingan kemarau memperparah polusi hanyalah alibi tanpa dasar.

Baca juga: Polusi Udara Memburuk, Anies: Yuk, Naik Transportasi Umum

"Apa pun itu jawaban DKI dan KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) artinya ini masyarakat menghirup udara yang tidak sehat. Apa harus dibiarkan?" ujar dia

Sebelumnya, Pemprov DKI menyebut musim kemarau berkontribusi terhadap buruknya kualitas udara di Jakarta. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup Andono mengatakan partikel debu naik ke atmosfer saat musim kemarau.

"Sekarang ini lagi El Nino. Prediksinya sampai tiga bulan ke depan akan panas terus enggak ada hujan. Kalau panas partikel yang dihasilkan aktivitas di kota akan menutup dan membentuk lapisan di atmosfer," kata Andono, Rabu (3/7).

Kemudian, partikel tersebut terakumulasi dan memperparah pencemaran udara di ibu kota. Andono menyebut kemarau akan menimbulkan efek inversi di atmosfer.

"Beda kalau hujan lapisan ini terbuka, kayak dicuci kotorannya. Kayak baju kalau kena air kan kotorannya bisa hilang. Kalau kotoran di udara kena hujan juga menjadi lebih bersih," ungkap dia.

Andono meminta warga mengurangi asap dari kendaraan bermotor. Dia mengajak warga menggunakan transportasi massal saat berpergian. (Medcom/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya