Headline
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Kumpulan Berita DPR RI
GANGGUAN Hoarding Disorder adalah penyakit mental kompleks yang ditandai dengan kesulitan terus-menerus untuk melepaskan sesuatu barang, yang menyebabkan penumpukan dan kekacauan pada suatu tempat. Gangguan dapat berdampak signifikan pada fungsi dan kesejahteraan sehari-hari seseorang dan lingkungannya.
“Hoarding Disorder merupakan salah satu bentuk gangguan kesehatan mental dengan kecenderungan mengumpulkan atau menimbun barang-barang. Seperti barang yang pada umumnya dianggap tidak berguna atau tidak bernilai lagi (karenanya bisa disebut sampah),” jelas Psikolog klinis, Ratih Ibrahim saat dihubungi Media Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu.
Meski demikian, menimbun dalam kerangka seseorang yang mengalami gangguan hoarding disorder, berbeda dengan kegemaran untuk mengumpulkan barang tertentu seperti yang dilakukan para kolektor.
Baca juga : Kesehatan Mental Generasi Muda Penting dalam Proses Pembangunan Bangsa
“Hoarding Disorder berbeda dengan orang yang suka koleksi barang. Karena kalau kolektor itu pasti barang-barang rapi dan terorganisir, lalu dipajang. Sementara HD berantakan karena barang yang disimpan adalah jenis barang yang sudah rusak, karatan, usang dan tidak ada fungsinya namun, masih ia simpan,” jelas Ratih.
Lebih lanjut Ratih menjelaskan bahwa Hoarding Disorder juga berbeda dengan kegiatan dan pekerjaan para pemulung yang kerap mengumpulkan barang bekas dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi.
“Pada orang dengan hoarding disorder, penimbunan sering kali dilakukan secara acak dan sembarangan. Mereka merasa aman saat bisa menumpuk sampah karena merasa sayang saat membuangnya. Tetapi mengumpulkan barang bekas untuk dijual lagi, seperti pemulung bukan gangguan HD, karena kalau pemulung masih memikirkan ada faktor ekonomi,” jelasnya.
Baca juga : Studi HCC: Orang Indonesia dengan Emotional Eater 2,5 Kali Berisiko Stres
“Akan tetapi, apabila yang disimpan bukan sampah akan tetapi barang-barang milik penderita sendiri yang bekas pakai atau masih sering dipakai maka menurutnya belum tentu dia hoarder,” lanjutnya.
Ratih menjelaskan bahwa hoarding disorder termasuk dalam kategori gangguan mental yang langka. Secara global, hanya 2-5 persen orang terdiagnosis memiliki hoarding disorder. “Gangguan ini biasanya dimulai sekitar usia 15 hingga 19 tahun, cenderung memburuk seiring bertambahnya usia. Penimbunan lebih sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua dibandingkan dewasa yang lebih muda,” jelasnya.
Hoarding disorder, lanjutnya, terkait dengan kondisi kesehatan mental lain seperti depresi, gangguan kecemasan, gangguan obsesif-kompulsif (OCD), dan attention-deficit and hyperactivity disorder (ADHD).
Baca juga : Psikolog Ingatkan Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental
“HD ini adalah salah satu manifestasi OCD intens kronik. Biasanya gangguan ini akan muncul dan mulai terlihat di usia pra remaja. Karena di usia anak-anak, mereka belum peduli, dan masih diurus oleh orangtua atau pengasuh. HD akan menjadi semakin menguat dengan pertambahan usia,” jelasnya.
Menurut Ratih, gangguan mental ini melibatkan keterikatan emosional yang kuat dengan objek dan ketakutan untuk membuangnya bahkan jika barang-barang itu nilainya kecil atau tidak ada nilainya.
“Seorang penderita HD adalah orang yang pencemas dan insecure. Kemungkinan besar ada manifestasi irrasional pada dirinya, kalau dibuang takut kena musibah, takut kualat, takut orang yang punya nilai sentimental dengan benda tertentunya akan meninggal dan lainnya, cara berpikir yang absurd itu kerap kali hadir di kepala pengidap HD,” katanya.
Meskipun penyebab hoarding disorder belum diketahui secara pasti, Ratih mengungkapkan beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini mulai dari genetik, pengalaman masa lalu hingga pola asuh dan trauma pada diri seseorang. (H-2)
Banyak orang merasa tertekan karena merasa harus selalu tampil sempurna di depan keluarga besar.
Laporan Kebahagiaan Dunia terbaru mengungkap dampak negatif algoritma TikTok dan Instagram pada mental pemuda.
Doja Cat buka suara soal diagnosis BPD yang diidapnya dan alasannya kerap membalas komentar pedas netizen di media sosial.
Analisis data selama 45 tahun mengungkap penggunaan ganja untuk depresi, kecemasan, hingga PTSD tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat.
Peneliti temukan pola otak unik pada pengidap ADHD. Otak pengidap ADHD sering mengalami episode "mirip tidur" meski sedang terjaga, yang memicu gangguan fokus.
Berdasarkan survei pada 2023 ditemukan bahwa sekitar 41% orang dewasa yang melakukan mudik mengalami gejala kecemasan (anxiety) serta depresi ringan hingga sedang selama periode perjalanan.
Salah satu fenomena yang paling sering muncul dari penggunaan media sosial adalah kecenderungan remaja untuk melakukan perbandingan sosial secara ekstrem.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus melakukan berbagai upaya penanganan bencana banjir bandang di Kabupaten Pemalang.
mitigasi bencana tidak dapat hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi juga harus menyentuh perubahan perilaku serta penguatan kesiapan mental masyarakat
TAWA anak-anak perlahan terdengar di sebuah sudut Kecamatan Kuta Blang, Bireuen. Di tengah rumah-rumah yang masih menyisakan jejak bencana. Penyuluh agama Islam adakan trauma healing
Dokumen baru mengungkap cara Ghislaine Maxwell menggunakan peran "kakak perempuan yang keren" untuk menormalisasi pelecehan seksual Jeffrey Epstein terhadap remaja.
Dampak ketidakhadiran ayah juga dapat terlihat dalam dunia pendidikan dan pergaulan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved