Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
ELSA, 50, kerap heran karena anaknya, R, sewaktu berusia 13 bulan sering kali tidak merespons ketika dipanggil. "Dia suka asyik sendiri dan kurang peduli sekitarnya. Padahal, anak-anak seusia dia waktu itu perkembangannya sudah lebih jauh," kata Elsa kepada Media Indonesia.
Ketika diperiksakan ke dokter, R didiagnosis mengalami autistic disorder. Elsa mengaku beruntung karena R mendapatkan diagnosis tepat sejak awal.
Autism spectrum disorder merupakan gangguan perkembangan otak yang mengakibatkan seseorang yang mengidapnya mengalami gangguan dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan memiliki minat yang terbatas. Umumnya gangguan tersebut ditandai dengan adanya tindakan repetitif atau berulang pada anak usia dini. Setiap 2 April, diperingati sebagai Hari Peduli Autisme Sedunia.
Baca juga : Ketahui Penyebab Cerebral Palsy dan Sejumlah Gejalanya
Hingga saat ini, para ahli belum menemukan apa persisnya penyebab autisme. Berdasarkan penelitian National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), sejauh ini kombinasi faktor genetik dan lingkungan menjadi penyebab paling umum dari spektrum autisme.
Menurut Eva Devita Harmoniati, dokter spesialis pediatri sekaligus Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), istilah spektrum digunakan pada anak penderita autisme karena gejala yang membersamainya bervariasi. Ada gejala verbal, nonverbal, bahkan dari gejala tingkat kognitif yang di bawah rata-rata hingga yang tingkat kognitifnya jauh di atas rata-rata atau genius.
"Bahkan, ada pula yang awalnya di usia 18 bulan hingga dua tahun tumbuh kembangnya normal, tapi perlahan mengalami regresi atau penurunan. Jadi, yang dimaksud spektrum di sini adalah gejala yang bervariasi yang dialami oleh anak penderita autis," tambah Eva.
Baca juga : Waspada Microsleep, Gejala Tidur Beberapa Detik
Gejala yang dialami R ternyata merupakan gejala yang paling sering dijumpai pada anak penderita autis. Umumnya anak penderita autis mengalami perkembangan verbal yang lambat. Di saat anak seusianya sudah mulai bisa mengucapkan kata-kata sederhana seperti memanggil orangtuanya, anak dengan gangguan autis lebih sering melakukan babbling atau gumaman minim makna. Mereka juga sulit melakukan kontak mata dengan orang-orang di sekitarnya ketika diajak bicara. Itulah yang membuat R kerap acuh ketika dipanggil.
Selain itu, umumnya anak penderita gangguan autis sulit melakukan komunikasi. Jika menginginkan sesuatu, mereka jarang menunjuk pada benda atau objek yang diinginkan, tapi lebih memilih menarik tangan orangtua atau pengasuhnya untuk mendekati objek tersebut.
Perilaku repetitif, seperti bertepuk tangan, suka menggelengkan kepala, atau menggerakkan anggota tubuh lainnya juga menjadi salah satu ciri umum anak dengan gejala autisme. Seandainya tidak dilakukan sendiri pun, mereka biasanya menunjukkan ketertarikan terhadap benda-benda dengan gerakan serupa, seperti kipas angin atau roda yang berputar.
Baca juga : Usia Bertambah, Frozen Shoulder Mengintai
"Perlu diperhatikan juga biasanya anak dengan gangguan autisme sering memainkan mainan dengan cara yang tidak lazim, seperti ditumpuk saja, atau disusun saja" ujar Eva.
Penanganan anak dengan gangguan autisme membutuhkan peran dari berbagai profesi di dalamnya dan kerja sama dengan orangtua serta anggota keluarga terdekat. Mereka harus menjalani berbagai terapi, seperti terapi sensor integrasi, terapi wicara, terapi okupasi, atau terapi perilaku sesuai dengan spektrum masing-masing.
Menurut Eva, penanganan tidak bisa hanya mengandalkan terapi. Orangtua juga harus aktif bekerja sama dengan anggota keluarga lainnya untuk membantu anak penderita gangguan autisme supaya bisa beradaptasi dan berkomunikasi di lingkungannya. "Anak harus dilibatkan dalam aktivitas sehari-hari. Jangan membiasakan anak bermain sendiri. Beri kesempatan anak untuk melakukan eksplorasi terhadap dunia luar," papar Eva. (H-2)
GANGGUAN tidur dan pernapasan semakin mendapat perhatian dalam dunia kesehatan.
Sejumlah warga mengeluhkan demam yang disertai pegal, nyeri pada persendian, hingga rasa tidak nyaman pada tubuh.
Demensia adalah gangguan kesehatan yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengingat, berpikir, hingga berperilaku
Alergi merupakan salah satu gangguan kesehatan yang umum dialami banyak orang di berbagai usia. Kondisi ini terjadi ketika sistem imun tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap zat asing
Kesehatan anak adalah fondasi bagi masa depan yang cerah. Sayangnya, masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa selama anak tampak sehat, pemeriksaan rutin tidaklah perlu.
Gejala seperti kuku kering atau kuning, bintik putih, dan garis hitam mungkin merupakan tanda normal penuaan atau gejala penyakit pernafasan, tiroid, atau kulit dan kanker.
Buku berjudul Mika & Maka: Berani ke Dokter karya kolaborasi Karen Nijsen dan Maria Ardelia menghadirkan kisah yang disampaikan secara hangat dan mudah dipahami agar anak takut ke dokter
Selain jumlah, persoalan lain yang disoroti adalah distribusi dokter yang belum merata. Ia menyebut sebagian besar pendidikan kedokteran masih terpusat di Pulau Jawa.
Polda Metro Jaya menetapkan dr. Richard Lee sebagai tersangka kasus perlindungan konsumen atas laporan Dokter Detektif (Doktif).
Kemenkes melepas ratusan relawan dokter dan tenaga kesehatan bantu penanganan bencana di sejumlah wilayah di Aceh.
Tempat praktik yang digunakan bukan merupakan aset pribadi, melainkan unit yang disewa secara harian maupun mingguan.
Universitas itu nantinya tidak hanya berfokus pada pendidikan dokter, tetapi menaungi berbagai disiplin ilmu kesehatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved