Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
MERUJUK data World Health Organization (WHO) 2019, pneumonia memicu 14% dari kematian anak di bawah usia lima tahun yang mencapai 740.180 jiwa kematian.
Data Unicef juga menyebut di Indonesia, pneumonia menjadi penyebab kematian terbesar pada anak di bawah lima tahun (balita), dengan perkiraan 19.000 anak meninggal pada 2018. Secara estimasi global menyebut setiap jam, ada 71 anak di Indonesia terkena pneumonia.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Respirologi Prof dr Cissy Kartasasmita SpA (K) MSc PhD mengatakan penyakit ini sebagai the silent killer bagi anak usia balita.
Baca juga : Upaya Pencegahan Pneumonia pada Anak
"Pneumonia terjadi karena peradangan paru-paru akibat infeksi bakteri, virus, atau jamur yang mengakibatkan sesak napas, anak sulit bernapas, serta menyebabkan demam, batuk dengan lendir bening ataupun berwarna kuning, hijau, atau bercampur darah," jelas dia.
Menurut Cissy, gejala awal pneumonia sulit dibedakan dengan penyakit saluran pernapasan lain. "Seringkali terlewatkan, sehingga penting bagi orang tua untuk mengenali berbagai gejala awal dan faktor risiko pneumonia,” ungkapnya.
Penyebab pneumonia, salah satunya ialah respiratory syncytial virus (RSV). Virus ini ialah penyebab utama pneumonia. Merujuk data empat penelitian lokal menunjukkan RSV adalah virus yang muncul setiap tahun. Puncaknya terjadi pada minggu ke-48 (awal Desember) hingga minggu 16 (akhir Maret). Namun, para ahli masih yakin hal ini akan mengikuti flu yang berlangsung sepanjang tahun.
Baca juga : Polusi Udara Dipastikan Tingkatkan Risiko Radang Paru
Faktor risiko utama infeksi RSV parah ialah bayi prematur, bayi dengan kelainan bawaan seperti jantung bawaan, bayi dengan brocho pulmonary displasia (BPD) dan bayi dengan kelainan celebral palsy (CP).
Diperkirakan 2,02% insiden bayi yang lahir prematur berisiko tinggi terinfeksi RSV. Mortalitas pada bayi prematur berisiko tinggi hingga mencapai 3% ketimbang laju kematian covid-19 pada anak-anak yakni 0,4%. "Artinya risiko terkena RSV lebih tinggi pada bayi prematur. Indonesia memiliki angka kelahiran prematur tinggi sekitar 10%,” jelas Cissy.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018, prevalensi angka kelahiran prematur di Indonesia 2018 sebanyak 29,5% per 1.000 kelahiran hidup. Indonesia berada pada posisi ke-5 tertinggi di dunia untuk persalinan prematur yakni sekitar 657.700 kasus.
Baca juga : Yuk Kenali Gejala Pneumonia pada Anak
Karenanya, Cissy menilai penting bagi masyarakat untuk mengetahui apa RSV dan mencegah kelahiran prematur untuk mengurangi risiko kematian bayi. Hal lain yang diwaspadai yakni pneumonia akibat virus biasanya tidak menimbulkan gejala berat, tapi waktu penyembuhan lebih lama.
Penularan pneumonia bisa melalui dropet atau percikan air liur. Pencegahan bisa rajin dengan mencuci tangan, menjaga sirkulasi udara di rumah, mengurangi paparan polusi udara, dan memberikan monoclonal antibodi untuk bayi, terutama bayi prematur.
Adapun kekebalan untuk penyakit pneumonia karena infeksi bakteria bisa melalui vaksin DPT, Hepatitis B dan A, dan HiB. Untuk pneumonia akibat infeksi virus adalah vaksin Polio, MR/MMR, dengue, influenza dan cacar air, yang dapat melindungi anak dari penyakit tersebut.
Center for Disease Control and Prevention (CDC) sudah merekomendasikan perlindungan bayi dengan antibodi monoklonal RSV. "Untuk itu, penting bagi pemerintah dan kita semua meningkatkan upaya menjaga kesehatan bayi prematur agar tetap sehat, edukasi pencegahan pneumonia serta meningkatkan daya tahan tubuh bayi dengan imunisasi sesuai jadwal.” pungkas Cissy. (H-2)
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Pada pasien anak yang dirawat inap akibat radang paru akut (pneumonia), ditemukan bahwa mereka yang mengalami gejala berat, sering kali memiliki lebih dari satu patogen di dalam tubuhnya.
Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud dari Arab Saudi didiagnosis mengalami peradangan paru-paru dan sedang menerima perawatan di Jeddah.
Udara kotor menyebabkan infeksi saluran pernapasan terjadi lebih tinggi, mengingat bakteri dan virus masuk melalui proses pernapasan.
Udara kotor menyebabkan infeksi saluran pernapasan terjadi lebih tinggi.
Kematian jemaah pada penyelenggaraan haji tahun ini melaju cukup kencang. Dalam sepekan terakhir, rata-rata jemaah yang wafat tiap harinya di atas 16 orang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved