Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Vitamin D, C, dan Zinc: Kombinasi Kunci Jaga Imun sepanjang Tahun

N Apuan Iskandar
01/3/2026 13:00
Vitamin D, C, dan Zinc: Kombinasi Kunci Jaga Imun sepanjang Tahun
Ilustrasi(Freepik.com)

MENJAGA daya tahan tubuh tetap optimal menjadi perhatian utama masyarakat pascapandemi dan di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan preventif. Sejumlah riset ilmiah menunjukkan bahwa asupan vitamin dan mineral tertentu berperan penting dalam mendukung fungsi sistem imun, terutama vitamin D, vitamin C, zinc, dan vitamin A.

Menurut World Health Organization (WHO), sistem imun yang kuat dipengaruhi oleh pola makan seimbang, tidur cukup, aktivitas fisik, serta kecukupan mikronutrien. Kekurangan zat gizi tertentu dapat menurunkan respons imun terhadap infeksi virus maupun bakteri.

Vitamin D menjadi salah satu nutrisi yang paling banyak diteliti. National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat melalui Office of Dietary Supplements menyebutkan bahwa vitamin D berperan dalam modulasi respons imun bawaan dan adaptif. Meta-analisis yang dipublikasikan dalam jurnal BMJ pada 2017 menunjukkan suplementasi vitamin D dapat menurunkan risiko infeksi saluran pernapasan akut, terutama pada individu dengan defisiensi vitamin D.

Sementara itu, vitamin C dikenal sebagai antioksidan kuat yang membantu melindungi sel dari stres oksidatif. NIH merekomendasikan asupan harian vitamin C sebesar 75 mg untuk perempuan dewasa dan 90 mg untuk laki-laki dewasa. Meski tidak mencegah sepenuhnya flu biasa, vitamin C dapat membantu memperpendek durasi gejala pada sebagian orang.

Zinc juga berperan penting dalam fungsi sel imun. Defisiensi zinc dikaitkan dengan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi. Data NIH menyebut kebutuhan zinc harian orang dewasa berkisar 8–11 mg per hari, tergantung jenis kelamin. Penelitian dalam jurnal Nutrients (2020) menunjukkan zinc memiliki peran dalam menghambat replikasi virus tertentu.

Vitamin A turut mendukung integritas mukosa saluran napas dan pencernaan sebagai garis pertahanan pertama tubuh terhadap patogen. Kekurangan vitamin A masih menjadi masalah kesehatan di sejumlah negara berkembang dan dapat meningkatkan risiko infeksi berat pada anak.

Meski demikian, para ahli menekankan bahwa suplementasi tidak boleh menggantikan pola makan seimbang. Sumber alami seperti ikan berlemak (untuk vitamin D), buah sitrus (vitamin C), daging dan kacang-kacangan (zinc), serta sayuran berwarna oranye dan hijau tua (vitamin A) tetap menjadi pilihan utama.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga mengingatkan bahwa konsumsi suplemen sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan individu dan, bila perlu, berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium untuk menghindari kelebihan dosis.

Dengan pendekatan berbasis bukti ilmiah, kombinasi nutrisi seimbang, gaya hidup aktif, dan suplementasi yang tepat menjadi strategi terbaik untuk menjaga daya tahan tubuh sepanjang 2026.

Sumber: World Health Organization (WHO), National Institutes of Health (NIH), Journal Nutrients 2020.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya