Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
DI era modern ini, kita semakin sering melihat fenomena di mana anak-anak dipaksa untuk tumbuh terlalu cepat. Istilah “sindrom anak terburu-buru” atau hurried child syndrome sedang menjadi topik hangat, terutama di kalangan orangtua.
Fenomena ini mengacu pada anak-anak yang didorong untuk bertindak dan berpikir seperti orang dewasa sebelum mereka siap. Hal ini sering kali menyebabkan tekanan mental dan emosional yang berlebihan.
'Sindrom anak terburu-buru' adalah kondisi di mana anak-anak dipaksa untuk melewati masa kecil mereka dengan cepat dan diharapkan untuk menangani tanggung jawab yang biasanya lebih cocok untuk orang dewasa.
Baca juga : Enfagrow A+ Ajak Orang Tua Optimalkan Kecerdasan Akademis dan Emosional
Dilansir dari Parents menurut Sanam Hafeez, PsyD, seorang neuropsikolog dari New York City, ini adalah bentuk "epidemi" yang sedang menyebar di masyarakat kita. Anak-anak diharapkan untuk berprestasi di luar kemampuan mereka, baik di sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, olahraga, maupun kehidupan sosial mereka.
Sebutan sindrom anak tergesa-gesa pertama kali dicetuskan David Elkind, PhD, psikolog anak asal Amerika Serikat, tahun 1980an. Fenomena ini sebenarnya sudah ada jauh dari sebelum istilah-istilah ini terbentuk.
“Versi modern dari sindrom ini mungkin lebih terstruktur dan tertekan karena sistem pendidikan yang kompetitif dan tuntutan untuk mencapai kesuksesan masyarakat,” kata Dr. Hafeez.
Baca juga : Orangtua Diminta Peka terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak
Banyak faktor yang berkontribusi terhadap sindrom ini. Orangtua sering kali tidak menyadari niat mereka untuk memberikan yang terbaik bagi anak, justru bisa menjadi bumerang.
Thomas Priolo, MD, seorang psikiater di Jersey Shore University Medical Center, menyatakan kecemasan orangtua mempersiapkan anak-anak mereka menghadapi masa depan yang kompetitif, membuat mereka tanpa sadar mendorong anak-anak untuk tumbuh terlalu cepat.
Media sosial juga memperburuk tekanan ini, dengan memperlihatkan kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses, sehingga orangtua merasa harus berbuat lebih banyak untuk anak-anak mereka.
Baca juga : Ini Tips Menyiapkan Mental Anak Agar Bersemangat Masuk Sekolah
Ketika anak-anak didorong untuk tumbuh lebih cepat daripada yang seharusnya, hal itu dapat menyebabkan berbagai masalah psikologis dan emosional. Anak-anak mungkin mengalami stres, kecemasan, dan depresi. Selain itu, mereka juga bisa mengalami kesulitan akademis, kelelahan, dan gangguan hubungan sosial.
Priolo menjelaskan meskipun orang tua bermaksud baik, tekanan yang mereka berikan sering kali kontraproduktif dan merusak perkembangan anak.
Beberapa tanda anak Anda mungkin mengalami sindrom ini meliputi:
Baca juga : 6 Cara Mengajarkan Kesabaran pada Anak
Mencegah sindrom ini, penting bagi orangtua menciptakan lingkungan yang mendukung dan tidak terlalu menuntut. Memberikan anak waktu bermain yang tidak terstruktur dan mengurangi paparan teknologi adalah langkah yang baik untuk mempromosikan eksplorasi dan pembelajaran mandiri.
Priolo juga menekankan pentingnya memberikan anak kebebasan untuk menetapkan tujuan mereka sendiri yang sesuai dengan usia dan kemampuan mereka, serta menghargai proses belajar daripada hanya hasil akhir.
Akhirnya, Hafeez menambahkan bahwa orang tua harus mencontohkan keseimbangan kehidupan kerja yang sehat dan menunjukkan bahwa menikmati hal-hal sederhana dalam hidup adalah bagian penting dari kebahagiaan dan kesejahteraan.
'Sindrom anak terburu-buru' adalah fenomena yang perlu diwaspadai para orangtua. Dengan memahami tanda-tanda dan dampaknya, serta menerapkan strategi pengasuhan yang lebih lembut dan mendukung, kita dapat membantu anak-anak menikmati masa kecil mereka sepenuhnya tanpa terbebani oleh tekanan yang tidak semestinya.
Mari kita ingat, masa kecil adalah waktu untuk bermain, belajar, dan berkembang, bukan untuk terburu-buru menjadi dewasa. (Parents/Z-3)
Posisi di tengah membuat seorang anak merasa perlu melakukan upaya ekstra untuk mendapatkan perhatian orangtua yang sering kali terbagi.
Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan
Ada mekanisme psikologis dan neurologis yang sangat kompleks yang membuat manusia modern begitu terobsesi dengan urusan privasi orang lain, seperti netizen yang terobsesi dengan artis.
PEMAHAMAN mendalam mengenai tahapan perkembangan psikologi anak bukan sekadar wawasan tambahan, melainkan fondasi utama dalam pola asuh modern di tahun 2026.
Psikologi menyebut orang yang memasak sambil membersihkan dapur memiliki 8 kepribadian kuat, mulai dari disiplin, mindfulness, hingga manajemen waktu yang baik.
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Kondisi emosional adalah faktor penentu utama kemampuan anak dalam menyerap pelajaran.
Ketika seseorang mengalami stres atau kecemasan berlebihan, tubuh akan melepaskan hormon kortisol, yang dapat merusak lapisan lambung menyebabkan gangguan pencernaan.
BAND Zima resmi merilis single terbaru berjudul ‘Muda dan Tak Berguna’, yang menjadi soundtrack film Rest Area produksi Mahakarya Pictures. Lagu ini menjadi denyut emosional
AMANDA Rawles bakal bikin menangis penonton film Indonesia melalui judul terbaru Andai Ibu tidak Menikah dengan Ayah.
Collaborative for Academic Social Emotional Learning (CASEL) mulai mendapat perhatian serius di Indonesia.
Regene Genomics menghadirkan Tes DNA EMO-Q yang bisa mendeteksi hubungan dan emosional pasangan untuk mendapatkan hubungan yang lebih sehat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved